Archive for Maret, 2011

MENGENAL TUHAN MELALUI GURU

4 Maret 2011

Ada banyak cerita tentang Tuhan dan Guru di dalam dongeng-dongeng dalam sebuah masyarakat di belahan bumi nusantara ini. Misalkan saja dongeng ala rakyat India yang dinyanyikan dalam syair lagu, yang terjemahannya kira-kira seperti ini : “ Jika Tuhan muncul di depan saya dan Guru juga muncul di hadapan saya, kepada siapa saya harus membungkukkan badan..? Tentu saja saya akan membungkuk kepada Guru saya terlebih dulu. Tuhan tidak mempedulikan saya saat saya melewati lingkaran hidup dan mati ini. Tuhan telah melemparkan saya kedalam lautan penderitaan, tetapi Gurulah yang mengangkat saya keluar dari lautan itu. Dia menyelamatkan jiwa saya dan menuntun saya melewati badai kehidupan ini. Maka saya menyembah Guru saya.”

Hmmm…hmmm… Memang rasa-rasanya ada benarnya juga yah…??, tanpa sang Guru bagaimana kita dapat mengenal Tuhan…? Bagaimana kita dapat tahu bahwa Tuhan ada di dalam diri kita, bahwa kita dapat memanfaatkan kekuatan Tuhan ini untuk menyelamatkan diri kita sendiri, menyelamatkan hidup dan energi kita, menyelamatkan keluarga dan teman-teman kita, dan memanfaatkan keberadaan kita? Hanya sang Guru yang dapat menunjukkan cara untuk melakukan hal ini berdasarkan jatuh bangun MUJAHADAH dan pergulatan Spiritual yang dijalaninya.

Benarkah hal ini…?? Lalu siapakah HAKEKATnya yang dimaksud dengan sang GURU ini…??.

Saya tahu dari pengalaman saya sendiri bahwa indah rasanya mengenal Tuhan yang ada di dalam DIRI. Dan itulah barangkali yang sering disebut-sebut oleh para orang Tua -tua jaman dulu dinamakan Guru batin ( Guru SEJATI ) dan kekuatan Tuhan yang ada di dalam DIRI sesungguhnya adalah hal yang sama. Mungkinkah ini juga yang dimaksud oleh sebuah Hadis ” Kenalilah DIRIMU, maka Engkau akan mengenal TUHAN-mu “. Apa bila engkau ingin mengetahui Tuhan-mu, maka keluarlah DIRIMU dari dalam DIRIMU …halah…halah…opo meneh maksudne iki..

Tuhan adalah Cahaya yang lebih cemerlang daripada beribu-ribu matahari yang disatukan. Bukankah begitu yang telah dialami Musa di Lembah Suci Thuwa..?? Tuhan adalah melodi yang mengisi jiwa kita dengan segala kebahagiaan dan kepuasan, tak peduli dimana pun kita berada, tak peduli ras atau kebangsaan apa, tak peduli kita berasal dari latar belakang atau agama apa yang kita anut. Dan jika kita ingin menyentuh Tuhan sebagai salah satu di antara kita, Dia bahkan mewujudkan diri-Nya dan BERTAJALI di antara kita memenuhi dan meliputi Alam Semesta ini; misalnya, Musa, Isa, Muhammad, Buddha, para Guru Sikh, atau Guru-guru Krishna dll yang hadir pada jaman di masanya sebagai Manusia SPIRITUAL yang memberikan PETUNJUK, PENCERAHAN kepada jalan yang lurus, jalan yang penuh KEBAIKAN dan KEBAJIKAN bagi manusia-manusia di Jamannya. Sepertinya semua ini adalah perwujudan daripada ” AF’AL ( Pebuatan ) Tuhan ” secara individual, perorangan untuk memberikan PENCERAHAN yang sudah semestinya perlu dan patut untuk kita kasihi, kita lihat, kita sentuh dan kita percayai serta perlunya untuk kita teladani.

Lagi pula, kita masih dapat menghubungi para Guru ini ketika kita menaikkan kesadaran kita ke dimensi BATINIAH mereka yang lebih tinggi daripada kesadaran JASMANIAH di planet ini. Dan hal ini sedang terjadi sekarang, bukannya seribu tahun yang lalu…! Karena kabar baiknya adalah kita telah menyatu di dalam sistem ini, kita manunggal dengan Sifat Ketuhanan ini, kita menyatu dengan segala yang dapat kita lihat atau impikan atau bayangkan. Itulah kita…!!

ALAM SEMESTA ADALAH GURU BIJAK

4 Maret 2011

Tatkala seorang preman pasar adalah Semprul namanya, mendekati akhir masa hidupnya, seseorang bertanya kepadanya, ” Semprul, siapakah gurumu?”
Dia menjawab, “Aku memiliki banyak guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu.

Pertama adalah seorang pencuri.
Suatu saat aku tersesat di gurun pasir, dan ketika aku tiba di suatu desa, karena larut malam maka semua tempat telah tutup. Tetapi akhirnya aku menemukan seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah. Aku bertanya kepadanya dimana aku bisa menginap dan dia berkata “Adalah sulit untuk mencarinya pada larut malam seperti ini, tetapi engkau bisa menginap bersamaku, jika engkau bisa menginap bersama seorang pencuri.”
Sungguh menakjubkan pemuda ini. Aku menetap bersamanya selama satu bulan! Dan setiap malam ia akan berkata kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja. Engkau beristirahatlah dan berdoa.” Ketika dia telah kembali aku bertanya “apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab, “Tidak malam ini. Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan berkehendak.” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia.
Ketika aku berkhalwat (mengasingkan diri) selama bertahun-tahun dan di akhir waktu tidak terjadi apapun, begitu banyak masa dimana aku begitu putus asa, begitu patah semangat, hingga akhirnya aku berniat untuk menghentikan semua omong kosong ini. Dan tiba-tiba aku teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari. “Jika Tuhan berkehendak, besok akan terjadi.”

Guruku yang kedua adalah seekor anjing.
Tatkala aku pergi ke sungai karena haus, seekor anjing mendekatiku dan ia juga kehausan. Pada saat ia melihat ke airnya dan ia melihat ada ajing lainnya disana “bayangannya sendiri”, dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari menjauh. Tetapi karena begitu haus ia kembali lagi. Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya, ia langsung melompat ke airnya, dan hilanglah bayangannya. Dan pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang dari Tuhan: ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya dan bayangan rasa takutmu akan hilang.

Guruku yang ketiga adalah seorang anak kecil.

Tatkala aku memasuki sebuah kota dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala. Dia sedang menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana.
“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya, “Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?” Dia menjawab, “Ya tuan.” Kemudian aku bertanya kembali, “Ada suatu waktu dimana lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu dimana lilinnya menyala. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya sumber cahaya pada lilinnya?
Anak kecil itu tertawa, lalu menghembuskan lilinnya, dan berkata, “Sekarang tuan telah melihat cahayanya pergi. Kemana ia perginya? Jelaskan kepadaku!”
EGOKU REMUK REDAM…, seketika itu, seluruh pengetahuanku BUYAAAAR…!!.
Pada saat itu aku menyadari KEBODOHANKU sendiri dan sejak saat itu aku letakkan, aku tanggalkan seluruh ilmu pengetahuanku.

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki guru Spiritual. Tetapi bukan berarti bahwa aku bukanlah seorang murid, aku menerima semua kehidupan sebagai guruku. Pembelajaranku sebagai seorang murid jauh lebih besar dibandingkan dengan dirimu. Aku mempercayai awan-awan, pohon-pohon, kehidupan binatang. Seperti itulah aku belajar dari kehidupan. Aku tidak memiliki seorang guru Spiritual karena aku memiliki jutaan guru yang aku pelajari dari berbagai sumber sedari kecil.
Menjadi seorang murid adalah hal umum di jalan sufi. Apa maksud dari menjadi seorang murid? Maksud dari menjadi seorang murid adalah untuk belajar. Bersedia belajar atas apa yang diajarkan oleh ” KEHIDUPAN “. Melalui seorang guru engkau akan memulai pembelajaranmu menapaki hari melalui CITA RASA mu sendiri untuk menjadi ” DIRI SENDIRI ” bukan menjadi seperti orang lain bahkan menjadi seperti gurumu.

Sang guru adalah sebuah kolam dimana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh Samudera adalah milikmu. Dan pada saat itulah engkau adalah MURID sekaligus GURU bagi dirimu sendiri dalam kehidupan ini.

MEMULAI LAKU PRIHATIN

4 Maret 2011

adalah kata-kata yg akrab di telinga kita, bahkan saya pernah mendengar kata “prihatin” saban hari selama sebulan. Tapi saya semakin judeg memaknainya. Setelah sekian lama, barulah saya pahami bahwa “prihatin” mungkin singkatan dari “perih ing batin” (pedih yang dirasakan oleh batin). Mengapa pedih ? Yah, tentu saja, karena batin (jiwa) ini tidak diujo (dibiarkan semau gue) memuaskan hawa nafsu. Padahal tahu sendiri kan, betapa nikmatnya bila kita sedang keturutan (terpenuhi) hawa nafsunya. Apalagi untuk urusan “under ground stomach“.. namun dalam suasana jiwa yang “prihatin” pemuasan nafsu jasadiah sangat dikendalikan, sekalipun sudah menjadi hak kita. Sampai ada wewaler “ngono yo ngono ning ojo ngono” (gitu ya gitu tapi jangan gitu dong..). Sebagai rambu-rambu agar supaya tidak sampai berlebihan atau melampaui batas kewajaran. Jadi, garis besarnya “laku prihatin” adalah upaya kita agar badan/jasad ini selalu berkiblat mengikuti kehendak guru sejati/rahsa sejati (kareping rahsa sejati) yang selalu dalam koridor kesucian (berkiblat pada kodrat Tuhan). Sehingga kecenderungan nafsu/hawa/nafs/jiwa/soul kita yang cenderung ingin berbuat negatif nuruti rahsaning karep (nafsu negatif), senaniasa kita belokkan kepada kesucian sang guru sejati dan rahsa sejati. Sehingga menjadi nafsu yang selalu berkeinginan baik (an nafsul mutmainah). Nah, “kekalahan” jasad (bumi) atas jiwa yang suci ini seringkali terasa pedih/gundah/marah di dalam kalbu.

 

Karena banyaknya pertanyaan mengenai tata cara atau apa yang harus ditempuh dalam mengawali sebuah perjalanan spiritual (laku prihatin) untuk menggapai tataran kesejatian, maka perlu kami paparkan tulisan berikut ini. Seluruh catatan di sini, semua semata-mata sebagai salah satu upaya saya untuk mewujudkan rasa syukur yang paling konkrit kepada Gusti Allah yang sudah menganugrahkan rahmat, kebahagiaan, ketentraman, dan kecukupan pada kami & keluarga. Bagi saudara-saudaraku para pembaca yang budiman dan seluruh sahabat handai taulan yang menanyakan bagaimana memulai sebuah “laku” prihatin untuk menggapai spiritualitas sejati, berikut ini yang dapat kami paparkan secara sederhana agar mudah dipahami. Apa yang saya paparkan di bawah ini sekedar contoh langkah-langkah yang saya lakukan selama ini untuk memahami kehidupan sejati dan selanjutnya menggapai kemuliaan hidup. Terdiri dari 5 jurus atau empat tahapan yakni;

 

0. Nol adalah nihil. Substansi nihil di sini berarti belum ada manifestasi perbuatan konkrit.  Masih berupa niat; niat ada dua level yakni; Niat Demi Tuhan, dan Niat  Ingsun. Yang pertama menyiratkan pemahaman saya yang belum utuh akan jati diri.  Setiap mengikrarkan Demi Tuhan; saya terbayang bahwa perbuatan baik saya tujukan kepada Tuhan, dengan membayangkan Tuhan itu nun jauh di atas langit ke tujuh. Akan tetapi kemudian dalam perjalanan spiritual ini sampailah pada pemahaman bahwa saya lebih merasa mantab bila berkata; Niat Ingsun. Alasannya ; niat Ingsun lebih pas, karena bukankah Tuhan itu lebih dekat dengan urat leher kita ? Tuhan (Sifat hakekat) berada dalam JATI DIRI (sifat zat). Maka Ingsun bermakna “Aku” . Sedangkan “Aku atau Ingsun” merupakan hakekat Tuhan (sifat zat) dalam diri. Aku (manusia) melakukan apa yang diridhoi AKU (hakekat Tuhan di dalam makhlukNya). Saya temukan suatu makna bahwa melakukan kebaikan pada sesama itu tidak lain memposisikan diri kita pada jalur “kodrat” Ilahi. Jelasnya menurut pemahaman saya, bahwa Niat Ingsun ternyata memiliki makna; sebuah ucapan yang keluar dari hakekat “manunggaling kawula-Gusti”.

 

1. Membersihkan hati; dengan cara membiasakan berfikir positif, sekalipun menghadapi situasi yang buruk dan tidak menyenangkan, tetapi selalu berusaha  mengurai sisi baiknya. Sebaliknya waspadai diri kita sendiri, selalu mengevaluasi diri, karena setiap orang akan cenderung merasa sudah melakukan banyak amal kebaikan maupun merasa telah beriman. Namun mengapa banyak pula orang yang merasa banyak amal, banyak membantu, merasa sudah banyak sodaqah, merasa sudah bersih hati, merasa sudah menjalankan sariat, tapi kehidupannya kontradiktif; masih selalu merasa sial, dirundung musibah dan kesulitan. Dan dengan percaya diri lantas menganggapnya  sebagai cobaan bagi orang-orang beriman. Ini menjadi suatu “kelucuan”  hidup yang sering tidak kita sadari.

 

2. Berusaha setiap saat agar hidup kita bermanfaat bagi sesama. Dalam terminologi ajaran Jawa disebut donodriyah; atau sodaqoh. Dhonodriyah ada 4 cara dan tingkatan; yakni (1) dhonodriyah doa; (2) dhonodriyah tutur kata/nasehat yg baik dan menentramkan, (3) dhonodriyah tenaga, (4) dhonodriyah harta. Yang terakhir inilah yang paling sulit dilakukan tapi nilainya paling tinggi. Kita  lakukan semua kebaikan kepada sesama dengan tulus dan ikhlas. Kita jadikan sebagai sarana tapa ngrame; ramai/giat dalam membantu sesama, tetapi sepi dalam berpamrih.

 

3. Belajar tulus dan ikhlas sepanjang masa. Agar supaya mampu mewujudkan keikhlasan yg sempurna. Ukuran kesempurnaan ikhlas itu dapat diumpamakan “keikhlasan” kita sewaktu buang air besar. Kita  enggan menoleh, bahkan selekasnya dilupakan dan disiram air agar tidak berbau dan membekas. Setelah itu kita tak pernah membahas dan mengungkit-ungkit lagi di kemudian hari. Itu yang harus kita lakukan, sekalipun yang kita perbantukan berupa harta paling berharga. Mengapa harus belajar ketulu-ikhlasan sepanjang masa ? Tidak lain karena keihklasan hari ini dan dalam kasus tertentu, belum tentu berhasil kita lakukan esok hari, belum tentu berhasil dalam kasus lain, dan belum tentu sukses kita wujudkan dalam kondisi mental yang berbeda.

