Archive for Februari 24th, 2011

Diproteksi: ILMU GENDAM ASMORODONO PAMUNGKAS

24 Februari 2011

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

TAUHID SEJATI

24 Februari 2011

KETERANGAN BANGSA CHUKMI 4 PERKARA
1. Jalannya mati, 2. Hilangnya mati, 3. Selamanya mati, 4. Tempatnya mati.
4. Perkara tadi pembukaan ghaibnya dzat gusti, oleh karena itu sayangilah, setelahnya terima keterangan yang dibawah ini :
1. Jalannya Mati
Jalannya mati ialah Hidayatullah, maksudnya menunjukan keraton yang dirakit didalam tubuh manusia jadi dzatnya yang tidak pindah lagi.
2. Duduknya Mati
Duduknya mati itu petunjuk gusti yang selamat dari keadaan jati, artinya tahu kesempurnaannya.
3. Ketemu Mati/Selamanya Mati
Ketemu mati/selamanya mati ialah sabar, artinya pasrah segala-galanya kepada gusti = Iradatullah.
4. Tempatnya Mati
Tempatnya mati itu adanya didalam pekerjaan gusti, maksdunya ialah sempurnanya dzat yang mempunyai sifat esa, supaya diketahui keterangannya dibawah ini ;
1. Sahadat tidak pakai Iman
2. Takbir tidak pakai Tauhid
3. Syariat tidak pakai Ma’rifat
Sahadat tidak pakai iman nyatanya tunggal, Takbir tidak pakai Tauhid kenyataannya hilangnya tunggal, yang senang didalam dzatullah yang tunggal yang senang kepada sifatullah = yang sempurna sifatnya.
Ini menerangkan waktu roh mulai keluar ;
1. Mula-mula dari badan ; ialah dari telapak kaki pujinya Layakrujullah Ilallah.
2. Roh jalan lagi, berhenti di dengkul pujinya Illhuallah
3. Roh jalan lagi, berhenti di puser pujinya Lamujudwani Ilallah
4. Roh jalan lagi, berhenti di hati pujinya Yahuilallah
5. Roh jalan lagi, berhenti dilaki-lakian pujinya Yuwailallah
6. Roh jalan lagi, berhenti dimuka pujinya Hakilallah
7. Roh jalan lagi, berhenti dimata pujinya Nyawa sih badan sepi.
Adapun ghaibnya, kenyataannya ada 6 perkara :
1. Jaman geraknya jati rupanya hitam, jaman yang keluar dari badan kita pribadi.
2. Melihat warna merah, pekerjaan yang masih samar-samar
3. Melihat warna kuning, itupun masih remang-remang
4. Melihat warna putih, itu tandanya sudah kumpul, jadi keadaan jati yang tunggal gilang gemilang cahayanya, itulah tanda bayangan dari keadaan jati yang sempurna, yang terang tidak ada yang menghalanginya, tapi walaupun demikian belum sampai juga sebab masih jauh dari rasa gaib. Dari itu harus percaya kepada qudrat yang kuasa.
Tauhid maksudnya pasrah kepada kehendaknya, ma’rifat maksudnya tahu kepada ilmunya, islam maksudnya selamat dari ilmunya.

5. Melihat yang belum tahu pada warna. Sejati yang mulya tak ada batasnya.
6. Lengkap riwayatnya waliullah yang menerima anugerah yang maha suci, hanya sayang sebagian masih dirahasiakan oleh para wali-wali.
Artinya Nabi itu Nabat ( tumbuhan )
Muhammad itu Dzat (darah)

HARI YANG 7 DI DALAM ANGGOTA MANUSIA
No Hari Naptu Sifat Nabi Malaikat Istri hari
1. Minggu 5 Matahari Isa/Musa Isrofil Widaningsih
2. Senin 4 Kembang Ibrahim/Ahmad Isroil Sukasari
3. Selasa 3 Api Yusuf/Yunus Jaruman Ratna Ningsih
4. Rabu 7 Daun Ibrahim/Nuh Haruman Ratna Komala
5. Kamis 8 Mega Sulaiman Mukarobin Mayang Sari
6. Jum’at 6 Air Muhammad Jibril Ratna Ningrum
7. Sabtu 9 Bumi Adam Mikail Arum Sari

KETERANGAN 30 HURUF HIJAIYAH ; 3
No Nabat No Hewan No Manusia
1. Alif = Nama 11 Jai = Kulit 21 Kop = Kaki kanan
2. Ba = Bahan 12 Sin = Darah 22 Kap = Kaki kiri
3. Ta = Rambut 13 Syin = Daging 23 Lam = Berdirinya
4. Tsa = Kuping 14 Sod = Tangan 24 Mim = Jantung
5. Jim = Mata 15 Do = Tulang 25 Nun = Empedu
6. Ha = Hidung 16 To = Sumsum 26 Waw = Hati
7. Ho = Ucpan lidah 17 Dho = Lamat 27 Ha = Limpa
8. Dal = Lidah/urt bsar 18 Ain = Nafas 28 Lam alif = Mamaras
9. Zal = Laki-lakian 19 Gin = Usus 29 Hamza = Tegasnya
10. ro = Rasa 20 Pa = Ginjal 30 Ya = Manusia

KETERANGAN HAK 30 HURUF – 2 = 28 HURUF
Hak Tuhan Hak Malaikat Hak Nabi
Sa = Kuping Kap = Kaki kiri Ain = Nafas
Jim = Mata Lam = Berdirinya Gin = Usus/Peujit
Ha = Hidung Mim = Jantung Pa = Ginjal
Ho = Mulut Nun = Empedu Kop = Kaki kanan

Hak Bapak Hak Ibu Hak Kita Hak Saudara
Ta = Rambut Ro = Urat Ha = Limpa Dal = Lidah
Waw = Hati Jai = Kulit Lamalif = Mamaras Zal = Laki-lakian
To = Sumsum Sin = Darah Hamza = Wjdnya/tgsnya Sod = Tangan
Dho = Lamat Syin = Daging Ya = Manusia Dod = Tulang

HAK ANGGOTA YANG 7

1. Nabi Ibrahim = Nyawa = Wujud = Ada
2. Nabi Yusuf = Cahaya = Sifat = Rupa
3. Nabi Isa = Roh = Johia = Nyata
4. Nabi Muammad = Nur = Roh = Kedalam
5. Nabi Musa = Ceritaan = Nafas = Keluar
6. Nabi Daud = Suara = Hawa = Darah
7. Nabi Sulaiman = Kesaktian = Nafsu = Tulang