 

4. Meghilangkan sikap ke-aku-an (nar/api/iblis); menghindari watak mencari benernya sendiri, mencari menangnya sendiri, dan mencari butuhnya sendiri. Sebaliknya, jaga kesucian badan dan batin dari polusi hawa nafsu negatif agar sinar kesucian (nur) menjadi semakin terang dalam kehidupan anda.

 

5. Perbanyak bersyukur, sebab tiada alasan sedikitpun untuk menganggap Tuhan belum memberikan anugrah kepada kita. Coba hitung saja anugrah Tuhan dalam setiap detiknya, berpuluh-puluh anugrah selalu mengalir pada siapapun orangnya; sekali lagi dalam setiap detiknya. Maka bersyukur yang paling ideal adalah mewujudkannya dalam perbuatan. Misalnya kita diberi kesehatan; bersukurnya dengan cara gemar membantu orang yang sedang sakit dan menderita. Latih diri kita agar selalu  membiasakan bersukur TIDAK dengan mulut saja, tetapi dengan sikap dan perbuatan konkrit.

 

Dalam setiap melakukan amal baik kepada sesama, kita “transaksikan” kebaikan itu dengan Tuhan, jangan dengan orang yang kita baiki. Jika kita “bertransaksi” dengan orang, maka kita hanya akan mendapat pujian atau upah saja. Jika 5 tahap itu bisa dilaksanakan menjadi kebiasaan sehari-hari, niscaya hidup kita akan menemukan kamulyan sejati. Baik dunia maupun akhirat. Bahkan kita dapat meraih anugrah Tuhan berupa “ngelmu beja” atau “ilmu” keberuntungan. Tidak dapat dicelakai orang, selalu menemukan keberuntungan, selalu hidup kecukupan, dan tenteram. Bahkan semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menerima.

Selamat menjalankan, dan lihatlah buktinya.

 

salam sejati

rahayu

PENDAWA LIMA

4 Maret 2011

PENDAWA LIMA

1. PRABU YUDHISTIRA


PRABU YUDHISTIRA menurut cerita pedalangan Jawa adalah raja jin negara Mertani, sebuah Kerajaan Siluman yang dalam penglihatan mata biasa merupakan hutan belantara yang sangat angker. Prabu Yudhistira mempunyai dua saudara kandung masing-masing bernama ;Arya Danduwacana, yang menguasai kesatrian Jodipati dan Arya Dananjaya yang menguasai kesatrian Madukara. Prabu Yudhistira juga mempunyai dua saudara kembar lain ibu, yaitu ; Ditya Sapujagad bertempat tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.Prabu Yudhistira menikah dengan Dewi Rahina, putri Prabu Kumbala, raja jin negara Madukara dengan permaisuri Dewi Sumirat. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Ratri, yang kemudian menjadi istri Arjuna.Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian Bagawan Wilwuk/Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani. Prabu Yudhistira kemudian menyerahkan seluruh negara beserta istrinya kepada Puntadewa, sulung Pandawa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Prabu Yudhistira kemudian menjelma atau menyatu dalam tubuh Puntadewa, hingga Puntadewa bergelar Prabu Yudhistira. Prabu Yudhistira darahnya berwarna putih melambangkan kesuciannya.

2. BIMA atau WERKUDARA


Dikenal pula dengan nama; Balawa, Bratasena, Birawa, Dandunwacana, Nagata, Kusumayuda, Kowara, Kusumadilaga, Pandusiwi, Bayusuta, Sena, atau Wijasena. Bima putra kedua Prabu Pandu, raja Negara Astina dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Bima mempunyai dua orang saudara kandung bernama: Puntadewa dan Arjuna, serta 2 orang saudara lain ibu, yaitu ; Nakula dan Sadewa. Bima memililki sifat dan perwatakan; gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur. Bima memiliki keistimewaan ahli bermain ganda dan memiliki berbagai senjata antara lain; Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta, sedangkan ajian yang dimiliki adalah ; Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu dan Aji Blabakpangantol-antol. Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran yaitu; Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain; Kampuh atau kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan pupuk Pudak Jarot Asem. Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah negara Amarta. Bima mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu :

1. Dewi Nagagini, berputra Arya Anantareja,

2. Dewi Arimbi, berputra Raden Gatotkaca dan

3. Dewi Urangayu, berputra Arya Anantasena.

Akhir riwayat Bima diceritakan, mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuda.

3. ARJUNA


Adalah putra Prabu Pandudewanata, raja negara Astinapura dengan Dewi Kunti/Dewi Prita  putri Prabu Basukunti, raja negara Mandura. Arjuna merupakan anak ke-tiga dari lima bersaudara satu ayah, yang dikenal dengan nama Pandawa. Dua saudara satu ibu adalah Puntadewa dan Bima/Werkudara.

Sedangkan dua saudara lain ibu, putra Pandu dengan Dewi Madrim adalah Nakula dan Sadewa. Arjuna seorang satria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi Pandita di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Arjuna dijadikan jago kadewatan membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Kaindran bergelar Prabu Karitin dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain ; Gendewa ( dari Bathara Indra ), Panah Ardadadali ( dari Bathara Kuwera ), Panah Cundamanik ( dari Bathara Narada ). Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain ; Keris Kiai Kalanadah, Panah Sangkali ( dari Resi Durna ), Panah Candranila, Panah Sirsha, Keris Kiai Sarotama, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni ( diberikan pada Abimanyu ), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton ( pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani ) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama.  Arjuna mempunyai 15 orang istri dan 14 orang anak. Adapun istri dan anak-anaknya adalah :

1. Dewi Sumbadra , berputra Raden Abimanyu.

2. Dewi Larasati , berputra Raden Sumitra dan Bratalaras.

3. Dewi Srikandi

4. Dewi Ulupi/Palupi , berputra Bambang Irawan

5. Dewi Jimambang , berputra Kumaladewa dan Kumalasakti

6. Dewi Ratri , berputra Bambang Wijanarka

7. Dewi Dresanala , berputra Raden Wisanggeni

8. Dewi Wilutama , berputra Bambang Wilugangga

9. Dewi Manuhara , berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati

10. Dewi Supraba , berputra Raden Prabakusuma

11. Dewi Antakawulan , berputra Bambang Antakadewa

12. Dewi Maeswara

13. Dewi Retno Kasimpar

14. Dewi Juwitaningrat , berputra Bambang Sumbada

15. Dewi Dyah Sarimaya.

Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu ; Kampuh/Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

Arjuna juga banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain ; Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Bathara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Danasmara ( perayu ulung ) dan Margana ( suka menolong ).

Arjuna memiliki sifat perwatakan ; Cerdik pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah.

Arjunaa memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bhatarayuda, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata.

Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia muksa ( mati sempurna ) bersama ke-empat saudaranya yang lain.

4. NAKULA


Nang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat) adalah putra ke-empat Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Nakula lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa (pedalangan Jawa), Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Nakula adalah titisan Bathara Aswi, Dewa Tabib. Nakula mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Nakula juga mempunyai cupu berisi, “Banyu Panguripan atau Air kehidupan” (tirtamaya) pemberian Bhatara Indra. Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Nakula tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:

1. Dewi Sayati putri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan

memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Bambang

Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

2. Dewi Srengganawati, putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa

yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita,

Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala)

dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung.

Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik. Setelah selesai perang Bharatyuda, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa bersama keempat saudaranya.

5. SADEWA atau Sahadewa


Dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Tangsen (buah dari tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima atau bungsu Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula. Sadewa juga mempunyai tiga orang saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura, bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna. Sadewa adalah titisan Bathara Aswin, Dewa Tabib. Sadewa sangat mahir dalam ilmu kasidan (Jawa)/seorang mistikus. Mahir menunggang kuda dan mahir menggunakan senjata panah dan lembing. Selain sangat sakti, Sadewa juga memiliki Aji Purnamajati pemberian Ditya Sapulebu, Senapati negara Mretani yang berkhasiat; dapat mengerti dan mengingat dengan jelas pada semua peristiwa. Sadewa mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Sadewa tinggal di kesatrian Bawenatalun/Bumiretawu, wilayah negara Amarta. Sadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati, adik Dewi Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa). Setelah selesai perang Bharatayuda, Sedewa menjadi patih negara Astina mendampingi Prabu Kalimataya/Prabu Yudhistrira. Akhir riwayatnya di ceritakan, Sahadewa mati moksa bersama ke empat saudaranya.

PUSAKA KALIMASADHA DAN CHUNDAMANI

4 Maret 2011

Kalimasadha dalam Budaya Jawa

Dalam cerita pewayangan, dikenal pusaka keramat milik Prabu Yudhistira dari kerajaan Amartha, sebagai warisan dari Kyai Semar yakni Jamus Kalimasada. Jamus Kalimasada adalah pusaka untuk menangkal kesengsaraan, nasib celaka, bebendu atau hukuman dari Tuhan.

Kalimasada (Kalima usada=jajampi wari gansal) lima macam ‘jamu’ atau lima macam tindakan (lelampahan gangsal ) yang harus dilakukan setiap orang agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat (kawilujengan). Lima macam tindakan tersebut adalah:

1. Suci = setia, jujur

2. Sentausa = adil paramarta. tanggungjawab

3. Kebenaran= sabar, belas kasih, rendah hati

4. Pintar/kepandaian= pandai ilmu, pandai mengenakkan hati sesama, pandai meredam hawa nafsu

5. Kesusilaan= selalu sopan-santun, teguh memegang tatakrama

Langkah Kelima perkara tadi tidak boleh diabaikan salah satunya. Jadi harus dilakukan serempak bersama-sama, atau diistilahkan Jawa; ayam kapenang.

Sebutan ayam kapenang tersebut kemudian digunakan sebagai paugeran atau patokan yang menjadi petunjuk hidup. Dalam pewayangan, ayam kapenang tersebut menjadi perwujudan watak masing-masing Satria Pendawa Lima. Sehingga disebut sebagai ayam kapenang artinya telur ayam sak petarangan, yang mengandung maksud; pecah satu maka akan pecah semua. Ini untuk membahasakan guyub rukun nya para kesatria Pendawa Lima dalam tali persaudaraan, ada yang mati satu maka yang lain pasti akan membelanya.

Langkah Lima perkara tersebut harus dijalankan secara kompak bersama-sama, jika salah satu tidak jalan maka akan mengalami kegagalan. Seumpama, walaupun sudah menjalankan kesetiaan, kesentausaan, kepandaian, kesusilaan, tetapi buta akan kebenaran sudah tentu tidak menjadi manungso pinunjul. Kebenaran dilupakan, artinya tidak memahami akan benar salahnya tindakan, perbuatan, dan pekerjaan. Maka kesetiaan dan kesantausaannya hanya untuk mendukung kepada perbuatan, tindakan, pekerjaan yang tidak benar. Kepandaian dan  kesusilaannya juga hanya untuk membodohi (baca;Jawa; minteri) orang lain. Perbuatan demikian yang menjadikan musabab menganggap enteng segala bahaya dan resiko, yang tidak bisa ditolak hanya dengan doa, justru sebaliknya, niscaya manusia akan jatuh dalam duka dan kesengsaraan.

Kalimasadha Dalam Cerita Pewayangan

Jamus Kalimasada diwahyukan kepada Pendawa Lima dan diteruskan kepada para puteranya. Jadi para putera Pendawa Lima merupakan pralampita, pengejawantahan dari panca indera manusia yang meliputi mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit dan anggota badan. Pertama adalah Sang Pretiwindya putera dari Prabu Yudhistira sebagai perlambang indera penglihatan, Sang Sutasoma, putera Sang Werkudara  sebagai perlambang dari indera penciuman, ketiga yakni Sang Sutakirti putera Sang Arjuna sebagai perlambang indera pendengaran, ke empat yakni kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, putera Raden Nakula yakni Sang Satanika sebagai perlambang lidah sebagai indera perasa, dan Sang Srutakarma putera dari Raden Sadewa  sebagai perlambang kulit dan seluruh anggota badan sebagai indera perasa pula. Kelima putera tersebut dari satu isteri Pendawa Lima yakni Dewi Drupadi sebagai wujud retasan dari Yang Maha Kuasa  (purbawisesaning gesang). Sehingga dapat diambil intisarinya yakni asal muasalnya panca indera tidak lain dari wujud ciptaan Sang Khaliq, Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Hyang Wenang, Gusti Kang Maha Wisesa.

Tetapi, Sang Werkudara dari isteri Dewi Arimbi kemudian dikaruniai anak bernama Gatutkaca, selanjutnya sebagai perlambang dari pamicara. Pamicara atau bicara dengan bahasa manusia, bukanlah kewenangan Sang Hyang Wenag, purbawasesaning gesang hanya menciptakan suara untuk makhluknya, tidak menciptakan bahasa manusia. Bahasa atau bicara, wicara, merupakan hasil karya peradaban manusia, sehingga Gatutkaca bukan menjadi putera Werkudara dengan Dewi Drupadi, tetapi dengan Dewi Arimbi. Sang Werkudara sendiri merupakan perlambang hawa atau udara, maka Gatutkaca adalah putera Werkudara dengan Dewi Arimbi, bukan dengan Dewi Drupadi. Artinya, bahwa nafas dan suara asalnya dari hawa atau udara. Maka jika mulut dubungkam, dan hidung ditutup, pati tidak akan bisa bicara.

Pusaka Chundamani,

Senjata Ampuh untuk Mewujudkan Harapan dan Cita-cita

Gatutkaca melengkapi Pendawa Lima, menjadi Sadrasa, rahsa nem, atau enam rasa. Yang dapat mengalahkan Pendawa Lima plus Gatutkaca, sebagai enam rasa, adalah Aswatama. Oleh Aswatama, sadrasa dapat disirnakan. Aswa = kapal perang, tama = utama, baik, mulia, luhur. Aswatama = kendaraan atau alat yang dapat mengantarkan kepada keutamaan lahir batin.  Kendaraan atau alat bermakna juga sebagai perbuatan atau pekerjaan yang baik, utama, mulia, luhur. Aswatama mendapat pusaka dari orang tuanya Sang Durna, pusaka bernama chundamani. Chunda = chunduk, mani = manik = rahsa. Chunduk artinya cocok, tunggal, membaur. Sehingga chundamani merupakan intisari dari segala perbuatan yang baik untuk mencapai tujuan yang mulia, dengan cara menyatukan rasa atau tunggal rasa, yakni membaurnya ke enam rasa atau sadrasa. Sebagaimana tata cara orang berdoa agar supaya tijab, makbul, terkabul, diterima Tuhan, bukan dengan doa berkuantitas banyak dan repetitif, atau mencari waktu-waktu tertentu yang dianggap baik, tetapi justru dengan cara menyatukan seluruh komponen indera yang kita punya, yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Orang sering salah memahami hakekat dari doa. Doa bukan sekedar yang tersirat dan yang terucap. Doa merupakan keseluruhan dari sebuah tindakan yang kompakdan harmonis, meliputi hati, fikiran, ucapan, tindakan. Keempat komponen tersebut tidak bisa dipisahkan, pecah satu pecah semua, seperti makna Pendawa Lima dan Pusaka Kalimasada. Sebagai contoh, jika hati dan ucapan kita berdoa memohon kesehatan kepada Tuhan, namun fikiran dan perbuatan selalu tergoda dengan makanan lezat mengandung kolesterol tinggi, maka hanya akan menggagalkan doa permohonan sehat tersebut. Atau, ucapan dan tindakannya menghindari makanan dan perbuatan yang dapat merusak badan, tetapi hati dan fikirannya tidak kompak, maka hanya menghasilkan perbuatan enggan, setengah hati, dan malas. Lahiriah dan batiniahnya tidak kompak, suka membohongi diri sendiri, membantah diri sendiri, dan munafik.

SERAT KIDUNGAN

4 Maret 2011

Kidungan punika serat kina pralambangipun ngelmu Islam ingkang sajati, tuwin minangka wawarah pamujining kawula dateng Gusti, iketanipun Kanjeng Susuhunan Kalijaga Waliyullah; kasambet iketanipun Kyai Rangga Sutrasna pujangga.

Babon asli saking kagungan dalem
Gusti Kanjeng Ratu Pambayun
putri ing karaton dalem SURAKARTA ADININGRAT
.

Tembang Dhandhanggula


… 01 …

Ono kidung rumekso ing wengi, teguh ayu luputa ing lara, luputa bilai kabeh, jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani, miwah panggawe ala, gunaning wong luput, geni atemahan tirta, maling adoh tan ana mgarah mring mami, guno duduk pan sirno.

… 02 …

Sakehing lara pan samya bali, sakeh ngama pan sami miruda, welas asih pandulune, sakehing braja luput, kadi kapuk tibaning wesi, sakehing wisa tawa, sato galak tutut, kayu aeng lemah sangar, songing landk guwane wong lemah miring, myang pakiponing merak.

… 03 …

Pangupakaning warak sakalir, nadjan arca myang sagara asat, temahan rahayu kabeh, apan sarira ayu, ingideran kang widadari, rineksa malaekat, sakatahing Rasul, pan dadi sarira tunggal, ati Adam utekku Bagenda Esis, pangucapku ya Musa.

… 04 …

Napasku Nabi Ngisa linuwih, Nabi Yakub pamiyarsa ningwang, Yusup ing rupaku mangke, Nabi Dawud swaraku, Njeng Suleman kasekten mami, Nabi Ibrahim nyaw, Edris, ing rabutku, Bagenda Ali kulit ingwang, getih daging Abu Bakar Ngumar singgih, balung Bagenda Ngusman.

… 05 …

Sungsum ingsun Patimah linuwih, Siti aminah bajuning angga, ayub ing ususku mangke, Nabi Nuh ing jejantung, Nabi Yunus ing otot mami, netraku ya Muhammad, pamuluku Rasul, pinayungan Adam sarak, sampun pepak sakatahing para Nabi, dadya sarira tunggal.

… 06 …

Wiji sawiji mulane dadi, apan pencar saisining jagad, kasamatan dening Date, kang maca kang angrungu, kang anurat kang animpeni, dadi ayuning badan, kinarya sesembur, yen winacakna ing toya, kinarya dus rara tuwa gelis laki, wong edan nuli waras.

… 07 …

Lamun ana wong kadenda kaki, wong kabonda wong kabotan utang, yogya wacanen den age, nalika tengah dalu, ping sawelas wacanen singgih, kang luwar ingkang kabanda, kang kadenda wurung, aglis nuli sinauran, mring Hyang Suksma ingkang utang iku singgih, kang agring nuli waras.

… 08 …

Lamun arsa tulus nandur pari, puwasaha sawengi sadina, iderana galengane, wacanen kidung iku, sakeh ngama sami abali, yen sira lunga perang, wateken ing sekul, antuka tigang pulukan, mungsuhira rep-sirep tan ana wani, rahayu ing payudan.

… 09 …

Sing sapa reke bisa nglakoni, amutiha lawan anawaha, patang puluh dina bae, lan tangi wektu subuh, lan den sabar sukuring ati, insya allah katekan, sakarsanireku, tumrap sanak rajatira, saking sawabing ngelmu pangiket mami, duk aneng Kali-Jaga.

… 10 …

Ana kidung reke angartati, sapa weruh reke aran ingwang, duk ingsun ana ing ngare, miwah duk aneng gunung, Ki Samurta lan Ki Samurti, ngalih aran ping tiga, Arta-daya tengsun, aran ingsun duk jajaka, Ki Artati mangke aran ingsun ngalih, sapa wruh aran ingwang.

… 11 …

Sapa weruh kembang tepus kaki, sasat weruh reke Arta-daya, tunggal pancer sauripe, sapa wruh ing panuju, sasat sugih pagere wesi, rineksa wong sajagad, kang angidung iku, lamun dipun apalena, kidung iku den tutug pada sawengi, adoh panggawe ala.

… 12 …

Lawan rineksa dening Hyang Widi, sakarsane tinekan dening Hyang, rineksa ing jaman kabeh, kang maca kang angrungu, kang anurat myang kang nimpeni, yen ora bisa maca, simpenana iku, temah ayu kang sarira, yen linakon dinulur sasedyaneki, lan rineksa dening Hyang.

… 13 …

Kang sinedya tinaken Hyang Widi, kang kinarsan dumadakan kena, tur siniyan Pangerane, nadyan tan weruh iku, lamun nedya muja semedi, sasaji ing sagara, dadya ngumbareku, dumadi sarira tunggal, tunggal jati swara awor ing Artati, aran Sekar Jempina.

… 14 …

Somahira ingaran Penjari, milu urip lawan milu pejah, tan pisah lawan saparane, pari purna satuhu, anir mala waluya jati, kena ing kene kana, ing wasananipun, ajejuluk Adi Suksma, cahya ening jumeneng aneng artati, anom tan kena tuwa.

… 15 …

Panunggale kawula lan Gusti, Nila-ening arane duk gesang, duk mati Nila arane, lan Suksma-ngumbareku, ing asmara Mong-raga yekti, durung darbe peparab, duk rarene iku, awayah bisa dedolan, aran Sang Hyang Jari iya Sang Artati, yeku Sang Arta-daya.

… 16 …

Dadya wisa mangkya amartani, lamun marta atemahan wisa, marma Arta-daya rane, duk lagya aneng gunung, ngalih aran Asmara-jati, wayah tumekeng tuwa, emut ibunipun, ni Panjari lunga ngetan, ki Artati nurut gigiring Merapi, anuju mring Sundara.

… 17 …
Ana pandita akarya wangsit, minda kombang angajap ing tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing kangkung, wekasan langit jaladri, isiningwuluh wungwang, lan gigiring punglu, tapaking kuntul anglayang, manuk miber uluke ngungkuli langit, kusuma njahing tawang.

… 18 …

Ngambil banyu apikulan warih, amet geni sarwi adadamar, kodok ngemuli elenge, miwah kang banyu dikum, myang dahana murub kabesmi, bumi pinetak ingkang, pawana ingkang, pawana katiyub, tanggal pisan kapurnaman, yen anenun senteg pisan anigasi, kuda ngrap ing pandengan.

… 19 …

Ana kayu apurwa sawiji, wit buwana epang keblat papat, agodong mega rumembe, apradapa kukuwung, kembang lintang salaga langit, semi andaru kilat, woh surya lan tengsu, asirat bun lawan udan, apupucak akasa bungkah pratiwi, ayode bayu bajra.

… 20 …

Wiwitane duk anemu candi, gegedongan miwah wewerangkan, sihing Hyang kabesmi kabeh, tan ana janma kang wruh, yen wruha purwane dadi, candi sagara wetan, ingobar karuhun, kajangane Sang Hyang Tunggal, sapa reke kang jumeneng mung Artati, katon tengahing tawang.

… 21 …

Gunung Agung sagara Serandil, langit ingkang amengku buwana, kawruh ana ing artine, gunung sagara umung, guntur sirna amengku bumi, ruk kang langit buwana, dadya weruh iku, mudya madyaning ngawiyat, mangasrama ing gunung agung sabumi, candi-candi sagara.

… 22 …

Gunung luhure kagiri-giri, sagara agung datanpa sama, pan sampun kawruhan reke, Arta-daya puniku, datan kena cinakreng budi, anging kang sampun prapta, angadeg tengahing jagad, wetan kulon lor kidul ngandap nyang nginggil, kapurba kawisesa.

… 23 …

Bumi sagara gunung myang kali, sagung ingkang sesining bawana, kasor ing Arta-dayane, sagara sat kang gunung, guntur sirna guwa samya nir, singa wruh Arta-daya, dadya teguh timbul, lan dadi paliyasing prang, yen lulungan kang kapapag wedi asih, sato galak suminggah.

… 24 …

Jim peri prayangan pada wedi, mendak asih sakehing durbriksa, rumeksa siyang dalane, singa anempuh lumpuh, tan tumama ing awak mami, kang nedya tan raharja, kabeh pan linebur, sakehe kang nedya ala, larut sirna kang nedya becik basuki, kang sinedya waluya.

… 25 …

Siyang dalu rineksa ing Widi, dinulur saking karseng Hyang Suksma, kaidep ing janma kabeh, aran wikuning wiku, wikan liring mudya semedi, dadi sasedyanira, mangunah linuhung, peparab Hyang Tega-lana, kang asimpen yen tuwajuh jroning ati, kalising panca baya.

… 26 …

Yen kinarya atunggu wong sakit, ejim setan datan wani ngambah, rineksa Malaekate, Nabi Wali angepung, sakeh lara pada sumingkir, ingkang sedya pitenah, marang awak ingsun, rinusak dening Pangeran, eblis lanat sato mara mara mati, tumpes tapis sadaya.

… 27 …

Ana kidung angidung ing wengi, bebaratan duk amrem winaca, Sang Hyang Guru pangadeke, lumaku Sang Hyang Ayu, alembehan Asmara-ening, ngadeg pangawak teja, kang angidung iku, yen kinarya angawula, myang lulungan gusti geting dadi asih, sato setan sumimpang.

… 28 …

Sakatahe upas tawa sami, lara roga waluya kang menggawe, duduk samya kawangsul, akawuryan sanguning pikir, ngadam makdum sadaya, datan paja ngrungu, pangucap lawan pangrasa, myang tumingal kang sedya tumekeng napi, pangreksaning Malaekat.

… 29 …

Jabrail ingkang animbangi, milanira katetepan iman, pan dadya kandel ngatine, Ngijraile puniku, kang rumeksa ing ati suci, Israpil dadi damar, madangi jro kalbu, Mikail kang asung sandang, lawan pangan tinekan ingkang kinapti, sabar lawan narima.

… 30 …

Ya hudaknjeng pamujining wengi, bale aras sesakane mulya, Kirun saka tengen nggone, Wanakirun kang tunggu, saka kiwa gadane wesi, nulak panggawe ala, satru lawan mungsuh, pangeret tengajul rijal, ander-ander kulhu balik kang linuwih, ambalik lara roga.

… 31 …

Dudur molo tengayatul kursi, lungguh neng atine surat amangam, pangeburan lara kabeh, usuk-usuk ing luhur, ingkang aran wesi ngalarik, nenggih Nabi Muhammad, kang wekasan iku, atunggu ratri lan siyang, kibedepan ing tumuwuh pada asih, tunduk mendak maring wang.

… 32 …

Satru mungsuh mundur pada wedi, pemidangan ing betal mukadas, tulak balik pangreksane, pan Nabi patang puluh, paring wahyu mring awak mami, apan Nabi wekasan, sabda Nabi Dawud, apetak Bagenda Ambyah, kinaweden belis lanat lawan ejim, tan ana wani perak.

… 33 …

Pepayune godong dukut langit, tali barat kumendung ing tawang, tinunda tan katon mangke, arajeg gunung sewu, jala sutra ing luhur mami, kabeh rumeksa, angadangi mungsuh, anulak panggawe ala, lara rago sumingkir kalangkung tebih, luput kang wisa guna.

… 34 …

Gunung sewu dadya pager mami, katon murub kang samya tumingal, sakeh lara sirna kabeh, luput ing tuju teluh, taraknyana tenung jalenggi, bubar amdyur suminggah, Sri Sedana lulut, punika sih rahmatulah, rahmat jati jumeneng wali jasmani, iya Sang Jati-mulya.

… 35 …

Ingaranan Rara Subaningsih, kang tumingal samya sih sadaya, kedep sapari polahe, keh lara sirna larut, tan tumama ing awak mami, kang sangar dadi tawa, kang geting sih lulut, saking dawuh Sipat Rahman, iya rahmat rahayu pangreksaneki, sarana nganggo metak.

… 36 …

Yen lumampah kang mulat awingwrin, singabarong kang pada rumeksa, gajah meta neng wurine, macan gembong ing ngayun, naga raja ing kanan kering, singa mulat jrih tresna, marang awak ingsun, jim setan lawan manungsa, pada kedep teluh lawan antu bumi, ajrih lumayu ngintar.

… 37 …

Yen sinempen tawa barang kalir, upas bruwang racun banjur sirna, temah kalis sabarang reh, jemparing towok putung, pan angleyang tumibeng siti, miwah saliring braja, tan tumama mring sun, cedak cupet dawa tuna, miwah sambang setan tenung pada bali, kedep wedi maring wang.

… 38 …

Ana paksi mangku bumi langit, manuk iku endah warnanira, Sagara eroh wastane, uripe manuk iku, amimbuhi ing jagad iki, warnanipun sakawan, sikile wewolu, kulite iku sarengat, getihipun tarekat ingkang sajati, ototipun kakekat.

… 39 …

Dagingipun makripat sajati, cucukipun sajatining sadad, eledan tokid wastane, ana dene kang manuk, pupusuhe supiyah nenggih, amperune amarah, mutmainah jantung, luamah waduke ika, manuk iku anyawa papat winilis, nenggih manuk punika.

… 40 …

Uninipun Jabrail singgih, socanipun punika kumala, anetra wulan srengenge, napas nurani iku, grananipun Tursina nenggih, angaub soring aras, karna kalihipun, ing gunung Arpat punika, uluwiyah ing lohkalam wastaneki, ing gunung Manik-maya.

… 41 …

Ana kidung akadang premati, among tuwuh ing kawasanira, nganakaken saciptane, kakang kawah puniku, kang rumeksa ing awak mami, anekakaken sedya, ing kawasanipun, adi ari-ari ika, kang mayungi ing laku kawasaneki, anekakken pangarah.

… 42 …

Punang getih ing raina wengi, ngrerewangi Allah kang kuwasa, andadekaken karsane, puser kawasanipun, nguyu-uyu sabawa mami, nuruti ing paneda, kawasanireku, jangkep kadang ingsun papat, kalimane pancer wus dadi sawiji, tunggal sawujud ingwang.