KETERANGAN ALLAH PADA HAKIKATNYA

۱ﻞ ﻞ ﻫ ﱠ

Hakikatnya
Alif = Allah ۱ = Jibril = Nafas
Lam = Ta’bil ﻞ = Mikail = Tanafas
Lam = Jalala ﻞ = Isrofil = Anfas
Ha = Adadah ﻫ = Isroil = Nufus
ώ Haruman, Jaruman, Mukarobin > Nafas Nafsiyah

BERDIRINYA MANUSIA SEMPURNA
Nitis – Nufus – Nusur – Langgeng
Nitis artinya matinya balik lagi rohnya ke anak cucunya
Nufus artinya matinya sudah janji akan nyusul ke anak
Nusur artinya cucunya (mati didalam hidup) awet hidupnya
Langgeng artinya hidupnya bisa gonta-ganti rupa
Allah itu ada berapa kalimah ? 4 hurup ke 5 tasjid, apa wujudnya Allah itu ? wujudnya nafas.
Inama sodokati lil fukaro wal masriki wabinis sabil.
Inama = pekerjaan. Sodokat = yang sungguh-sungguh
Lilfukaro = keluar dari pikiran sendiri
Wal masriki = yang betul harus dipikirkan.
Maka hal ini dapat kiranya betul-betul dihayati, bahwa sifat Allah itu ada pada manusia-manusia itu sendiri.

ARTINYA UCAP MANUSIA
Mim = Muhammad Ma = Maha Suci
Nun = Nukat Ghaib Nu = Nurullah dari Bapak
Sa = Rasul Si = Syirullah dari Ibu
Waw = Adam (jasad badan) Ya = Jadinya kita

KETERANGAN BANGSA PANGERAN DAN ABDINYA
No Bangsa Allah No Bangsa Pangeran No Bangsa Muhammad
1. Syir 1. Pangucap 1. Wujud
2. Budi 2. Pangambue 2. Ilmu
3. Cipta 3. Pangrungu 3. Nur
4. Rasa 4. Paninggal 4. Suhud

No Bangsa Rosul No Bangsa Adam No Bangsa Kaula
1. Nafas 1. Adam Sarpin = Roh kudus 1. Wadi = Bunder
2. Tanafas 2. Adam Syaraf = Roh rohani 2. Madi = Putihnya
3. Anfas 3. Adam Mungkin = Roh idofi 3. Mani = Hitamnya
4. Nufus 4. Adam Akal = Jasmani 4. Manikem = Anaknya

TITIPAN YANG ADA DI MANUSIA
Dari Allah = Syir, Budi, Cipta, Rasa
Dari Pangeran = Pengucapan, Penciuman, Pendengaran, Penglihatan
Dari Rosul = Mafas, Tanafas, Anfas, Nufus
Dari Bapak = Kulit, Tulang, Akal, Urat
Dari Ibu = Daging, Darah, Jeroan, Sumsum

SAUDARA 7 YANG BARENG LAHIR
1. Sang Pamuntas Jalan = Leluhur
2. Sang Banyu Kang Kawa = Air Ketuban
3. Sang Pasiliran Jati = Bungukusan Otak
4. Sang Tali Ari-Ari = Tali Ari-Ari
5. Sang Godebal Jati = Bali
6. Sang Kutu Watun = Darah
7. Sang Malaikat Ireng = Kalangkang (Bayangan)

ISLAM DI DALAM ISLAM
ROHUM BASIRUN QUDRAT ALLAH

Angin Syir Yg Menetukan Ikro

Lailahailallah Itu Ada 40 Akoid = 1 Seharusnya
Muhammadurasulallah Ada 9 Akoid
20 Wajibnya Ibu 9 Rosulnya Istri (Bini)
20 Mustahilnya Bapak 1 Seharusnya Anak

Jumlah 50 Akoid, Duliman 1 Seharusnya
Ibu = Ya Ilahi = Jibril
Bapak = Ya Robbi = Mikail
Kita = Ya Saidi Ya Maulana = Jaruman
Ibu Perempuan = Ya Allah = Isrofil
Ibu Lelaki = Ya Tuhanku = Isroil
Istri = Ya Robal = Mukarobin
Anak Kita = Arsil Ajina = Haruman

KETERANGAN ۱ب س ﻢ

Alif Sifatnya Wujud = Allah = Kita = Allah
Ba Sifatnya Basirum = Langit = Bapak = Bahan Kita
Sin Sifatnya Samiun = Air = Syir = Suci
Mim Sifatnya Mutakalimun = Bumi = Ibu = Maha Suci

Orang Nafsiyah Wujudnya Nafas
Orang Penglihatan Wujudnya Mata
Orang Pendengaran Wujudnya Kuping
Orang Ceritaan Wujudnya Mulut

ISLAM ADA 4 PERKARA

1. Syariat = Peraturan-Peraturan Bersumber Di Badan
2. Tarikat = Perbuatan Bersumber Di Hati
3. Kahikat = Kelakuan Bersumber Di Nyawa
4. Ma’rifat = Nyata Bersumber Di Rasa

Allah Yang Memberi Hidup
Muhammad Adalah Qadam/Roh
Rosul Adalah Hidup/Nafas
Adam Adalah Jisim (Badan)
Muhammad Yang Menanggung Wujud
Rosul Yang Menanggung Hidup
Alif Bismillah, Berkatnya Alif Bismillah, Alif Jadum Muhammad Jadum, Jadum Ilallah, Saran Kana Mimbaki Bakiyan Ilallah
ﺍ ﻠﻪ ﻫﺪ
40 Ideran = 11 – 7 Anggota 4 Anasir 42 Pal Nabi = 11 – 7 Hari
4 Madzhab (2 Antara 2) Timur, Barat, Selatan, Utara
4 Anasir = Air, Api, Angin, Bumi
Dibawah Bumi Di Atas Bumi
Bulan Air, Api, Angina, Tanah
Bintang Manusia, Hewan, Tumbuh-Tumbuhan
Matahari
7+5 =12 …..? 7=3 Hewan 1 Seharusnya 3 Bulan, Bintang, Matahari. 5 – 4 Huruf Kelima Tajwid.

30 Huruf 9 Roh Terjadinya Nafas Didalam Ideran Badan Kita Yang Masuk 7 Anggota Diantara Lelaki Dan Wanita.

KETERANGAN TAJWID

Islam Itu Harus Sholat Yang Tak Ada Hentinya.
Dalilnya Tajwid = Mukhalapatu Lilhawadisi.
Dalilnya Islam = Hayatun Bihayatin Daiman Abada
KETERANGAN BAHAN/WIJINING MANUSIA

1. Wadi = Rupanya Merah, Kejadiannya Darah Kita Pujinya Layakrifu Ilallah
2. Madi = Rupanya Hitam, Kejadiannya Air Kita Pujinya Lamakliuda Ilallah
3. Mani = Rupanya Putih, Kejadiannya Akal Pikiran Kita Pujinya Lahuyuda Ilallah
4. Manikem = Rupanya Kuning, Kejadiannya Cahaya Kita Pujinya Lamayuda Ilallah

KETERANGAN ANASIR MANUSIA
1. Asal Bumi = Rupanya Hitam, Kejadiannya Wujud Kita Hakikatnya Dzat Kita, Jadinya Kulit Daging. Pujinya Ashadu Ala Ilahailallah
2. Asal Api = Rupanya Merah, Kejadiannya Nur Sifat Kita Jadinya Urat Tulang. Pujinya Wa Ashadu Ana Muhammadaraulallah
3. Asal Angin = Rupanya Kuning, Kejadiannya Ilmu Kita, (Af’al Kita) Jadinya Akal Pikiran, Pujinya La Syarikalahu Lailahaila Ana
4. Asal Air = Rupanya Putih, Kejadiannya Suhud Kita Hakikatnya Asama Kita, Jadinya Darah Sumsum, Pujinya Sahidna Allampusihin Wa Sabit Indana Inahu Lailahailahua.

KETERANGAN ANASIR MUHAMMAD
1. Bumi Barba = Ratunya Bumi, Jadi Jisimnya Muhammad
2. Api Mur Kadim = Ratunya Api, Jadi Cahayanya Muhammad
3. Angin Abdul Somad = Ratunya Angin, Jadi Nyawanya Muhammad
4. Air Sarbantaburan = Ratunya Air, Jadi Hidupnya Muhammad

KETERANGAN ANASIR JADINYA SHOLAT
1. Asal Api = Syariat Jadi Berdirinya Sholat
2. Asal Angina = Tarekat Jadi Rukunya Sholat
3. Asal Air = Hakikat Jadi Sujudnya Sholat
4. Asal Bumi = Ma’rifat Jadi Lungguhnya Sholat

KETERANGAN SHOLAT
1. Sholat Wujud = Adanya Didalam Ening, Adanya Didalam Langgeng, Aku Dzatnya Langgeng.
2. Sholat Daim = Ada Rasa Dalam Polah, Ada Olah Dalam Olah, Aku Polahnya Allah
3. Sholat Mutlak = Akulah Akunya Allah
4. Sholat Tul Kusta = Sang Hitam Ada, Ada Dalam Rasanya Sang Ening Ada Dalam Rasa, Akulah Sejatinya Rasa
5. Sholat Jati Sebelim Ada Sholat = Sukma Sejatinya Badan Darahnya Hati Dan Jantungnya Hati, Air Rohnya Hati, Darahnya Maras Rupanya Jantung, Ada Pada Lengkungan (Lobang-Lobang) Tegak Di Tengah-Tengah Jantung Usholi Itu Hidup, Wujud Hidup Itu Sujud, Langgeng Pada Sukma Sejagat, Sungguh Eling Hidup Ta Kena Pati Allahu Akbar Waliyat Jati Sukmanya Kulit, Sejatinya Sukma, Kuliyat Jati, Daniyat Jati, Sukmanya Daging Likasan Jati, Sukmanya Sumsum, Putih Dari Si Bapak, Merah Dari Si Ibu, Adanya Allah Kudratullah, Rosulallah, Bismillahirrohmannirohiim Hidup Dzatullah Allahu Akbar, Aruku (Sujud) Pada Sukma Sejagat Langgeng Hidup Dzatullah, Sujud Ashadu Hidupku Dan Sukma Sealam Hidup Tak Kena Pati, Aku Yang Langgeng Diri Pakaiannya Sholat Hajad Seperti Aji (Ilmu)

KETERANGAN HATI YANG 4 PERKARA
1. Hati Sanubari = Wisesanya Rasa, Rupanya Hitam, Bagiannya Kaharullah, Tempatnya Di Alam Sulfil. Pujinya Allah-Allah Itu Sempurnannya Ucapan (Mulut)
2. Hati Makrowi = Purbanya Rasa, Rupanya Merah, Bagiannya Kamalullah, Tempetnya Dialam Sulbi, Pujinya Allah-Allah, Itu Sempurnanya Pamiarsa (Telinga)
3. Hati Sirri = Sempurnanya Rasa, Rupanya Kuning Bagiannya Jalaullah, Tempatnya Di Alam Tapek, Pujinya Hu-Hu Itu Sempurnanya Pangambue (Hidung)
4. Hati Fuad = Sirnanya Rasa, Rupanya Putih, Bagiannya Jamalullah, Tempatnya Di Alam Sabit, Pujinya Analhaqa 3x Itu Sempurnanya Paninggal (Mata)

KETERANGAN NAFSU YANG 4 PERKARA
1. Loamah (۱ ) Alif Adanya Di Mulut = Asmanya Hidup, Rupanya Didalam, Bagiannya Mulut, Tempatnya Di Kadut, Pujinya Yahu-Yahu, Sempurnanya Cipta Cipta.
2. Amarah ( ﻞ ) Lam Ta’bil, Adanya Di Kuping = Sifatnya Hidup, Rupanya Merah, Bagiannya Di Kuping, Tempatnya Jantung, Pujinya Ilahu-Ilahu, Sempurnanya Syir Dan Angan-Angan.
3. Supiah/Sawiyah ( ﻞ ) Lam Jalala, Adanya Di Mata = Af’alnya Hidup, Rupanya Putih, Bagiannya Dimata, Tempatnya Di Hamperu, Pujinya Imanahau-Imanahu, Sempurnanya Bergerak Dan Diam.
4. Mutmainah ( ﻫ) Ha Adalah,, Adanya Di Hidung = Dzatnya Hidup, Rupanya Kuning, Bagiannya Di Hidung, Tempatnya Pada Pepesuh, Pujinya Hu, Hu, Hu, Sempurnanya Budi Dan Rasa

KETERANGAN NAFAS YANG 4 PERKARA
1. Nafas = Talinya Hidup, Talinya Roh Rupanya Hitam, Bagiannya Af’alullah, Adanya Pada Ucapan (Mulut) Pujinya La Ilahailallah Sempurnanya Kulit Dan Daging
2. Tanafas = Pamiarsanya Roh Rupanya Kuning, Bagiannya Asmaullah Ada Pada Hidung, Pujinya Allahu-Allahu Itu Sempurnanya Tulang Dan Urat.
3. Anfas = Tempatnya Roh, Rupanya Merah, Bagiannya Sifatullah Ada Pada Punggung, Pujinya Allah-Allah, Itu Sempurnanya Darah Dan Sumsum.
4. Nufus = Penglihatan Roh, Rupanya Putih, Bagaiannya Dzatullah Ada Pada Awasnya Mata (Penglihatan), Pujinya Yahu-Yahu Itu Semprnanya Kekuatan Nafsu.
KETERANGAN AGAMA ISLAM