… 43 …

Yeku kadangingsun kang umijil, saking marga ina sareng samya, sadina awor enggone, sakawan kadang ingsun, ingkang nora umijil saking, marga ina punika, kumpule lan ingsun, dadya makdum sarpin sira, wewayangan ing Dat samya dadya kanti, saparah datan pisah.

… 44 …

Yen angidung poma den memetri, memuleya sega golong lima, takir potang wewadahe, ulam-ulamanipun, ulam tasik rawa lan kaki, ping pat iwak bangawan, mawa gantal iku, rong supit winungkus samya, apan dadya sawungkus arta saduwit, sawungkuse punika.

… 45 …

Tumpangena neng pontangnya sami, dadya limang wungkus pontang lima, sinung sekar cepakane, loro sapontangipun, kembang boreh dupa ywa lali, memetri ujubira, donganira Mahmut, poma dipun lakonana, saben dina nuju kalahiraneki, agung sawabe ika.

… 46 …

Balik lamun ora den lakoni, kadangira pan pada ngrencana, temah udrasa ciptane, sasedyanira wurung, lawan luput pangarahneki, sakarepira wigar, gagar datan antuk, saking kurang temenira, madep laku iku den awas den eling, tamat ingkang kidungan.

Tembang Sinom

… 01 …

Apuranen sun angetang, lelembut ing tanah Jawi, kang rumeksa ing nagara, para ratuning dhedhemit, agung sawahe ugi, yen apal sadayanipun, kena ginawe tulak, kinarya tunggu wong sakit, kayu aeng lemah sangar dadi tawa.

… 02 …

Kang rumiyin ing mbang wetan, Durganeluh Maospahit, lawan Raja Baureksa, iku ratuning dhedhemit, Blambangan winarni, awasta Sang Balabatu, kang rumeksa Blambangan, Buta Locaya Kediri, Prabu Yeksa kang rumeksa Giripura.

… 03 …

Sidakare ing Pacitan, Keduwang si Klentingmungil, Hendrjeksa, ing Magetan, Jenggal si Tunjungpuri, Prangmuka Surabanggi, ing Punggung si Abur-abur, Sapujagad ing Jipang, Madiyun sang Kalasekti, pan si Koreg lelembut ing Panaraga.

… 04 …

Singabarong Jagaraga, Majenang Trenggiling wesi, Macan guguh ing Grobogan, Kaljohar Singasari, Srengat si Barukuping, Balitar si Kalakatung, Buta Kroda ing Rawa, Kalangbret si Sekargambir, Carub awor kang rumeksa ing Lamongan.

… 05 …

Gurnita ing Puspalaya, Si Lengkur ing Tilamputih, si Lancuk aneng Balora, Gambiran sang sang Kaladurgi, Kedunggede Ni Jenggi, ing Batang si Klewr iku, Nglasem Kalaprahara, Sidayu si Dandangmurti, Widalangkah ing Candi kayanganira.

… 06 …

Semarang baratkatiga, Pekalongan Gunturgeni, Pemalang Ki Sembungyuda, Suwarda ing Sokawati, ing Tandes Nyai Ragil, Jayalelana ing Suruh, Buta Tringgiling Tanggal, ing Kendal si Gunting geni, Kaliwungu Gutuk-api kang rumeksa.

… 07 …

Magelang Ki Samaita, Dadung Awuk Brebes nenggih, ing Pajang Buta Salewah, Manda-manda ing Matawis, Paleret Rajeg-wesi, Kutagede Nyai Panggung, Pragota Kartasura, Carebon Setan Kaberi, Jurutaman ingkang aneng Tegallajang.

… 08 …

Genawati ing Siluman, Kemandang Waringin-putih, si Kareteg Pajajran, Sapuregol ing Batawi, waru Suli Waringin, ingkang aneng Gunung Agung, Kalekah Ngawang-awang, Parlapa ardi Merapi, Ni Taluki ingkang aneng ing Tunjungbang.

… 09 …

Setan Karetek ing Sendang, Pamasuhan Sapu Angin, Kres apada ing Rangkutan, Wandansari ing Tarisig, kang aneng Wanapeti, Malangkarsa namanipun, Sawahan Ki Sandungan, Pelabuhan Dudukwarih, Buta Tukang ingkang aneng Pelajangan.

… 10 …

Rara Amis aneng Tawang, ing Tidar si Kalasekti, Maduretna ing Sundara, Jelela ing ardi Sumbing, Ngungrungan Sidamurti, Terapa ardi Merbabu, Lirbangsan ardi Kombang, Prabu Jaka ardi Kelir, Aji Dipa ardi Kendeng kang den reksa.

… 11 …

Ing pasisir Buta Kala, Telacap Ki Kala Sekti, Kala Nadah ing Tojamas, Segaluh aran si Rendil, Banjaran Ki Wesasi, si Korok aneng Lowange, gunung Duk Geniyara, Bok Bereng Parangtaritis, Drembamoa ingkang aneng Purbalingga.

… 12 ….

Si Kreta karangbolongan, Kedung Winong Andongsari, ing Jenu si Karungkala, ing Pengging Banjaransari, Pagelan kang winarni, aran Kyai Candralatu, ardi Kendali Sada, Ketek putih kang nenggani, Buta Glemboh ing Ngayah kajanganira.

… 13 …

Rara Denok aneng Demak, si Batitit aneng Tubin, Juwal-pajal ing Talsinga, ing Tremas Kuyang nenggani, Trenggalek Ni Daruni, si Kuncung Cemarasewu, Kala-dadung Bentongan, si Asmara aneng Taji, Bagus-anom ing Kudus kayanganira.

… 14 …

Magiri si Manglar Munga, ing Gading si Puspakati, Cucuk Dandang ing Kartika, Kulawarga Tasikwedi, kali Opak winarni, Sangga Buwana ranipun, Pak Kecek Pejarakan, Cing-cing Goling Kalibening, ing Dahrama Karawelang kang rumeksa.

… 15 …

Kang aneng Warulandeyan, Ki Daruna Ni Daruni, Bagus Karang aneng Roban, Pasujayan Udan riris, Widanangga Dalepih, si Gadung Kedung Garunggung, kang aneng Kabareyan, Citranaya kang neggani, Ganepura ingkang aneng Majaraga.

… 16 …

Logenjang aneng Juwana, ing Rembang si Bajulbali, si Londir ing Wirasaba, Madura Buta Garigis, kang aneng ing Matesih, Jaranpanolih ranipun, si Gober Pecangakan, Danapi ing Jatisari, Abar-abir ingkang aneng Jatimalang.

… 17 …

Arya Tiron ing Lodaya, Sarpabangsa aneng Pening, Parangtandang ing Kesanga, ing Kuwu si Ondar-andir, Setan Telaga pasir, ingkang aran si Jalilung, Kala Ngadang ing Tuntang, Bancuri Kala Bancuring, kang angreksa sukuning ardi Baita.

… 18 …

Rara Dungik Randu Lawang, ing Sendang Retna Pangasih, Buta Kepala Prambanan, Bok Sampur neng ardi Wilis, Raden Galanggang Jati, aneng ardi Gajah Mungkur, si Gendruk ing Talpegat, ing Ngembel Rahaden Panji, Pager Waja Rahaden Kusumayuda.

… 19 …

Si Pentul aneng Kacangan, Pecabakan Dodol Kawit, kalangkung kasektenira, titihane jaran panolih, kalacakra payung neki, larwaja kekemulipun, pan samya rinajegan, respati rajege wesi, cametine pat-upate ula lanang.

… 20 …

Sinabetaken mangetan, ana lara teka bali, tinulak bali mangetan, mangidul panyabet neki, ana lara teka bali, tinulak bali mangidul, ngulon panyabetira, ana lara teka bali, pan tinulak bali mangandap kang lara.

… 21 …

mangalor panyabetira, ana lara teka bali, tinulak ngalor parannya, manginggil panyabet neki, ana lara teka bali, tinulak bali manduwur, mangisor panyabetnya, ana lara teka bali, pan tinulak bali mangandap kang lara.

… 22 …

Demit kang aneng Jepara, kalwan kang aneng Pati, kalangkung kasektenira, keringan samaning demit, ing Ngrema Tambaksuli, Yudapeksa ing Delanggu, si Kluntung ing Jepara, Gambir Anom aneng Pti, si Kecebung Kadilangu kang den reksa.

… 23 …

Rara Duleg ing Mancingan, Guwa Langse Raja Putri, kang rumeksa Parang Wedang, Raden Arya Jayengwesti, kabeh urut pasisir, kula warga Nyai Kidul, sampun pepak sadaya, para pramukaning demit, nungsa Jawa paugeran kang rumeksa.

… 24 …

Gantya ingkang winursita, danyang kang ngreksa nagari, jroning praja Surakarta, ingkang pinurwa ing kawi, andana pangreksaning, kang ngripta wilapa kidung, Kyai Rangga timbalan Sang Aji, kang jumeneng Paku Buwana ping gangsal.

Tembang Asmarandana

… 01 …

Kasmaran ingkang pinuji, luputa ing ila-ila, den dohna tulak sarike, ngetang sagunge lelembat, kang kerah Goplem ika, demit lit-alit sadarum, pan dede demit pra raja.

… 02 …

Setan brekasakan sami, si Goplem ditya kebayan, demit jro karaton kabeh, sawabe kinarya tengga, wong sakit budur samya, punika ingkang pakantuk, kalawan wong sakit panas.

… 03 …

Gedong upas kang nenggani, Kala Janggol singkirannya, kang ngreksa Ringin kembare, Kala Sogoksilit ika, si Biti ing Pandeyan, lawan si Gutul Pinanggul, si Angklung aneng Gapura.

… 04 …

Si Lengur Waringin kalih, Bajang Klewer ngreksa Gladag, Jim Putih ing Mesjid gede, Kyai Gotil ing Pajeksan, Plentung Mangku Bumenan, Jungkit Patihan nggenipun, Kyai Modin Bumi Natan.

… 05 …

Tambur Pagongan nggoneki, Bajang Angkrik Tepasanan, Bagus Bengkak rumeksane, ing paseban Prang Wadanan, Gutik ing Pamurakan, si Bodong Loji, nggenipun, Bagus Keret ing Plenggahan.

… 06 …

Ing Karetek Wewe Gerit, Gandor Loji cilik nggennya, Bangkrah aneng dedalane, Pak Tekik, aneng Pacinan, Angkrik ing Pasar besar, kang rumeksa aneng Panggung, Jebres wasta Ki Balentang.

… 07 …

Gus Lampor Jagalan nenggih, Ki Busik ing Wanareja, Ki Londet ing Krapyak, nggone, Balatidir ing Kentingan, Lengkrah Pucangsawitan, Ketek-ketek aneng Jurug, ing Beton si Kalanadah.

… 08 ..

Loji kebon Uwil-uwil, Tengklik Cocor Keter rannya, Mele Pakecohan nggone, Busikmelik Kaluraman, si Jrangkong ing Penjalan, Kotes Sawahan nggenipun, Buta Piti aneng Sangkrah.

… 09 …

Ing Ganggang Bletutur nenggih, Patunggon si Basahlungkrah, Sanasewu dedanyange, Bok Suwenggi wastanira, Kopraljulig Sampangan, wus tamat sasaneng tembung, pamanguning padanyangan.

… 10 …

Gantya kang pinurweng kawi, kalamun darbe atmaja, jalu estri datan pae, nggenira amrih kamulyan, aywa na kang pepeka, lela-lelanen ing kidung, kinanti kalis ing sawan.

Tembang Kinanti

… 01 …

Yen anangis lare iku, lela-lelanen lan dikir, supaya doh kang lalara, sarap sawane yen wani, saking rahmating Hyang Suksma, lan supangate Njeng Nabi.

… 02 …

Winacaha puji iku, setane lumayu nggendring, sarap sawane sumimpang, kala kalane sumingkir, cacing racak pada mendak, remi kruma pada mati.

… 03 …

Pitik tulak pitik tukung, tetulaking jabang bayi, ngedohaken cacing racak, sarap sawane sumingkir, si tukung mangungkung ngarsa, si tulak bali ing margi.

… 04 …

Si jabang bayi puniku, kekasihira Hyang Widi, rineksa ing Malaekat, den emong ing Widadari, pinayungan ing Hyang Suksma, kinebutan para Nabi.

… 05 …

Sakatahe wali kutub, ngulama lan para mukmin, samya angreksa ki jabang, mila tebih ing sasakit, sirna larane ki jabang, walagang slamet ki bayi.

… 06 …

Ana kinjeng tangis tangis mabur, mentok aneng sela ardi, myarsa tangise ki jabang, gyha prapta amarepeki, arsa nyuwuk kang lelara, ngalingi sarwi njampeni.

… 07 …

Punapa t jampinipun, godong asrah ing Hyang Widi, berambang lembahing manah, temu teminahing ati, adas uyah siring nala, mung salawat puji dikir.

… 08 …

Tegese dikir puniku, manut marang Kanjeng Nabi, Mochammad Dinil Mustapa, kalawan maknane dikir, eling mring Pangeranira, kang Agung kang Maha Suci.

… 09 …

Mangkana ta donganipun, alahuma Adam Sarpin, kaheru huwal kamolah, wajibuhu ngalaihi, warabbuhu kayatullah, cep meneng aja anangis.

…10 …

Sapa manglong-manglong iku, aneng wetan tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si malang sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 11 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 12 …

Sapa manglong-manglong iku, aneng kidul tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si maling sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 13 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 14 …

Sapa manglong-manglong iku, aneng kulon tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si maling sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 15 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 16 …

Sapa manglong-manglong iku, aneng elor tengah kori, apa si maling aguna, dikongkon si maling sekti, amburu si asu ajag, tandesna marang jaladri.

… 17 …

Yen wus panggih prenahipun, kokopen getihe nuli, babalunge kemahana, yen asu ajag wus mati, baliya maling aguna, reksanen si jabang bayi.

… 18 …

Sapa ana lungguh iku, aneng kiwa-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 19 …

Sapa ana lungguh iku, aneng tengen-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 20 …

Sapa ana lungguh iku, aneng dagan-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 21 …

Sapa ana lungguh iku, Ulon-ulon-ningsun guling, apa si maling aguna, kinongkon si maling sekti, amburu si sarap sawan, larungen marang jaladri.

… 22 …

Sapa kuwe mengak-minguk, apa si Bajing akikik, kinongkon si Aji-plampang, arsa mrawaseng ajurit, amburu si Kutilapas, payo burunen den aglis.

… 23 …

Tundungen dimene mumbul, sumengka ing awiyati, yen wis adoh tan katingal, sigra baliya den aglis, moluwa maling aguna, angreksa si jabang bayi.

… 24 …

Apa swarane gumludug, kadya lindu gonjang-ganjing, layak si Bledug kasanga, pada atanding kuwanin, kalawan Sapi Gumarang, payo buraken den aglis.

… 25 …

Yen wus sumengka manduwur, sira baliya tumuli, ngumpula si Aji-plampang, atunggu si jabang bayi, ingsun matak aji dipa, ingsun tuduh anggoleki.