Agama Islam Terdiri Dari 4 Perkara
1. Syariat = Badan Bersumber Dari Otak, Imannya Hidayatullah, Yang Dilakukan Oleh Orang-Orang Syariat Wudhu Dengan Air, Batalnya Kalau Kentut, Sholatnya Maktuba, Lakunya Ruku, Sujud. Sempurnanya 4 Perkara
1. Senang Ujub Dan Takabur
2. Kalau Diundang Dapat Berkat
3. Menang Sendiri, Janjinya Tidak Tepat Dan Ujub Kalau Tamat Pengajiannya.
4. Takabur Kalau Melakukan Sholat 5 Waktu, Menetapkan Dirinya Tidak Ke Neraka Pasti Ke Syurga.
2. Tarekat = Hati Bersumber Dari Hidung, Imannya Sadrah Yg Dilakukan Wudhu Temen (Kesungguhan Hati), Batalnya Kalau Bohong, Sholatnya Daim, Lakunya Sopan Santun, Sempurnanya 14 Perkara :
1. Mengurangi Datangnya Penyakit
2. Mengurangi Tidur Dan Meleknya
3. Dengan Sungguh Berbaktinya
4. Dengan Tenang Pikirannya
5. Dimana Sja Ia Berbakti
6. Berbaktinya Ditempat Sepi Dan Tenang
7. Ditempat Yang Gelap Ia Berbakti
8. Permohonannya Menyerupai Rakyat Jelata
9. Malu Baktinya Ditengah-Tengah Pasar
10. Memalukan Baktinya Berdiri Ditengah-Tengah Pekarangan
11. Waktu Memberi Tidak Dengan Perhitungan
12. Harus Bersedih Dalam Pembicaraannya
13. Setelah Memberi Tidak Mengharapkan Imbalan
14. Sebelumnya Mempunyai Perasaan Sendiri.
3. Hakikat = Nyawa Bersumber Ditelinga, Imannya Maksum Yang Dilakukan, Wudhunya Eling (Ingat), Batalnya Kalau Lupa Sholatnya Tulkusta, Kelakuannya Tidak Sombong, Sempurnanya 5 Perkara.
1. Merdeka Dalam Badannya
2. Bersih Dalam Kalbunya
3. Suci Hatinya
4. Mulya Namanya
5. Sempurna Penglihatannya.
4. Ma’rifat = Rasa Bersumber Dimata, Imannya Yakin Wudhunya Tidak Melihat, Batalnya Kalau Melihat Sholatnya Dulkaji, Lakunya Tasdik, Sempurnanya 9 Perkara
1. Hilang Kalbunya
2. Kosong Sukmanya
3. Adanya Ditempat Yang Agung
4. Tak Ada Sembah Dan Pujinya
5. Iya-Iya, Tidak-Tidak
6. Bicaranya Dengan Kenyataan
7. Halus Tak Dapat Diambil
8. Bisa Masuk Walau Keureub
9. Digjaya Segala-Galanya, Bisa Masuk Tanpa Bolong.

KETERANGAN SAHADAT YANG 4

1. Syariat = Niatku Mengucapkan Dua Kaliamt Shadat Sekali Untuk Seumur Hidup
2. Tarekat = Niatku Mengucapkan Sahadt Panglawangan Pati Miyas Baginda Rosul Dari Otak, Otak Yang Menjadikan Adanya Pati, Menciptakan Mati Dan Hidup, Hidup Yang Tak Mati, Tetap Yang Tak Berubah.
3. Hakikat = Ashadu Ada Dia Ada Aku, Allahu Sifatku, Salallahu Tuhanku Menunjukan Jalan Terang, Hidup Tan Kena Pati, Eling Yang Tak Bisa Lupa, Mekrat Tan Kena Rusak, Dzat Ilang Pulang Ke Dzatullah, Lailahailallah Muammadarasulallah.
4. Ma’rifat = Asihku Asalku Dari Dzatullah, Du Itu Waktu Aku Diadu Celentang Dan Tengkurab Ibu Dan Bapak Ku, Bumi Dan Langit, Roh Masuk Kedalam Jisim (Badan) Baru Adanya Pangeran (Tuhan). Muhammad Yang Menanggung Dzat, Rosul Yang Menanggung Hidup, Ragaku Darmaku, Baik Buruknya Terserah Kepada Tuhan Dan Hatiku.

KUMPULAN SAHADAT

1. Sahadat Tauhid = Ashaduanla Ilahailallah, Wa Ashadu Lasyarikalahu
2. Sahadat Rosul = Wa Ashadu Ana Muhammadan Abduhu Warosuluhu
3. Sahadat Kita = Nawaitu Anukirro/Ukina Sahdataini Kalimat Taini Kumuro Murotaini Alaiya Watuni Muslimin.
4. Sahadat Anggota = Fikulli Walau Hakim Wanafsin Adadah Mawasi Ahu Bilahi Ta’ala Umani Ilallah.
5. Sahadat Fatimah = Cur Banyu Suci Mulia, Cai Suci Badan Sempurna, Hurip Langgeng Sejatining Langgeng, Putih Hurip Langgeng Badan Kalwan Nyawa Mur Suhud Dzat Lailahailallah Muammadarasulallah.
6. Sahadat Rasa = Ashadu Sahadat Rasa, Reumasa Kaula Tarima Suku Putu Nabi Adam, Umat Kanjeng Nabi Mumammad, Agama Nabi Ibrahim. Lailahailallah Muammadarasulallah.
7. Sahadat Syehk Abdul Qodir Jailani = Ya Hayu Ya Qoyum Ya Muzijat Karomah Safa’at Syehk Abdul Qodir Jaelani. Maha Abdi, Junjungan Abdi Kanjeng Gutsi Rosul Allah, Safa’atan Abdi Gusti, Ku Safa’at Gusti, Rosulihi 3x Ya Kutubihi 3x Ya Robani 3x Anbia 3x Kul Malikul Kudus Ala Kulli Syai’in Qodir. La Haula Wala Kuwata Ila Bilahil Aliyil Adzim.
8. Sahadat Sejati = Sahadat Sejati, Sejatining Shadat Los Digelarkeun Sa’alam Dunia, Adat Pada Mawa Sorangan-Soangan, Sahadat Sejati Boga Beurang Makam Sejati, Keluar Ti Makam Sejati, Aya Manusia Nu Sejati, Hirup Sejati Asupka Manusia Sejati, Sejatining Manusia Sejati Sejatining Manusia, Ana Boga Imah Di Babawa, Boga Batur Allah Pangeran.