… 26 …

Burunen celeng Demalung, tundungen dimen manginggil, yen wus ora katingalan, sira baliya den aglis, reksanen ingkang santosa, anak ingsun jabang bayi.

… 27 …

Dadiya tetulak tanggul, aja na kang sarap sawan, sumingkira ingkang tebih, kariya guna yuwana, utama bekti basuki.

… 28 …

Widada dawa kang umur, kacukupan sandang bukti, ntuk wahyu begja daulat, drajat nugrahaning Widi, cepak jatu kramanira. Oyod arondon lestari.

… 29 …

Sawengi aja na turu, adohna sakeh bilai, singkirna sakehing lara, tulak sarik samya kandih, baliya nuju wetonnya, si jabang amales becik.

… 30 …

Gantya mangke kang winuwus, nunggal anggite wong luwih, ngukarani pepujiyan, tutulaking jabang bayi, sinawang yuda-kenaka, mamrih rahayuning urip.

Tembang Pangkur

… 01 …

Singgah-singgah kala singgah, pan suminggah durga kala sumingkir, singa ama sing awulu, sing suku sing asirah, sing atenggak lawan kala sing abuntutut, pada sira suminggaha, muliya mring asal neki.

… 02 …

Ana kanung saka wetan, nunggang gajah telale elar singgih, kulahu barang balikul, setan lan brekasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 03 …

ANa kunang kidul sangkanya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang balikul, setan lan berkasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 04 …

ANa kunang kulon sangkanya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang balikul, setan lan berkasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 05 …

ANa kunang lor sangkanya, nunggang gajah telale elar singgih, kullahu barang balikul, setan lan berkasakan, amuliya mring tawang towang prajamu, eblise ywa kari karang, kulhu balik bolak balik.

… 06 …

ambalik maring awaknya, mbalik marang jasatira pribadi, mbalik karsaning Hyang Agung, tamat pasinggah setan, tulak sarap punika gantya winuwus, arane sarap den ucap, sagung kama salah sami.

… 07 …

Arane sarap kang lanang, kulhu putih kang wadon kulhu kuning, ywa wuruk sudi mring sun, ywa marang kaki jabang, sarap mangke sarap wedang sarap awu, pada sira suminggaha, muliha mring asal neki.

… 08 …

Samya geger setan wetan, anrus jagad kulon playune demit, kang tengah Batara Guru, tinutup Nabi Sleman, iblis setan berkasakan ajur luluh, ki jabang bayi wus mulya, liwat siratal mustakim.

… 09 …

Geger stan kidul samya, anrus jagad elor playune demit, kang tengah Batara Guru, tinutup Nabi Sleman, iblis setan berkasakan ajur luluh ki jabang bayi wus mulya, liwat siratal mustakim.

… 10 …

Ajiku gajah pamudya, kebo dungkul brapa rep-sirep sami, sirepa lelara iku, asuwung jantung jagad, tuting mata-mata liring manik ingsun, panahku sapu buwana, dadekna kusuma adi.

… 11 …

Tibakna mring janma lupa, eling mengko eling embenireki, salamet saumuripun, apan ingsun wus wikan, sun angadeg satengahing sagara gung, palinggihku lintang johar, ingkang ingsun-sedya dai.

… 12 …

Tan pegat pamuji mantra, pun Jaswadi putra ing Kodrat-manik, lailaha-ilalahu, Mochammad Rasulullah, salalahu ngalaihi wa salamu, wa ngalaekum salam, agantya manising puji.

Tembang Dhandhanggula

… 01 …

Sipat iman wa mantu bilahi, tegesipun pracaya ing Allah, ing Pangeran sajatine yan Pangeran kang Agung, kang akarya bumi lan langit, angganjar lawan niksa, mring manungsa sagung, langgeng tur murba misesa, Maha Suci angganjar paring rijeki, aniksa angapura.

… 02 …

Kaping kalih wa malaekati, tegesipun pracaya malaekat, anapun tegesem ingutus ing Hyang Agung, pakaryane anunulisi, marang kawulanira, kang dosa lit agung, kang karya purba wisesa, neka-neka gawena sawiji-wiji, sakehe malaekat.

… 03 …

Kaping tigane wa kutubihi, tegesipun pracaya ing kitab, kang tinurunaken kabeh, kitab Adam sapuluh, Nabi Esis seket winilis, anenggih ponang kitab, Idris telung puluh, Ibrahim sapuluh kitab, Torat Musa Dawud Jabur Ngisa Injil, kitab Kuran Mochammad.

… 04 …

Yogya sira kawruhana sami, muga-muga antuka supangat, iya iku andikane, gusti Njeng Nabi Rasul, sinung rahmat dening Hyang Widi, sing sapa ngapalena, iya janjinipun, den padakken asidekah, saben warsa sami lan wong munggah kaji, sapisan marang Mekah.

… 05 …

Lan den dohken sakehing bilai, sinung rahmat ing donnya akerat, sarta linebur dosane, lan malih sawabipun, lamun ana janma kang sakit, lan sira wacakena, ngulon-ulonipun, ngalamat ingkang alara, oleh tamba saking sabdaning Hyang Widi, lan berkahing Panutan.

… 06 …

Kawruhana kehing pra Nabi, Nabi Adam kang mangka wiwitan, Nabiyullah wekasane, katahe yen pinetung, kawan dasa langkung kalih, lah sigra estokena, sadaya den emut, luwih agung kang supangat, lemah sangar kayu aeng lebur sami, tan ana kara-kara.

… 07 …

Gantya malih murwanio amuji, Caritane nenggih wringin sungsang, punika ageng sawabe, ananging ta kalamun, winaca sru pareng nujoni, ana wanudya wawrat, iku tan pakantuk, manawa dadya jalaran anggogrogken wetengane kang nggarbini, dadya wasaneng durma.

Tembang Durma

… 01 …

Wringin sungsang wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, angker kalane wengi.

… 02 …

Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.

… 03 …

Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar, kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi kekenten adi.

… 04 …

Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.

… 05 …

Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.

… 06 …

Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.

… 07 …

Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.

… 08 …

Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig, ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.

… 09 …

Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala, ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos wesi.

… 10 …

Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.

… 11 …

Ana kidung sun-angidung bale anyar, tanpa galar asepi, ninis samun samar, patining wuluh kembang, siwur burut tanpa kancing, kayu trisula, gagarannya calimprit.

… 12 …

Sumur bandung sisirah talaga mancar, tibeng jaja ajail, dinding endas parah, ulur-ulur liweran, tatambang jaringing maling, dadal dadnya, gagulung ing gagapit.

… 13 …

Naga raja pangawasan manik kembang, kembang gubel abaji, tajem neng kandutan, udune sarwi nungsang, kurangsangan angutipil, angajak-ajak.

MEMBUKA RAHASIA ILMU KASAMPURNAAN

4 Maret 2011

Ketika selesai membangun pesantren, Raden Paku teringat salah satu bungkusan yg harus dibukanya. Ia ingat kata2 ayahnya kalau bingkisan itu berisi rahasia ilmu sejati yg harus dibacanya. Dengan hati2 dibukanya bungkusan tsb. Didalamnya ada beberapa lembar daun lontar bertuliskan huruf arab pegon. Segera dibacanya tulisan tsb.

A. Tentang Macam Ilmu Manusia.

Adalah suatu yg pasti terjadi anakku, ketahuilah ini, renungkan demi kasampurnaan ilmumu. Di dunia ini, entah kapan, sakit, dan mati pasti terjadi. Maka hendaklah waspada, tidak urung kita juga akan mati, jangan lupa pada sangkan paran dumadi. Untuk itu, di dunia ini hendaklah selalu prihatin. Agar benar2 sempurna engkau berilmu.

Dalam memperbincangkan ilmu kasempurnaan ini, jangan lupa arti bahasanya jika engkau mempertanyakannya. Karena mengetahui arti bahasa adalah kuncinya. Kesungguhanlah yg pasti, itulah yg perlu benar2 engkau mengerti. Jangan takut pd biaya. Bukan emas, bukan dirham, dan bukan pula harta benda. Namun hanya niat ikhlas saja yg diperlukan.

Adapun ilmu manusia itu ada 2, anakku. Yang pertama adalah ilmu kamanungsan yg lahir daru jalan indrawi dan melalui laku kamanungsan. Yang kedua adalah ilmu kasampurnaan yg lahir melalui pembelajaran langsung dari Sang Khalik. Untuk yg kedua ini, ia terjadi melalui 2 cara, yaitu dari luar dan dari dalam. Yang dari luar, dilalui dg cara belajar. Sedangkan yg dari dalam, dilalui dg cara menyibukan diri dg jalan bertapa ( bertafakur ).

Adapun bertafakur secara batin itu sepadan dg belajar secara lahir. Belajar memilki arti pengambilan manfaat oleh seorang murid dari gerak seorang guru. Sedangkan tafakur memilki makna batin, yaitu suksma seorang murid yg mengambil manfaat dari suksma sejati, ialah jiwa sejati.

Suksma sejati dalam olah ngelmu memilki pengaruh yg lebih kuat dibandingkan berbagai nasehat dari ahli ilmu dan ahli nalar. Ilmu2 seperti itu tersimpan kuat pada pangkal suksma, bagaikan benih yg tertanam dalam tanah, atau mutiara di dasar laut.

Ketahuilah anakku, kewajiban orang hidup tidak lain adalah selalu berusaha menjadikan daya potensial yg ada di dalam dirinya menjadi suatu bentuk aksi (perbuatan) yg bermanfaat. Sebagaimana engkau juga wajib mengubah daya potensial yg ada dalam dirimu menjadi perbuatan, melalui belajar. Sejatinya dalam belajar, suksma sang murid menyerupai dan berdekatan dg suksma sang guru. Sebagai yg memberi manfaat, guru laksana petani. Dan sbg yg meminta manfaat, murid ibarat bumi atau tanah.

Anakku ketahuilah, ilmu merupakan kekuatan seperti benih atau tepatnya seperti tumbuh2an. Apabila suksma sang murid sudah matang, ia akan menjadi seperti pohon yg berbuah, atau seperti mutiara yg sudah dikeluarkan dari dasar laut. Jika kekuatan badaniah mengalahkan jiwa, berarti murid masih harus terus menjalani laku prihatin dalam olah ngelmu dg menyelami kesulitan demi kesulitan dan kepenatan demi kepenatan, dalam rangka menggapai manfaat.

Jika Cahaya Rasa mengalahkan macam2 indra, berarti murid lebih membutuhkan sedikit tafakur ketimbang banyak belajar. Sebab suksma yg cair atau dalam bahasa arab dsb nafs al-qabil akan berhasil menggapai manfaat walau hanya dg berfikir sesaat, ketimbang proses belajar setahun yg dilakukan oleh suksma yg beku nafs al-jamid.

Jadi, engkau bisa meraih ilmu dg cara belajar, dan bisa juga mendapatkannya dg cara bertafakur. Walaupun sebenarnya dalam belajar itu juga memerlukan proses tafakur. Dan dg tafakur engkau tahu manusia hanya bisa mempelajari sebagian saja dari seluruh ilmu dan tidak bisa semuanya.

Banyak ilmu2 mendasar atau yg dsb annazhariyyah dan penemuan2 baru, berhasil dikuak oleh orang2 yg memilki kearifan. Dg kejernihan otak, kekuatan daya fikir dan ketajaman batin, mereka berhasil menguak hal2 tsb tanpa proses belajar dan usaha pencapaian ilmu yg berlebihan.

Dg bertafakur, manusia berhasil menguak ajaran sangkan paraning dumadi . Dg begitu terbukalah asumsi dasar dari keilmuan sehingga persoalan tidak berlarut2 dan segera tersingkap kebodohan yg menyelimuti kalbu.

Seperti telah kuberitahukan sebelumnya anakku, suksma tidak bisa mempelajari semua yg di inginka, baik yg bersifat sebagian ( juz’i / parsial ) maupun yg menyeluruh ( kulli / universal ) dg cara belajar. Ia harus mempelajari dg induksi, sebagian dg deduksi sebagaimana umumnya manusia dan sebagian lagi dg analogi yg membutuhkan kejernihan berfikir. Berdasarkan hal ini, ahli ilmu terus membentangkan kaidah2 keilmuan.

Ketahuilah anakku.
Seorang ahli ilmu tidak bisa mempelajari apa yg dibutuhkan seluruh hidupnya. Ia hanya bisa mempelajari keilmuan umum dan beragam bentuk yg merupakan turunannya dan hal itu menjadi dasar untuk melakukan qiyas terhadap berbagi persoalan lainnya. Begitu pula para tabib, tidaklah bisa mempelajari seluruh unsur obat2an untuk orang lain. Meraka hanya mempelajari gejala2 umum. Dan setiap orang diobati menurut sifat masing2 Demikian juga para ahli perbintangan, mereka mempelajari hal2 umum yg berkaitan dg bintang, kemudian berfikir dan memutuskan berbagai hukum.Demikian juga halnya seorang ahli fikih dan pujangga. Begitu seterusnya, imajinasi dan karsa yg indah2 berjalan. Yang satu menggunakan tafakur sbg alat pukul, semacam lidi, sedangkan yg lain menggunakan alat bantu lain untuk merealisasikan.

Anakku jika pintu suksma terbuka, ia akan tahu bagaimana cara bertafakur dg benar dan selanjutnya ia bisa memahami bagaimana merealisasikan apa yg diinginkan. Karena itu hati pun menjadi lapang, pikiran jadi terbuka dan daya potensial yg ada dalam diri akan lahir menjadi aksi (perbuatan) yg berkelanjutan dan tak mengenal lelah.

B. Memahami Ilmu Kasampurnaan.

Ketahuilah anakku bahwa ilmu kasampurnaan itu ada 2 macam,

Pertama, diberikan melalui wahyu.

Apabila suksma manusia telah sempurna, niscaya akan sirna segala sesuatu yg dapat mengotori watak, seperti halnya sikap rakus dan impian semu. Suksma akan menghadap Sang Pencipta, merengkuh cintaNya dan berharap manfaat serta limpahan cahayaNya.

Allah akan menyambut suksma itu secara total. Tatapan Ketuhan memandanginya dan menjadikannya seperti papan. kemudian Allah akan menjadikan pena dari suskma sejati. Dan pena itu diukirkan ilmu pada papan tadi.

Suksma sejati laksana guru, suksma manusia suci ibarat sang murid. Sehingga dicapailah seluruh ilmu, dan padanya semua bentuk terukir tanpa proses belajar maupun berfikir. Dalilnya : “Dan Dialah yg mengajarkanmu apa2 yg tidak kamu ketahui” (QS. An-Nisa:213).

Ilmu para nabi lebih tinggi derajatnya dibandingkan ilmu mahluk2 yg lain. Karena ilmu tsb diperoleh langsung dari YME tanpa perantara. Kau bisa memahami dalam kisah para malaikat dg kanjeng Nabi Adam. Sepanjang usianya para malaikat terus belajar. Dan dg berbagi cara mereka berhasil mendapatkan banyak macam ilmu, sehingga mereka menjadi mahluk yg paling berilmu dan mahluk paling berpengetahuan.