9. Sahadat Japura = Ashadu Ana Siji Allah Ila Ana Loro Sadat Japura Tunggal Negara, Allah Kang Ngewarasakeun, Pangeran Kang Ngewarasakeun, Roh Kang Ngewarasana, Lailahailallah Muammadarasulallah.
10. Sahadat Sunda = Ratu Sunda Saking Gunung Kudratullah Nyi Baguse Sawung Galing Komala Satra, Panembahan Madurasa, Ratu Weruh Kang Ora Tanana Guru Ratu Sejagad Buana.
11. Sahadat Galuh = Ingsun Ratu Galuh Taji Malela, Sri Putih Den Jol Jani Ratu Nokat.
Syehk Lanang Sunan Jati Pangeran Kali Jaga
Syehk Lanang Sunan Jati Pangeran Karang Kendal
Syehk Lanang Sunan Jati Pangeran Purawana
Geura Paesan Japura Nyi Mas Pamuragan Aya Baya 3x.
12. Sahadat Cirebon = Ashadu Sahadat Santal Geriming Bumi Gelung Pasang Tunggal Anak-Anak Nabi Allah Sucining Di Sawarga, Panutup Pangancing Rasa Ka Rosul, Rasa Kabadan………. Sukma Langgeng Sukma Pancer, Sukma Pancer Gunung Jati Sukma Rohing Nyawa, Sukma Sejatining Hurip Sukma Nu Medal Rat Sajagad Kabeh, Rong Ing Gogodongan Nu Metu Jadina Beurang, Nu Nyata Jadina Peuting, Rat Langgeng Salawase.

PECAHAN SAHADAT
Sa’adatnya Yang Diminum Itu Minuman
Sah’ Adatnya Minum Harus Kemulutkan
Saha’ Datnya Yang Membikin…………..

1. Dari Rohman Qodrat Jadi Anggota
2. Dari Rohim Qodrat Jadi Kekuasaan
3. Dari Rohman Irodat Jadi Jantung
4. Dari Rohim Irodat Jadi Kemauan
5. Dari Rohman Ilmu Jadi Otak
6. Dari Rohim Ilmu Jadi Elingan
7. Dari Rohman Hayat Jadi Nafas
8. Dari Rohim Hayat Jadi Hidup
9. Wahdiyat = Tunggal
Sahnya Wujud = Ada
Nur = Tahu Nurcahya = Menyaksikan

PERABOT UNTUK MENGERJAKANNYA
1. Dzat Dan Adatmu Yang asal dari qudrat yang maha suci
2. kendakmu yang asal dari irodat yang maha suci
3. pengetahuanmu yang asal dari ilmu yang maha suci
4. hidupmu yang asal dari hayat yang maha suci
5. dengarmu yang asal dari sama yang maha suci
6. penglihatanmu yang asal dari basar yang maha suci
7. ucapanmu yang asal dari kalam yang maha suci

YANG HARUS DIJALANKAN
Menjalankan 20 Sifat yang baik
Menuruti 20 sifat yang maha suci
Menjauhi 20 sifat yang tidak wajib dalam ketuhanan
Api rasa panas yang sudah berwujud
Air rasa dingin yang sudah berwujud
Angin rasa sejuk yang sudah berwujud
Bumi rasa tetap yang sudah berwujud

Maka wujudnya rasa panas itu dzatnya api, merah itu sifatnya, namanya apa saja itu asmanya, yang mengetahui itu af’alnya.
Begitupun wujudnya rasa dingin itu dzatnya air, putih itu sifatnya, namanya apa saja itu asma, yang mengetahui itu af’alnya. Dst……
Rasa-rasa tadi yang diterangkan semua asal dari Rasulallah
Kalau Dzatnya Tuhan ialah wujudnya Rasulallah
Kalau Sifatnya Tuhan ialah Rohman Rohim
Kalau Asmanya Tuhan ialah apa saja menyebutnya
Kalau Af’alnya Tuhan ialah sempurna mengerjakannya
Jangan lupa kepada Tuhan (wujud) = ada
Harus malu kepada kekuasaannya (Qodrat)
Punya rasa kepada kehendaknya (Iradat)
Merasa setelah tahu (Ilmu)

CAHAYA YANG 4 (EMPAT)
Merah = Kuping-bayang = amarah
Bertuhan kepada rohaniah (gorah)
Kuning = Jantung = nafas
Bertuhan kepada nafas (mutmainah)
Putih = Hati = mata = sawiyah/sufiah
Bertuhan kepada syir dari ibu bapak didalam syir
Hitam = Empedu = mulut = loamah/lawwamah
Bertuhan kepada aku (ya Allah ya aku)

Yang adatnya panas, yang sifatnya merah, api = amarah
Yang adatnya sejuk, yang sifatnya kuning, angin = mutmainah
Yang adatnya dingin, yang sifatnya putih, air = sawiyah
Yang adatnya tete, yang sifatnya hitam, bumi = loamah

Amarah = Kehewanan Api asal dari matahari, acinya api jadi daging
Loamah = Keduniaan Air asar dari laut, acinya air jadi tulang
Sawiyah = Kerobanaan Tanah asal dari bumi, acinya tanah jadi seisi badan
Mutmainah = Ketuhanan Nafas asal dari angin, acinya angin jadi kulit

Hukum saranya sudah punya segolongan-segolngannya
Hukum adatnya sudah punya seadat-adatnya
Hukum akalnya sudah punya seakal-akalnya
Hukum Allahnya yang tetap pada pendiriannya yang maha suci
Syariatnya badan dari ibu, tarekatnya adat dari bapak, hakekatnya pengetahuan dari guru, ma’rifatnya kita dari tuhan.

Cirebon Girang, 12 Mei 1917
Warisan Dari Embah Buyut Sutawijaya
Diwariskan Kepada Bapak Kartasoendjaya Dan Disalin Oleh Anda Sembad

WALI SONGO

24 Februari 2011


“Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.

Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.

Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.

Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha

AMALAN GURU SEJATI

24 Februari 2011

Amalan ini juga disebut BEGALAN GEDE, sebab saat akan pulang ke Rahmatullah, yang dinamakan “Makdum Sarpin” atau banyak disebut sedulur/saudara manusia tidak mau ketinggalan. Harus ikut pulang ke alam kelanggengan juga. Sehingga dengan mengamalkan ini maka jalan kematian akan mudah dan kehidupan setelah alam kematian akan semakin terang. Amalan ini oleh sebab itu juga untuk menjawab apa dan bagaimana sebenarnya rupa guru sejati atau RUH kita sendiri. Manfaat lain amalan ini: APA SAJA YANG KITA INGINKAN AKAN TERKABUL. Misalnya, kita ingin menghilang. Atau kita bisa mecah raga seperti dasamuka yang memiliki banyak badan wadag dalam waktu yang bersamaan.
Lakunya puasa mutih tujuh hari, (berbuka dengan hanya memakan nasi putih dan air putih), selanjutnya pati geni (tidak menyalakan api dan tidak melihat api, kita bertapa di dalam kamar atau gua yang gelap) dan tidak tidur semalaman. Mantra dibaca saat sore hari dan saat pagi hari. Mantranya sebagai berikut:
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMI SANG GURU PUTIH NU HERANG NU LENGGANG MUGA KATONA SANG RUPA MAYA PUTIH.

KUN DZAT KUN AJA ANGALINGI IN DZAT, SUKSMA ATAPA SAJRONING WEWAYANGAN, RAHSA SUKSMA ANGEMBAN WEWAYANGAN, SIRA METUWA INGSUN AREP WERUH SEJATINING URIP.

Ini mantra untuk mengeluarkan guru sejati (ruh) yang merupakan bayangan manusia.

SANG REKA MAYA RUPA MAYA ASIH

Ini mantra menyayangi guru sejati

BUR CAHYA RUPA CAHYA RUPA SAPALINGGIHANING CAHYA BUR DZAT SANG KALETER PUTIH, DZAT SA DZAT LES

RUPA CAHYA SANG NGINDEL PUTIH MULYA KANG LANGGENG CAHYA SAMPURNA, IYA INGSUN SAJATINING TAJALLULLAH KANG LUWIH SAMPURNA, SAH DZAT SAH SIFATE SADEGE SALINGGIHE SAOSIKI, HU WA IYA ALLAH

SI WELLADA ANAKE TAN ANA NDELENG SIRIK, DHEWEK HAHAK LANGAK YA AKI KASUMARAN

BISMILLAHIRRAHMANIRROHIM, BUR CAHYA RUPA CAHYA SAPALUNGGUHANING CAHYA SANG PELATUK PUTIH BUR DZAT LAR DZAT LES HU

BUR TAN ANA PUTIH DZAT SUCINE LAGI ANA ING SUCI, BUR PUTIH NU GUMETER PUTIH BALA PUTIH IDER PUTIH LES PUTIH

SUKSMA MULYA CAHYA PUTIH ALINGANA INGSUN, YA INGSUN REKSANEN KANG ABECIK, SIRA ANGREKSA INGSUN

SUKSMA MULYA CENGENG ALINGANA INGSUN, REREKSANIRA DEN ABECIK, SIRA NGREKSA INGSUN MAKDUM SARPIN, ALINGANA INGSUN, INGSUN REREKSANIRA, DEN ABECIK SIRA ANGREKSA INGSUN.

AKU SEJATI

24 Februari 2011

Tuhan mengingatkan bahwa sebelum mengenal Dia (Tuhan) maka manusia diminta untuk memahami “Aku” nya sendiri sebagai sarana atau jalan untuk menuju pengenalan AKU-TUHAN? Itu karena dalam “Aku” termuat rahasia AKU-NYA.

Pembahasan tentang pengenalan diri ini adalah kunci jalan spiritual. Sehingga menyelami kesadaran diri yang sebenarnya, dan mengenali hakikat ruh yang biasa menyebut dirinya “Aku” adalah cukup penting dan menjadi bangunan suci ibadah hidup manusia. Saya tidak akan lagi bicara soal dalil-dalil. Ibaratnya kita melakukan shalat, kita tidak lagi butuh dalil, akan tetapi kita tinggal memasuki keadaan shalat yang sebenarnya. Diskusi kita sudah selesai dalam hal hukum-hukum kebenaran Tuhan.

Perenungan tentang hakikat ruh ini mau tidak mau membawa kita pada khasanah filsafat manusia. Namun tidak perlu kita masuki terlalu dalam wacana filsafat apa hakekat manusia sesungguhnya. Yang jelas, bahwa manusia adalah makhluk sempurna yang telah diberi mandat untuk menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Selain unsur biologis fisik yang sangat kompleks mulai dari kaki hingga otak, susunan dalam mental dan kerohaniannya terdapat sifat yang tertinggi meskipun masih terdapat daya kemauan yaitu KEKUATAN SANG “AKU”, yang merupakan KEKUATAN yang diterima dari Yang Maha Mutlak.

Tubuh biologis dan mental keinginan nafsu adalah milik manusia. Namun bukan manusia itu sendiri. Sebelum manusia (“Aku”) dapat menguasai atau mengalahkan atau mengarahkan benda yang menjadi miliknya terlebih dahulu ia harus menyadari dirinya secara benar. Ia harus dapat membedakan mana yang merupakan Aku dan mana yang merupakan milik Aku, dapat membedakan mana yang Aku dan mana yang bukan Aku.

Yang harus disadari: SANG AKU BERSIFAT ABADI – TIDAK BISA MATI -TIDAK BISA RUSAK. AKU MEMILIKI KEKUASAAN, KEBIJAKSANAAN DAN KENYATAAN. AKU INILAH YANG AKAN KEMBALI POSISI ASALNYA: SESUNGGUHNYA AKU ADALAH BERASAL DARI ALLAH DAN KEPADA-NYA-LAH AKU KEMBALI….

Orang modern yang sejak lahir hingga dewasa selalu hidup dan mengarahkan dirinya dalam kesemestaan benda-benda material beranggapan bahwa rasa keakuan mereka hanya merupakan kesadaran mengenai nafsu badani pemenuhan keinginan, pemuasan kesenangan, memperoleh kenyamanan bagi dirinya. Bagian bawah dari batin naluri merupakan tempat rasa keakuan orang-orang primitif. Bila seorang primitif mengatakan “Aku”, maka yang dimaksud adalah badannya. Badan ini mempunyai perasaan, keinginan dan nafsu. Mereka menggunakan daya pikirnya guna memenuhi nafsu dan keinginan fisiknya, padahal mereka sebenarnya hidup dalam tingkat batin naluri.

Setelah menyadari ketololannya dan beranjak tua, manusia harusnya semakin tinggi pendakian spiritualnya. Mulailah ia mempunyai konsep tentang Aku nya yang lebih lengkap. Bila ia mulai menggunakan akalnya, maka ia pindah dari tingkat batin naluri ke tingkat batin mental. Ia mulai merasakan bahwa batinnya adalah lebih nyata bagi dirinya dari pada badannya, bahkan kadang ia melupakan badannya bila sedang terbenam dalam pemikiran secara serius.

Setelah kesadaran orang meningkat yaitu kesadarannya berpindah dari tingkat mental ke tingkat kerohanian ia menyadari bahwa “Aku” yang sebenarnya adalah sesuatu yang lebih tinggi dari pada pikiran, perasaan dan badan fisiknya, bahwa semuanya ini dapat digunakan sebagai alat saja. Hingga akhirnya orang benar-benar merasakan sebagai Aku yang sebenarnya (AKU SEJATI).