Sementara itu Adam tidaklah tergolong ahli ngelmu karena ia tidak pernah belajar dan berjumpa dg seorang guru. Malaikat bangga dan dg besar hati mereka berkata:” padahal kami Senantisa bertasbih dg memuji Engkau dan mensucikan Engkau.” (QS. Al-Baqarah:30).

Kanjeng Nabi Adam kembali menuju Sang Pencipta. Lantas beberapa bagian dalam hati Kanjeng Nabi oleh Allah dikeluarkan ketika ia menghadap dan memohon pertolongan kepada Tuhan. Lalu Allah ajarkan seluruh nama2 benda. “Kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat, lantas Allah berfirman: “Sebutkanlah kepadaku nama benda2 itu jika kamu memang orang2 yg benar” (QS. Al-Baqarah:31).

Ketahuilah, malaikat menjadi kerdil dihadapan Adam. Ilmu mereka menjadi terlihat sempit. Mereka tak bisa berbangga dab besar hati, justru yg ada hanya rasa tak berdaya. “Maha Suci Engkau, tidak ada yg kami ketahui selain dari apa yg Engkau ajarkan kpd kami” (QS. Al-Baqarah:32).

Maka kepada mereka Adam diberitahukan bbrp bagian ilmu dan hal2 yg masih tersembunyi. Akhirnya jelaslah bagi kaum berakal, bahwa ilmu gaib yg bersumber dari wahyu lebih kuat dan lebih sempurna dibandingkan ilmu yg diperoleh dg penglihatan langsung.

Ilmu yg diperoleh melalui wahyu merupakan warisan dari hak para nabi. Namun mulai masa Kanjeng Nabi Muhammad pintu wahyu telah ditutup oleh Allah. Sebab Muhammad adalah penutup para nabi. Dia mewakili sosok paling berilmu dan paling fasih dikalangan manusia. Allah telah mendidiknya dg budi pekertinya menjadi baik.

Ketahuilah anakku, Ilmu Rasul itu lebih sempurna, lebih mulia, dan kuat. Karena ilmu tsb diperoleh langsung dari Sang Khalik. Beliau sama sekali tidak pernah menjalankan proses belajar-mengajar insani.

Ilmu Kasampurnaan yg Kedua,

disampaikan sebagai ilham yaitu peringatan suksma sejati terhadap suksma manusia berdasarkan kadar kejernihan, penerimaan dan daya kesiapannya. Ilham boleh dikatakan mengiringi wahyu. Kalau wahyu merupakan penegasan perkara gaib, maka ilham merupakan penjelasannya. Ilmu yg diperoleh dg wahyu itulah sejatinya ilmu kenabian, sedangkan yg diperoleh dg ilham itulah sejatinya ilmu kewalian.

Ilmu kewalian diperoleh secara langsung, tanpa perantara antara suksma dan Sang Pencipta. Ilmu Kasampurnaan itu laksana secercah cahaya dari alam gaib, yang datang menerpa hati yg jernih, hampa dan lembut.

Semua ilmu merupakan produk pengetahuan yg diperoleh dari suksma sejati yg terdapat dalam inti sangkan paraning dumadi
dg menisbatkan pada RASA SEJATI, seperti penisbatan Siti Hawa kepada Kanjeng Nabi Adam.

Ketahuilah anakku, rasa sejati lebih mulia, lebih sempurna dan lebih kuat dari disisi Allah dibandingkan suksma sejati. Sedangkan suksma sejati lebih terhormat, lebih lembut dan lebih mulia dibandingkan mahluk2 lain.

Adapun ilham itu terlahir dari melimpahnya rasa sejati dan juga terlahir dari melimpahnya pancaran sinar suksma sejati. Jika wahyu menjadi perhiasan para nabi, maka ilham menjadi perhiasan para wali. Adapun ilmu yg diperoleh dari wahyu adalah sebagaimana suksma tanpa rasa atau wali tanpa nabi. Begitu pula ilham tanpa wahyu akan menjadi lemah. Ilmu akan menjadi kuat jika dinisbatkan kepada wahyu yg bersandar pada penglihatan ruhani. Itulah ilmu para nabi dan wali

Ketahuilah, ilmu yg diperoleh dg wahyu hanya khusus bagi para rasul, seperti diberikan kepada Adam, Musa, Ibrahim, Isa, Muhammad saw dan para rasul lain. Itulah yg menbedakan antara risalah dg nubuwwah .
Adapun nubuwwah adalah perolehan hakikat dari ilmu dan rasionalitas2 oleh suksma yg suci kepada orang2 yg mengambil manfaat. Barangkali perolehan semacam itu didapat salah satu suksma, tetapi ia tidak berkewajiban menyebarkannya karena suatu alasan dan oleh sebab2 tertentu.

Ilmu kasampurnaan menjadi milik seorang nabi dan wali, sebagaimana dimilki Khidir a.s. Hal itu terdapat pd dalil: “Dan yg telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami” (QS. Al-Kahfi:65).

Ingatlah ketika khalifah Ali berujar: “Kumasukan lisanku kemulutku, hingga terbukalah dihatiku seribu pintu ilmu, yg pada setiap pintu terdapat seribu pintu yg lain”. Dan ia berkata: “Andai kuletakkan bantal dan aku duduk diatasnya, niscaya aku akan mengambil putusan hukum bagi penganut Taurat berdasarkan Taurat mereka, bagi penganut Injil berdasarkan Injil mereka, dan bagi penganut al-Quran berdasarkan al-Quran mereka”.

Derajat seperti ini tidak bisa diterima dg melalui ilmu kemanungsa semata yg hanya dari pembelajaran insani. Pastilah seseorang yg telah mencapai derajat tsb telah dikarunia ilmu kasampurnaan.

Jika Allah menghendaki kebaikan pada dirimu, Dia akan menyingkap tabir atau hijab yg menhalangi dirimu dg suksma yg menjadi papan itu. Dg demikian, sebagian rahasia dari apa2 yg tersembunyi akan ditampakan pdmu. segenap makna yg terkandung didalam rahasia tsb akan terpahat pd suksmamu. Dan suksma itupun mengungkapkan sebagaimana engkau ingin karena dikehendakiNya..

Sejatinya, kearifan bisa lahir dari ilmu kasampurnaan. Selama engkau belum mencapai derajat atau tingkatan ini, engkau tidak akan menjadi seorang arif.
Karena kearifan merupakan pemberian Hyang Widi.
Dalilnya : ” Allah menganugrahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar2 telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang2 yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran ” (QS. Al-Baqarah:269).

Hal itu karena orang2 yg berhasil mencapai ilmu kasampurnaan tidak perlu lagi banyak berusaha memahami ilmu secara induktif dan berpayah-payah belajar. Orang yg demikian sedikit belajar, banyak mengajar, sedikit capai, banyak istirahat.

Ketahuilah anakku, setelah wahyu terputus dan sesudah pintu risalah ditutup, umat manusia tidak lagi membutuhkan kehadiran rasul atau utusan. Mereka tidak lagi memerlukan penampakan dakwah setelah penyempurnaan agama. Bukanlah termasuk kearifan menampakan nilai lebih tidak berdasarkan kebutuhan.

Tapi ketahuilah anakku, pintu ilham itu tidak pernah ditutup. Pancaran cahaya suksma sejati tidak pernah terputus. Karena suksma terus membutuhkan arahan, pembaharuan dan peringatan. Umat manusia tidak memerlukan risalah dan dakwah, tetapi masih membutuhkan peringatan sebagai akibat dari tenggelamnya mereka pada rasa was-was dan terhanyut oleh gelombang syahwat.

Karena itu Allah menutup pintu wahyu sebagai pertanda bagi hamba-Nya dan membuka pintu ilham sebagai rahmat serta menyiapkan segala sesuatu menyusun tingkatan2 supaya mereka tahu bahwa Allah Maha Lembut kepada hamba2-Nya, memberikan rezeki kepada siapa saja yg dikendaki tanpa perhitungan. Selesai sudah nasehatku tentang kawruh kesejatian yg kubeberkan padamu. Hendaklah engkau bisa menggunakan sebaik mungkin.

Dengan sikap takzim, Raden Paku ( Sunan Giri ) menerawang ke depan membayangkan wajah ayahandanya mengucapkan sendiri kata2 yg barusan dibacanya. Digengamnya erat2 lembaran lontar itu, lalu didekapkan didada serasa hendak menggoreskan makna dalam hatinya. Suatu makna dari nasehat orang suci yg tak lain adalah ayahandanya sendiri Syeh Wali Lanang / Syeh Awallul Islam ( Maulana Ishak ), lelaki suci keturunan manusia utama.

AKSARA JAWA SAKING SERAT WIRID

4 Maret 2011

1. Ha           :    Hananira sejatine wahananing Hyang.
Adanya pada hakekatnya adalah pendukung Hyang …. wujud atau kebenaran.

2. Na          :    Nadyan ora kasad mata pasti ana.
Meskipun tidak nampak oleh mata, tetapi ia pasti ada.

3. Ca           :    Careming Hyang yekti tan ceta wineca.
Nikmatnya Hyang yang sesungguhnya tak (dapat) diuraikan dengan jelas(mempergunakan kata-kata). Karena tak ada sesuatu yang menyerupai Hyang.

4. Ra           :    Rasakena rakete lan angganira.
Rasakanlah eratnya dengan badanmu.

5. Ka           :    Kawruhanan jiwa kongsi kurang weweka.
Ketahuan dari jiwa jika kurang diusahakan.

6. Da          :    Dadi sasar yen sira nora waspada.
Jika tidak waspada (kau) akan menjadi sesat.

7. Ta          :    Tamatna prabaning Hyang Sing Sasmita.
Perhatikanlah cahaya Hyang yang memberikan isyarat.

8. Sa          :     Sasmitane kang kongsi bisa karasa.
Isyarat yang sampai dapat dirasakan.

9. Wa          :    Waspadalah wewadi kang sira gawa.
Lihatlah dengan seksama (sifat) batin sesungguhnya yang anda bawa.

10. La         :    Lalekna yen sira tumekeng lalis.
Lupakanlah pada waktu anda sampai pada kematian.

11. Pa          :   Patisasar tan wus manggyapapa.
Kematian sesat yang tak sampai pada tujuan akan menjumpai kesengsaraan.

12. Dha        :   Dhasar beda lan kang wus kalis ing godha.
Pada dasarnya berbeda dengan (orang) yang telah tak terpengaruh oleh godaan.

13. Ja           :   Jangkane mung jenak jemjeming jiwaraga.
Rencana tindakannya, hanya tahan tenteram didalam kebesaran jiwa.

14. Ya           :  Yatnanana liyep luyuting pralaya.
Lihatlah dalam keadaan lupa-lupa ingat mengaburnya pralaya/kematian.

15. Nya         :  Nyata sonya nyenyet lebeting kadonyan.
Nyata (bahwa) sunyi senyap (segala) jejak keduniawian.

16. Ma          :  Madyen ngalam perantunan aja samara.
Ditengah “ngalam perantunan” janganlah ragu-ragu.

17. Ga          :  Gayuhaning tanaliyan jung sarwa arga.
Tak ada lain yang hendak dicapai kecuali segala “gunung” atau “jamuan”.

18. Ba          :   Bali murba wisesa ing njero njaba.
Kembali mengatur menguasai (segi) luar dan dalam.

19. Tha         :  Thukulane widadarja tebah nistha.
Tumbuhnya kekuatan hukum menembus kerendahan/kehinaan.

20. Nga        :  Ngarah-arah ing reh mardi-mardiningrat.

Berhati-hati dalam merencanakan pengaturan-mengatur dunia.Uraian mengenai 20 petunjuk “aksara” – dari serat sastra gending; Karya Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma.

1. Sahasa Jawa.

“Kawuri pangertine Hyang, taduhira sastra kalawan gending, sokur yen wus sami rujuk nadyan aksara jawa, datan kari saking gending asalipun, gending wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji”.

Bahasa Indonesia.

“Pemusatan diri pada Hyang, petunjuknya berupa sastra (syariat) dan bunyi gending (Manipat). Jika telah disepakati (bersama), meskipun aksara jiwa tidak meninggalkan bunyi gending asalnya, bunyi gending sejak jaman purbakala, seperti yang telah diucapkan terdahulu.”

2. Bahasa Jawa

“Kadya sastra kalidasa, wit pangestu tuduh kareping puji, puji asaling tumuwuh, mirit sang akadiyat, ponang : Ha na ca ra ka : pituduhipun, dene kang : da ta sa wa la; kagetyan ingkang pinuji”.

Bahasa Indonesia

“Seperti halnya sastra (aksara jawa) yang dua puluh (adalah) sebagai pemula untuk mencapai kebenaran, yang mempatkan petunjuk akan makna puji, serta puji kepada segala sumber yang tumbuh (atau hidup); memberikan (mirit) ajaran akadiyat berupa ha na ca ra ka, petunjuknya. Sedang da ta sa wa la, adalah berarti kepada (kepada Tuhan) yang dipuji”.

3. Bahasa Jawa.

“Wadat jati kang rinasan, ponang: pa da ja ya nya; angyekteni, kang tuduh lan kang tinuduh, pada santosanira, wahanane wakhadiyat pembilipun, dene kang : ma ga ba ta nga, wus kenyatan jatining sir”

Bahasa Indonesia

“Wadat jati yang dirasakan berupa: pa da ja ya nya; adalah yang menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk adalah sama teguhnya; tujuannya (adalah) mendukung dan akhadiyat, sedang: ma ga ba ta nga (berarti) sudah menjadi nyata (keadaan) sir yang sejati?’.

4. Bahasa Jawa.

“Pratandane Manikmaya, wus kenyatan kawruh arah sayekti, iku wus akiring tuduh, Manikmaya an taya, kumpuling tyas alam arwah pambilipun, iku witing ana akal, akire Hyang Maha Manik”.

Bahasa Indonesia.

“Tanda (daripada) Manikmaya (terlihat) juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir dari pada petunjuk; Manik Maya adalah Tiada/Taya (suwung) (yaitu) bersatunya hati dengan alam arwah; itulah saat mulanya ada akal, dan adalah akhir dari pada Hyang Maha Manik”.

5. Bahasa Jawa.

“Awale Hyang Manikmaya, gaibe tan kena winoring tulis, tan arah gon tan dunung, tan pesti akir awal, manembahing manuksmeng rasa pandulu, rajem lir hudaya retna, trus wening datanpa tepi”.

Bahasa Indonesia.

“Kegaiban dari awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap dengan tulisan, tiada awal dan tiada tempat, tiada arah dan tiada akhir; sembahnya (dengan) melebur ke dalam rasa penglihatan, (bersifat) tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi”.

6. Bahasa Jawa.

“Iku telenging paningal, surah sane kang sastra kalih desi, lan mirit sipati rong puluh, sipat kahananing dat, ponang akan durung ana ananipun kababaring gending akal, Manikmaya wus kang ngelmi”.

Bahasa Indonesia

“Itulah pusat penglihatan, makna daripada dua puluh aksara, dan (juga) mengajarkan sifat dua puluh, sifat keadaan Dat, ketika akal belum mengada (ada) terurai dalam kata-kata (yang) menyatakan akal, Manikmaya itulah Ngelmi”

SUKMA SEJATI

4 Maret 2011

Sebenarnya Sukma sejati, sukma jati, guru sejati atau guru murshid sama saja…cuma sebutannya saja yang berbeda…..ada juga yang menyebutnya dengan Nur Muhammad yang disebut Ruh idhlafi yang merupakan Hakikat Sukma dan ini merupakan kehendak dari Dzat Yang Maha Suci.

 

Nur Muhammad adalah hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat dan merupakan perbuatan Atma dan menjadi Wahana dalam Alam Arwah ( Martabat 7 ) dan dari Nur Muhammad inilah yang menimbulkan Unsur-unsur Kehidupan yang menjadi Asal muasal Kehidupan.

 

Sukma sejati adanya pada kedalaman pribadi yang di pegang oleh Sang Pribadi…..melalui proses pengenalan diri sendiri maka muncullah cermin memalukan yang memberikan kenyataan kesadaran bahwa kotornya diri kita dan melalui proses selanjutnya maka kita bisa mulai mencari dan menemukan Sang Sukma sejati atau Adam Makna ……sama saja.

Dan dalam proses menemukan yang di butuhkan adalah totalitas Kesadaran, Keikhlasan, Ketulusan dan Kebulatan Tekad hanya untuk MencintaiNya seutuhnya ……tanpa ketakutan akan neraka atau keinginan akan sorga….yang ada hanya Dia.

 

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

 

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

 

Kenapa saya sebut sebuah perjalanan.

Karena ini semua harus kita jalani sendiri, dengan mulai dari sebuah keraguan, pencarian, penemuan, pemahaman, kesadaran dan penyatuan…..dalam sebuah cinta kasih yang tulus, dengan pengorbanan yang tak terkira untuk sampai kesana…untuk sampai ke pantai dan melihat samudera…untuk melihat dimana semua sungai bermuara   (  kembali ).

Seperti Bima bertemu Dewa Ruci.

Bagaimana pertama kali kita akan dihadang oleh nafsu 4 perkara…..mula-mula sinar lutam, sinar merah, sinar kuning, sinar putih.

Berakhirnya perjalanan ….Pada zaman karamatullah kelak, waktunya maqamijabah, yakni terkabulnya segala sesuatu, segala apa yang dikehendaki terlaksana, karena lenyapnya Mutdah yang merupakan Dzat hamba, tinggallah Wajah yaitu Dzat Tuhan yang bersifat kekal.

 

Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.

Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…

Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.

 

Dalam Kehidupan ini faktor yang sering dilupakan kita sebagai manusia yang kadang mentang-mentang sebagai khalifah ( pemimpin ) dan merupakan Tajali ( perwujudan ) dari Sang Maha Sempurna, adalah dari mana kita ” berasal ” dan bagaimana kita ” kembali ke asal “.

Sehingga kadang kita melupakan bahwa bahwa kita terdiri dari 2 bagian…..yaitu yg bernama “Jasad” ( raga )dan “Ruh” ( jiwa )……dan dalam menempuh hidup dan kehidupan, biasanya kita lebih banyak termakan dogma dari sebuah kehidupan yang mengandalkan atau menampilkan baju dari masing-masing sehingga hakikat atau makna dari dalam bajunya jarang tersentuh.

Bagaimana Jasad atau raga itu adalah sebagai baju dari Ruh atau jiwa….jiwa menemukan raga begitu di dunia…..dahulu disana tiadalah memerlukan baju atau apapun, raga memerlukan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk bertahan di dunia, sedangkan jiwa merindukan tempatnya yang dahulu, dimana tidak memerlukan apapun di alam adam makdum…..
Bagaimana sebuah raga begitu memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia sehingga akhirnya kadang berbenturan dengan keinginan ruh yang tidak merindukan apa-apa, tetapi ruh tanpa raga adalah bukan siapa-siapa karena Keagungan Perwujudan Dzatullah tidak akan terlihat.

Demi menjaga keseimbangan haruslah kita mempertimbangkan tentang keduanya…… bagaimana begitu kita berwujud sudah berbekal 4 nafsu inti, lawwammah, amarah, sufian dan muthmainah, yg apabila bicara seharusnya……harusnya adalah kita harus mematikan dalam wacana mematikan nafsu 4 perkara :Mati nafsunya, setiap nafsu akan merasakan maut. Mati rohnya, maksudnya yang hilang rahsanya. Mati ilmunya, maksudnya yang mati atau yang berjurang imannya. Mati hatinya, maksudnya yang mati ucapannya dengan lisan.

Dan yang melandasi hukumnya adalah ; Jalan untuk kesempurnaan Pati itu adalah Hidayatullah yang menandakan tempat yang telah diatur, serta hakikat hidup yang berada pada manusia. Kedudukan Pati petunjuk Allah taala, selamat dalam keadaan jati maksudnya bijaksana terhadap kesempurnaan sangkan paran. Bertemunya Pati itu tawakal maksudnya berserah diri kepada Allah taala, adapun bertemunya apti itu iradat Allah. Perkara Pati perbuatan Allah maksudnya merapakan kesempurnaan Dza yang bersifat Esa.

 

Janganlah kita terpaku pada sebuah nama atau sebutan…..karena pasti akan menimbulkan perbedaan bahkan kekacauan dan berujung kehancuran.

Dalam khasanah jawa disebut sukma sejati dan sejatining sukma, dalam khasanah islam disebut ruh idhafi atau nur muhammad atau ruh al quds ( ruh suci ), dalam nasrani di sebut ruh kudus, dalam hindhu atma.

 

Dalam perjalanannya kenapa disebut guru sejati atau guru mushid…..adalah pada saat kita mencari sesuatu yang murni atau sejati, abadi…..bahwa kita harus menyadari bahwa DzatNya ada pada sifat hidup kita dan yang pantas kita jadikan guru adalah hanya itu…..bukan yang lain yang sama dengan kita yang akan menjadi tanah lagi atau bahkan dari bangsa dilura manusia.

 

Dalam khasanah yang berbeda keberadaan sukma sejati tidak bisa dilepaskan dari asal mula Tuhan menciptakan Ruh suci ini dalam bentuk makhluk untuk meneruskan penzhahiran yang [paling sempurna dalam peringkat Alam Ketuhanan Dzat Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan menhendaki ruh itu turun ke alam fana ini di peringkat paling rendah, yaitu alam Ajsam ( alam kokret )…..yang tujuan utamanya adalah untuk memberi pelajaran kepada Ruh suci itu dan untuk mengetahui pengalamannya dalam mencari jalan kembali kepada Tuhan.

Dan dalam perjalanannya …dari tingkatyang paling tinggi sampai ke tingkat paling rendah , ruh suci menempuh berbagai alam atau peringkat….mulai dari semula turun ke peringkat Akal Semesta atau Kesatuan atau Hakikat Muhammad.

Dan Ruh suci ini dihantarkan ke tempat yang paling rendah agar ia mencari jalan ke asalnya yaitu berpadu atau berdampingan denagn Tuhan seperti ketika ia berada dalam pakaian daging, darah, dan tulang itu. Melalui hati yang ada dalam badan kasar ini, wajar bila ia menanam benih rasa kesatuan dan keesaan, dan ia akan berusaha menyuburkan rasa berpadu dan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Dalam bumi hati itu ruh suci menanam benih keyakinan yang telah dibekalkan kepadanya oleh Tuhan dari alam Maha Tinggi dan benih itu diharapkan menjadi pokok keyakinan yang akan menghasilkan buah-buahan yang rasanya kelak akan membawa Ruh itu kembali naikke tingkat demi tingkat hingga sampai ke hadirat Tuhan.

 

Penciptaan badan agar sukma sejati ( ruh ) dapat masuk dan menetap didalamnya, dan setiap ruh mempunyai nama tersendiri, dan Tuhan menyusun ruang-ruang dalam badan dan meletakkan ruh manusia diantara daging dan darah, dan meletakkan ruh suci ditengah hati manusia suatu ruang yang indah dan halus untuk menyimpan rahasia antara Tuhan dan hambaNya.

Ruh-ruh itu berdiam diberbagai bagian anggota badan dengan tugas masing-masing. Keberadaannya seolah-olah berlaku sebagai pembeli dan penjual bermacam barang yang mendatangkan berbagai hasil. Perniagaan semacam inilah yang mendatangkan bentuk rahmat dan berkat dari Tuhan.

Seharusnya manusia mengetahui kebutuhan dalam ruhaninya masing-masing, seharusnya tidak mengubah apa yang sudah ditetapkan atau ditakdirkan Tuhan kepadanya.

Dada adalah tempat bersemayamnya ruh dalam diri setiap insan manusia, tempat yang berhubungan dengan panca indera ini bertugas mengatur segala hal yang berkaitan dengan masalah syariat…..karena dengan ini Tuhan mengatur keharmonisan alam nyata. Ruh tidak pernah mengingkari perintah Tuhan, tidak mengatakan tindakannya itu sebagai tindakannya sendiri, tetapi lebih karena ia tidak mampu bercerai dengan Tuhan.

Tuhan memberikan beberapa kelebihan bagi manusia yang memiliki ruhani yang tinggi pula ; pertama, kemampuan melihat bukti-bukti wujud keberadaan Tuhan didunia yang manifestasikan dalam sifat-sifat Tuhan, kedua…kemampuan melihat hal yang jamak dalam sesuatu yang tunggal dan sebaliknya dimata orang awam, ketiga…kemampuan melihat hakikat dibalik alam nyata dan keempat…perasaan dekat dengan Tuhan….inilah ganjaran karena keikhlasan dan ketulusan mencintaiNya dan berbuat semata-mata karena Dia.

Namun inipun masih berkaitan dengan alam kebendaan, begitu pula hal2 yang dianggap luar biasa oleh sebagian orang seperti berjalan diatas air, terbang diudara, mendengar suara2 gaib, membaca sesuatu yang berada dibenak orang lain, dll…ini masih berpijak pada kebendaan atau alam nyata.

 

Hendaknya dalam beramal shalih manusia tidak seperti “Pedagang” …yang selalu dalam melakukan sesuatu haruslah ada untungnya, apalagi ini dengan Tuhan.

 

Ruh dalam Hati

Hati adalah tempat bergeraknya ruh, dan ilmu yang mengulas tentang gerakan hati disebut ilmu thariqah. Kerjanya berkaitan dengan 4 nama Allah. Sebagaimana dengan 12 nama Dzat…4 nama ini tidak berhuruf dan tidak berbunyi, sehingga nama-nama itu tidak dapat diucapkan.

Pada setiap peringkat ( dari 4 tingkatan ) yang dilalui oleh ruh terdapat 3 buah nama yang berbeda. Dan dengan cara ini Tuhan dapat memegang hati kekasihNya yang sedang dalam perjalanan cinta menuju kepadaNya.

 

Ada 7 titik, yang 3 merupakan titik inti dan yang 4 adalah pendamping dan apabila diolah nantinya akan akan berhubungan dengan 9 lubang di badan kita.

Cara pengolahannya ada beberapa cara ;

1. Dengan berpuasa lahir dan batin, bukan berpuasa hanya puasa lahir tapi batin juga karena lahir hanya menggembleng lahir saja (jasmani ), tetapi batin akan meggembleng lahir dan batin.

2. Meditasi, dengan pengolahan nafas secara benar dan teratur, kontinyu, karena nafas adalah tali jiwa.

3. Dengan adanya pembukaan titik melalui orang lain yang bisa membukanya…..tetapi biasanya ini kurang membuat kita lebih matang dan kurang bisa mengolahnya dengan baik nantinya….karena kendala setelah itu akan banyak.

 

Dalam islam, kalimat La ilaaha illallaah itu melahirkan 12 nama Allah, setiap nama tercantum pada setiap hurufyang menyusun kalimat tersebut. Dan Allah akan memeberikan nama kepada setiap huruf dalam proses kemajuan hati seseorang itu.

1. Lailaha illallaah : Tiada Ilah kecuali Allah

2. Allah : Nama Dzat

3. Huwa : Dia

4. Al-Haqq : Yang Benar

5. Al-Hayy : Yang Hidup

6. Al- Qayyum : Yang berdiri sendiri kepadaNya segala sesuatu bergantung

7. Al-Qahar : Yang Maha Berkuasa dan Perkasa

8. Al-Wahab : Yang Maha Pemberi

9. Al-Fattah : Yang Maha Pembuka

10. Al-Wahid : Yang Satu

11. Al-Ahad : Yang Maha Esa

12. As-Shamad : Sumber, puncak segala sesuatu

Hati adalah tempat bergeraknya ruh dan ruh selalu memandang ke alam ‘ Malakut’ yang identik dengan kebaikan, dan dialam ini ruh dapat melihat surga alam malakut beserta para penghuninya, cahaya, dan para malaikat yang ada didalamnya.

Dan dialam inilah ruh ruh bergerak dan melakukan percakapan-percakapan tanpa kata dan suara, dan dalam percakapan itu pikiran akan selalu berputarmencari rahasia-rahasia atau makna dalam batin.
Ruha yang bergerak akan melalui berbagai tingkatan dalam perjalanannya. Dan tempat ruh yang telah mencapai tingkatan tinggi adalah di tengah hati, yaitu Hati bagi Hati.

 

Yang sangat berhubungan dengan Sukma Sejati adalah bagaimana kita mengetahui dan memahami tentang “Rasa Sejati” …..bagaimana pembentukan rasa sejati adalah sebagai berikut:

Eka Kamandhanu, artinya kandungan berumur satu bulan mulai bersatunya kama laki-laki dan perempuan. Dari detik ke detik, kama tersebut menggumpal dan merajut angan-angan untuk mencipta embrio. Kama tersebut menyatu padu dalam kandungan ibu menjadi benih unggul dan keadaan benih belum begitu kelihatan besar dalam perut ibunya. Saat itu biasanya wajah ibu berseri-seri karena itu sering dinamakan Eka Padmasari artinya sari-sari bunga sedang berkumpul dalam kandungan ibu, dalam keadaan penuh kegembiraan. Pada saat ini hubungan seksual masih diperbolehkan, bahkan dimungkinkan hubungan akan semakin hangat karena kedua pasangan tengah akan menikmati anugerah Tuhan yang sebelumnya telah dinanti-nantikan. Detik keberhasilan hubungan seksual ini akan menjadi spirit hidup sebuah pasangan.