Berikut cara mengembangkan atau membangkitkan kesadaran Aku yang fitrah. Ini merupakan latihan yang harus disadari, sebab kita tidak akan bisa melakukan pendekatan kepada Allah kalau tidak menyadari hakekat diri yang hakiki. Kesadaran “Aku” ini merupakan langkah pertama pada jalan menuju mendapatkan PENCERAHAN yang merupakan realisasi hubungan Aku dengan Yang Maha Agung.

Monggo praktekkan latihan ini di berbagai tahapan perjalanan sampai memperoleh penerangan jiwa.

MENEMUKAN AKU SEJATI
Carilah tempat atau ruangan, yang terbebas dari gangguan, agar batin anda merasa aman dan tenang. Anda boleh duduk, berbaring, maupun berdiri yang enak agar anda dapat mengendorkan otot-otot dan membebaskan ketegangan syaraf. Lepaskan ketegangan dan biarkan otot-otot menjadi lemas, sampai terasa tenang dan damai meresapi seluruh tubuh. Istirahatkan badan dan pasrahkan seluruh jiwa raga. Atau lakukanlah dengan posisi berdiri, hal ini dilakukan untuk menghindari mudah terlena dan tertidur …

Setelah berpengalaman hendaknya mampu melakukan pengendoran badan dan menenangkan pikiran dimana pun dan kapanpun anda memerlukannya. Ingat bahwa keadaan dzikir harus berada di bawah penguasaan kemauan yang keras. Di dalam melakukan praktek dzikir harus diterapkan pada waktu yang tepat dan atas kemauan sendiri. SADARI BAHWA AKU ADALAH HAKIKI NYA MANUSIA YANG TIDAK PERNAH TIDUR – TIDAK MATI – ABADI, …SELALU SADAR TIDAK PERNAH MENGALAMI SEDIH DAN TAKUT … AKU SANG ROH SUCI (FITRAH) YANG MAMPU MENEMBUS ALAM MIMPI, ALAM MALAKUT DAN ALAM ULUHIYAH…

Sekarang anda memasuki tahapan yang menyebabkan Aku merasa sebagai makhluk mental. Kalau anda memejamkan mata anda akan merasakan dan bisa membedakan mana Aku yang sebenarnya … disitu ada aku yang memperhatikan sensasi badan, seperti misalnya : lapar, haus, sakit, sensasi yang menyenangkan, kesedihan. Anda akan merasakan ternyata bukan aku sebenarnya yang lapar, sakit dan sedih, akan tetapi itu adalah sensasi badan yang dimiliki oleh sang Aku. Aku sejati mengatasi semua itu tadi…

MUlai sekarang, melepaskan diri dari yang bukan hakiki, agar tidak diombang-ambingkan oleh tubuh anda sendiri. Sadari AKU ADALAH YANG MENGUASAI PERASAAN DAN PIKIRAN, JADILAH TUAN ATAS DIRI ANDA … keluarlah anda seperti melepaskan baju, lalu tinggalkan dan jangan anda memikirkan semuanya itu. Karena badan anda mempunyai batin naluri yang akan bergerak menurut fungsinya. Perhatikan saat anda tidur … Aku anda meninggalkan tubuh anda tanpa harus memikirkan bagaimana nantinya badanku, kenyataannya tubuh bekerja menurut yang dikehendaki oleh nalurinya sendiri.

SADARKAN SANG AKU. HUBUNGKAN DENGAN DZAT YANG MAHA MUTLAK …HADIRLAH DIHADAPAN-NYA SEBAGAIMANA KESAKSIAN AKU DIALAM `AZALI…PANGGILLAH …PENUH SANTUN YA ALLAH … YA ALLAH … TUNDUKKAN JIWA ANDA DENGAN HORMAT … DAN DATANGLAH KEHADIRAT-NYA DENGAN TERUS MEMANGGIL YA ALLAH …YA ALLAH … TIMBULKAN RASA CINTA YANG DALAM …HADIRLAH TERUS DALAM DZIKIR … BIARKAN SENSASI PIKIRAN DAN PERASAAN MELAYANG-LAYANG …SADARKAN DAN KEMBALIKAN BAHWA AKU BUKAN ITU SEMUA … AKU ADALAH YANG MENYAKSIKAN SEMUANYA … BERSAKSILAH DENGAN MENGUCAPKAN DUA KALIMAT SYAHADAT … SAMPAIKAN DO’A SALAWAT UNTUK RASULULLAH .DAN KELUARGANYA. TERUSKAN AKU MELAYANG MENEMBUS SEMUA ALAM-ALAM YANG MENGHALANGI, BIARKAN AKU BERJALAN MENUJU YANG MAHA TAK TERHINGGA …

ILMU SEJATI

24 Februari 2011

Ilmu sejati menerangkan bahwa manusia benar-benar abadi tidak bisa mati, kebal segala macam bahaya apapun dan bahagia tidak pernah duka, kaya tidak pernah miskin. Ilmu sejati adalah ilmu mengenali diri sejati. Inilah kunci ilmu kesaktian yang sesungguhnya.

Falsafah hidup yang ideal tidak hanya menjadi pedoman hidup di dunia fisik ini saja, melainkan harus masuk ke kehidupan yang sejati yang metafisik. Bila diminta memilih dunia: fisik atau metafisik, maka jatuhkan pilihan pada yang terakhir saja. Sebab dunia fisik akan lenyap seiring dengan dimasukkannya jasad ke dalam kubur, sementara dunia metafisik kita akan langgeng abadi sepanjang masa.

Tujuan hidup manusia adalah mengisi hidup dengan diri yang sejati. Dunia adalah persinggahan sementara diri sejati sebelum menempuh perjalanan-perjalanan lain yang sangat panjang. Sayangnya, di persinggahannya yang sementara ini kebanyakan justeru diisi oleh diri-diri palsu. Maka hidup di dunia yang menekankan pada diri-diri palsu, harus bersiaplah untuk terseok dan tersungkur kapan saja.

Pada diri yang palsu, keakuan atau ego SANGAT DOMINAN dalam mengambil keputusan-keputusan. Saat kita dihadapkan pada pilihan, memilih isteri yang cantik atau memilih isteri yang moralnya baik, maka kita langsung menjatuhkan pilihan pada isteri cantik. Saat kita dihadapkan pada pilihan mengambil uang negara (korupsi) sehingga cepat kaya atau hidup miskin namun tenang, kita langsung menjatuhkan pilihan pada jadi koruptor. Kita saat itu sadar, resiko jadi koruptor adalah masuk penjara. Namun kesadaran kita hanya mucul dari lapisan jiwa terluar saja. Belum muncul dari lapisan jiwa yang terdalam dimana DIRI SEJATI berada.

Keputusan yang muncul akibat tidak mendengarkan suara diri sejati yang tergencet oleh akal sehat dan nafsu ego, adalah penyesalan. Kenapa menyesal? Sebab akibatnya fatal. Seluruh wujud kita akan mengalami akibat yang mengerikan. Akibat fatal ini bagi setiap orang berbeda-beda tergantung pada peristiwa apa diri palsu itu mendominasi kita.

Pada suatu ketika, kita dihadapkan pada pilihan menyalip atau tidak ketika ada truk gandeng melaju perlahan sehingga menghalangi laju kendaraan kita. Pikiran sadar mengatakan JANGAN, karena berbahaya menyalip. Apalagi jalur kendaraan hanya ada dua. Namun, nafsu ego mengatakan TERUSKAN menyalip agar cepat sampai tujuan. Pilihan akhirnya dijatuhkan dengan cepat oleh gerakan refleks bawah sadar…. brakkkkk…. kendaraan kita dihantam kendaraan lain dari jalur berlawanan.

Menuruti diri palsu ego kadang memuaskan (untuk sementara waktu), namun kepuasan itu sifatnya hanya sementara. Akan lahir berkembang keinginan demi keinginan lain yang harus dipuaskan. Itulah watak diri palsu: senang sesaat, tidak pernah puas… Memuaskan keinginan nafsu ego, maka perkembangan spiritual dan mental berada pada posisi stagnan, mandeg. Bahkan mengalami kemunduran.

Hal ini berbeda ketika kita banyak menuruti DIRI SEJATI. Diri yang sejati akan membuat perkembangan spiritual kita bergerak aktif dan dinamis. Bila ulat mampu bermetamorfisis menjadi kupu yang indah, maka diri sejati akan bermetamorfosis menjadi diri yang MOKSA. Diri yang manunggal dengan iradat-Nya. Duh, alangkah indahnya manusia yang sampai pada tahap ini?….

Kita perlu sadar bahwa di dalam terkadang pilihan alternatif yang tersedia tidak banyak. Mungkin ada dua, tiga, lima. Mungkin pula kadang hanya ada satu bahkan tidak ada alternatif sama sekali. Perlu dipahami, bahwa sesungguhnya ada tidaknya alternatif itu tergantung pada sumber mana yang kita akses: diri palsu ego atau diri sejati? Pada diri palsu ego, alternatifnya hanya sekedar apa yang teralami dengan indera saja. Kenikmatan, kesuksesan, kejayaan jasad/fisik adalah hukum alam dari hasil akhir proses menuruti diri palsu.

Belajar dari sejarah kepemimpinan, tidak ada satupun pemimpin sebuah komunitas bangsa yang lahir dari diri palsu akan mampu bertahan abadi melintasi jaman. Kejayaan dan kelanggengan nilai-nilai yang ditebar pemimpin bobrok akan membawa kehancuran dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. Baca riwayat Hitler, bagaimana sang diktator ini harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri secara tragis. Dan contoh-contoh lain yang lebih mengerikan lagi.

Pada suatu ketika, manusia akan mengalami penyesalan. Kenapa menyesal? Penyesalan adalah pemberontakan dari diri sejati yang sudah begitu lama dikubur dan dimatikan. Namun, ia tidak benar-benar bisa tewas. Diri sejati akan tetap hidup. Ia menyuarakan kehendak untuk kembali ke jalan yang benar. Tidak sesat dan sasar. Sayangnya, di dalam hidup kita lebih suka mendustai bahkan menolak hadirnya suara dari dalam diri sejati.

DIRI SEJATI bisa dirasakan pada TITIK PALING HENING MEDITASI, SEMEDHI, MALADIHENING. Pada DIRI SEJATI munculnya KESAKTIAN merupakan hal yang sangat biasa. SEGALA DIMENSI GAIB DAN METAFISIK TERBUKA TERANG BENDERANG.

Namun, pada hakikatnya diri sejati tidak boleh hanya dirasakan da disadari belaka. Sebalinya, jadikan seluruh kemanusiaan kita ini dengan totalitas DIRI SEJATI YANG MENYINARI BERPERILAKU SEPANJANG HIDUP MANUSIA. Yaitu bila perjalanan (tarekat) mengolah rasa sudah sampai ke pendakian tertinggi perjalanan spiritual. Mencapai makrifat yang merupakan wujud diri sejati inilah yang harusnya menjadi tujuan hidup kita.

Salah satu ajaran mistik Jawa yang membabar soal menjadi diri sejati terkandung dalam serat Dewaruci. Serat Dewaruci merupakan karya sastra suluk yang secara keseluruhan bernilai mistis. Nilai-nilai yang termuat dalam alur cerita Sang Bima mencari diri sejati disimbolkan dengan pencarian “Air Perwitasari.” oleh Bima. Yaitu air yang membuat abadi bagi peminumnya.

Serat ini menceriterakan upaya bagaimana manusia dalam kehidupannya dapat mencapai diri sejati. Yitu diri yang mampu menciptakan keasrian, ketentraman dan kelestarian dunia. Salah satu moralitas ajarannya yaitu memayu hayuning bawana dan memayu hayuningrat. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti: sifat pengasih akan meleburkan segala kejahatan.

Serat Dewa Ruci membeberkan konsep ngelmu “MANUNGGALING KAWULA GUSTI, PAMORING KAWULA GUSTI, JUMBUHING KAWULA GUSTI, WARANGKA MANJING CURIGA CURIGA MANJING WARANGKA.” Yaitu diri sejato yang tidak lagi mengalami suka duka. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain.

Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubungi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana. Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan

Bima telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.

Wujud diri sejati meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan pendengaran-Nya.  Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu.

Setelah manunggal dengan Gusti, dia tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Itulah surga.

Pada tahap ini, apa yang diniatkan diri sejati akan terwujud. KUN FAYAKUN. Bahkan, hukum alam taklum dalam hukum Ilahi. Keajaiban itu terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi.

Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal.

Setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna antara diri sejati dengan SANG DIRI SEJATI karena mendapatkan wejangan Dewaruci, hatinya terang seperti kuncup bunga yang mekar. Dewaruci kemudian muksa. Bima kembali kepada alam dunia semula.. Sebab, bagaimana pun kita masih manusia yang punya jasad/ tubuh. Nafsu jasad/kebutuhan biologis tidak dihilangkan namun dimenej dengan sebaik-baiknya untuk dituntun dengan diri sejati. @@@

ILMU SEJATI MENURUT SYEKH SITI JENAR

24 Februari 2011

“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

— “Serat Siti Jenar”

Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.

SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.