Dwi Panunggal, umur kandungan dua bulan. Pada saati ini juga boleh melakukan hubungan seks. Dalam istilah jawa disebut nyepuh ibarat seorang empu sedang membuat keris, semakin banyak nyepuh artinya menambah kekuatan magis keris, keris akan semakin ampuh. Juga hubungan seks pada waktu hamil muda akan semakin hangat dan menarik kedua pasangan, biasanya seorang wanita pada tahap ini ingin jalan-jalan pagi, ingin plesir ke tempat yang sejuk, indah dan mempesona, karena itu disebut pula dwi amratani, artinya rata kemana-mana, bepergian kemana-mana sebagai ungkapan kesenangan dan juga sambil memikirkan nama yang mungkin akan diberikan kepada anaknya kelak.

Tri Lokamaya, artinya umur benih tiga bulan kandungan, dan benih masih berada dalam alam maya. Benih belum ada roh yang ditiupkan, karena itu suasananya gondar-gandir atau gawat. Jika hubungan seks tidak hati-hati kemungkinan besar benih tadi bisa gugur dan terjadi pendarahan. Maka ada baiknya mengurangi kuantitas hubungan seks, dan menghindari percekcokan atau sering marah-marah, karena secara psikologis akan mengakibatkan benih gugur karena merasa panas, ini artinya hubungan yang harmonis dalam keluarga amat menentukan kondisi benih yang dikandungan. Pada saat ini sikap selalu bersolek diri seseorang pasangan sangat menentukan. Karena itu candra benih tiga bulan sering dinamakan trikawula busana, artinya wanita sudah berpikir masalah pakaian seperti daster, pakaian bayi, dll, hal ini memungkinkan wajah wanita akan lebih berseri-seri bagai bulan purnama dan lebih cantik jelita.

Catur Anggajati, benih berumur empat bulan mulai terbentuk organ-organ tubuh secara lengkap. Benih unggul telah berbentuk manusia. Karena itu telah menghisap sari-sari makanan melalui sang ibu, umur seperti ini juga sudah ditiupkan roh sehingga benih telah hidup, sebagai tandanya sering bergerak. Karena itu hubungan seks yang berlebihan kurang baik pada saat ini, bahkan hubungan seks atas bawah akan berbahaya bagi benih dalam kandungan. Saat ini pula benih mulai merekam denyut hidup kedua pasangan. Karenanya kedua pasangan jangan berbuat hal-hal yang tidak baik atau terjadi penyelewengan akan berbahaya bagi benih bayi tersebut. Candra benih berumur empat bulan disebut catur wanara rukem, artinya tingkah laku ibu akan seperti kera yang sedang diatas pohon rukem, dia mulai nyidam buah-buahan yang asam dengan cara lotisan dan akan sangat aneh-aneh sehingga membutuhkan kesabaran bagi pasangan, kadang kurang wajar. Ia mendapat tambahan otak, karena itu sudah punya keinginan.

Panca Yitmayajati, artinya benih berumur lima bulan, dan benar-benar telah hidup, dan hubungan seks harus dilakukan lebih hati-hati, agar memperhatikan posisi sehingga tidak merugikan benih, dan pasangan harus telah tumbuh keberanian untuk menghadapi resiko lahirnya seorang bayi nanti. Karenanya candra benih berumur lima bulan sering dinamakan panca sura panggah, ada keteguhan dan keberanian menghadapi rintangan apapun ketika pasangan hamil lima bulan, tentu saja dari aspek materi jelas memerlukan persiapan berbagai hal. Mendapatkan tambahan otot mulai bergerak erlahan-lahan.

Sad Lokajati, benih berumur enam bulan semakin besar, karena itu kedua pasangan harus lebih berhati-hati. Karena itu candra benih dinamakan sad guna weweka, artinya mulai bersikap hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, jika diantara pasangan ada yang berbuat kasar, mencaci maki apalagi berbuat keji akan mengakibatkan benih yang dikandung tidak baik, bahkan suami dilarang membunuh binatang karena secara insting benih sudah dapat merekam keadaan sekelilingnya. Mendapatkan tambahan tulang karena itu ia bisa naik turun, jungkir balik.

Sapta Kawasajati, umur benih tujuh bulan telah lengkap semua organ dan cipta, rasa, serta karsa, karena itu apabila ada bayi yang lahir pada umur tujuh bulanpun dimungkinkan. Dalam tradisi jawa sering dilakukan ritual mitoni dengan maksud memohon agar bayi yang akan lahir diberi kelancaran, dan pada waktu ini hubungan seks dilarang sama sekali, kalaupun dilakukan harus diperhatikan secara ekstra hati-hati ( posisi diperhatikan ). Karena candra bayi tuuh bulan adalah sapta kulilawarsa artinya seperti burung yang terguyur air hujan, merasa letih. Lelah, dan sedikit pucat, kurang bergairah dan perlu pengertian dari pasangan. Dan ia memperoleh tambahan rupa, dan mendapat tambahan Kodrat dari Allah Ta’ala sperti rambut, darah dan daging.

Astha Sabdajati, benih berumur delapan bulan biasanya siap lahir, siap menuju dunia besar setelah bertapa dalam kandungan. Bayi hampir weruh padange hawa, ingin menghirup udara dunia yang sesungguhnya. Saat ini hanya timbul sikap pasrah untuk menghadapi perang sabil. Candra bayi adalah astha sacara-cara, artinya terjadi sikap berserah diri dengan cara apapun bayi akan lahir ibunya telah siap sedia bahkan siap berkorban jiwa raga. Manakala bayi umur delapan bulan belum mapan posisinya, tentu sang ibu akan gelisah. Untuk itu ada gugon tuhon juga agar ibu dilarang makan buah yang melintang posisinya, seperti kepel, agar posisi bayi tidak melintang yang akan menyulitkan kelahiran. Calon anak sudah dapat mengoperasikan saudara yang empat, sbb;

Pertama : kakawah ( air ketuban )

Kedua : bungkus

Ketiga : ari-ari

Keempat : darah

Kakawah artinya menjadi pengasih, bungkus menjadi kekuatan, darah menjadi waliyas mati, harus diketahui bahwa Kakawah itu adalah malaikat Jibril, bungkus adalah Mikail, ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah malaikat Izrail.

Jibril pada kulit, Mikail pada tulang, Israfil pada otot, Izrail pada dagingakhirnya selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.

Nawapurnajati, bayi telah mendekati detik-detik lahir, yaitu sembilan bulan, dan tentu yang tepat sembilan bulan sangat jarang. Pada saat itu memang keadaan bayi dan ibunya sangat lelah, karena itu candra suasana disebut nawa gralupa artinya keaaan sangat lemas, tak berdaya, seperti orang lapar dan dahaga. Apalagi setelah sembilan bulan sepuluh hari dengan candra khusus dasa yaksa mati, artinya seperti raksasa mati terbunuh ksatria-seorang ibu setelah melahirkan bayi. Oleh karena itu hubungan seksual sangat dilarang, paling tidak kurang lebih 40 hari seorang suami harus berpuasa.

Sembilan langkah tersebut diatas di harapkan pasangan suami istri dapat menjalankan sesirik ( prihatin ), ibarat sedang bertapa gaib. Segala tingkah laku akan menjadi cerminan hidup anak yang masih dalam kandungan. Itulah sebabnya sikap dan perilaku dijaga baik-baik dengan tujuan manembah dan karyenak tyasing sesama, maksudnya hubungan vertikal selalu harus terus menerus dan hubungan dengan sesama mahkluk agar jangan sampai berbuat diluar kewajaran. Ada empat yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan KodratNya ;

Pertama : Budi

Kedua : Rahsa

Ketiga : Angan-angan

Keempat : Hidup

PRIMBON JAWA

4 Maret 2011

 

NEPTUNING DINA NEPTUNING PASARAN
Ahad = 5 Legi = 5
Senen = 4 Pahing = 9
Selasa = 3 P o n = 7
Rabu = 7 Wage = 4
Kemis = 8 Kliwon = 8
Jum’at = 6  
Sabtu = 9  

DINA KALAHIRAN SARTA PANGURIPANE

Minangka pinuju kalairanipun kapendhet saking gunggungipun neptu dinten lan pasaran, lajeng dipun wuwuhi kalawan neptunipun sasi :

 

muharram
neptunipun setunggal
Rajab
neptunipun tiga
Shafar
neptunipun tiga
Sya’ban
neptunipun gangsal
Rabi’ulawal
neptunipun sekawan
Ramadhan
neptunipun enem
Rabi’ulakhir
neptunipun enem
Syawal
neptunipun setunggal
Jumadi’lawal
neptunipun pitu
Zulkaidah
neptunipun kalih
Jumadi’lakhir
neptunipun kalih
Zulhijjah
neptunipun sekawan

 

Kapendhet saking neptunipun sasi kalairan, Sakmenika gunggungipun wau menawi langkung saking 10, lajeng ditilar 9, pinten sisanipun. Menawi sisa :

1. 2 utawi 6, menika wiji Lor, kang dados panguripanipun dagang, sanadyan kalih liya-liyanipun sampun benten kaliyan dagang.

2. 3 utawi 5, menika wiji kilen, panguripanipun laku Santri, sanadyan kalih liya-liyanipun, sampun benten kaliyan saking laku Santri.

3. 1 utawi 4, menika wiji Wetan, panguripanipun lakui priyayi, sanadyan kalih liya-liyanipun, sampun benten kaliyan saking laku Priyayi.

4. 7 utawi 8, menika wiji Kidul, panguripanipun among tani, sanadyan kalih liya-liyanipun, sampun benten kaliyan among tani.

5. 9, menika dipun wastani : tanpa tenggak tanpa siran, inggih menika wiji Raja, watakipun boten kenging dipun perintah, malah mrentah.

PETUNG PANCA SUDA


WATAKING MANUNGSA SAKA DINA KALAIRANE

Dina Ahad

Legi : Sumur Sinaba

Paing : Wasesa Sagara

Pon : Bumi Kapethak

Wage : Satria Wibawa

Kliwon : Lebu Katiyub Angin

Dina Kemis

Legi : Satria Wibawa

Paing : Lebu Katiyup Angin

Pon : Satria Wibawa

Wage : Tunggak Semi

Kliwon : Bumi Kapethak

Dina Senen

Legi : Tunggak Semi

Paing : Wasesa Sagara

Pon : Sumur Sinaba

Wage : Wasesa Sagara

Kliwon : Satria Wirang

Dina Jum’at

Legi : Satria Wirang

Paing : Tunggak Semi

Pon : Lebu katiyup Anging

Wage : Sumur Sinaba

Kliwon : Wasesa Sagara

Dina Selasa

Legi : Wasesa Segara

Paing : Satria Wirang

Pon : Satria Wibawa

Wage : Lebu Katiyub Angin

Kliwon : Sumur Sinaba

Dina Sabtu

Legi : Bumi Kapethak

Paing : Satria Wibawa

Pon : Wasesa Sagara

Wage : Satria Wirang

Kliwon : Tunggak Semi

Dina Rebo

Legi : Sumur Sinaba

Paing : Wasesa Segara

Pon : Bumi Kapethak

Wage : Satria Wibawa

Kliwon : Lebu Katiyub Angin

 

* Nyuwun gunging pangaksami bilih wonten ngandhap punika mawi Basa Jawi ngoko.

PETUNG PANCASUDA
Kangge nikahake temanten.

Ing ngisor iki petungan ala beciking dina kang prayoga kapilih utawa sinirik lamun arep nikahake panganten, miliha dina kang becik kanggo nikahan. Anjupuka neptuning dina lan neptuning pasaran ginunggung, ananging neptu-neptu mau kudu awewaton neptu-neptu kang kang tumrap petungan Pancasuda-Ringkes, yakuwi:

NEPTUNING DINA NEPTUNING PASARAN
Ahad
neptune 3
Legi
neptune 2
Senen
neptune 4
Pahing
neptune 3
Selasa
neptune 5
P o n
neptune 4
Rabu
neptune 6
Wage
neptune 5
Kemis
neptune 7
Kliwon
neptune 1
Jumat
neptune 1
 
Sabtu
neptune 2
 

Lamun gunggungan saka neptuning dina lan neptuning pasaran mau tinemu wilangan :

1. 7, iku tiba petungan : Nuju Padu, watake panganten utawa wong tuwane tansah tukar padu nganti salawase .

2. 2 utawa 8, iku petungan : Demang Kandhuruhan, watake panganten utawa wong tuwane sok nemu lara.

3. 3 utawa 9, iku petungan : Sanggar Waringin, watake panganten utawa wong tuwane sok nemu bungah lan seneng.

4. 4 utawa 10, iku petungan : Mantri Sinaroja, watake panganten utawa wong tuwane sok nemu karaharjan lan kasenengan.

5. 5 utawa 11, iku petungan : Menjangan Ketawan, watake panganten utawa wong tuwane sok kelangan utawa wong akeh sok ana kang duwe niat ala marang dheweke.

6. 6 utawa 12, iku petungan : Nuju Pati, watake panganten ora suwe, bakal pegat mati utawa pegat urip, tur akeh kasusahan kang tinemu.

SEJARAH DINTEN PEKENAN WULAN TAUN
PAWUKON SA’AT TUWIN WINDU

Kanjeng Nabi Idris saweg jumeneng Nata wonten ing nagari Malebari, punika karsa angleluri, anulad amastani dinten. Semanten etanging taun surya 1020 taun awit saking Kanjeng Nabi Adam. Ing ngandhap punika pratelanipun dintenSamsu, Kammar, Marih, ‘Atarit, Mustari, Johar lan Jokal Punika panganggitipun dinten ingkang kaping sepisan.

Nomer kekalih Kanjeng Nabi Idris, saweg jumeneng Nata wonten nagari ing Babel, lajeng Kanjeng Sultan Harmasulhakim, karsa anganggit amastani adamel dinten malih, anuju ing taun surya 1028. Ing ngandhap punika pratelanipun dinten Awal, Ahwal, Dibar, Jibari, Munisa, ‘Arobah lan Sayar. Punika panganggitipun dinten ingkang kaping kalih. Ing ngandhap punika etangan warsa:

# Kamal
# Sur
# Joja
# Sirtan
# ‘Asat
# Sunbullah
# Mijan
# ‘Akrab
# Kus
# Jadi
# Dalwi
# Kut

Wonten ing P. Jawa ingkang jumeneng Nata Sri Maha Raja Buddhawaka, negari ing Gilingwesi, anenulad anganggit dinten, ingakng setunggal dinten 5, kekalih dinten 7, tetiga wanci 5 dipun wastani sa’at, sakawan masa, panganggitipun Resi Raddhi sakawan wau sinangkalan : Masa angler manglar (taun 296).

 

Dinten 5

Legi

Paing

Pon

Wage

Kliwon

Dinten 7

Radite

Soma

Anggara

Buddha

Respati

Sukra

Saniscara

Wanci 5 kawastanan sa’at

Maheswara

Bisnu

Brahma

Sri

Kala

 

 

Masa 12:

Kartika

Pusa

Manggasri

Sitra

Manggakala

Naya

Palguna

Wisaka

Jita

Srawana

Padrawana

Asuji

Jumeneng Ratu Rama ing Ayodya, Kraton binathara, ambawahaken tanah Hindhu sadaya, pujangga tetiga, sami anganggit lambang piyambak-piyambak, dipun wastani windu, panganggitipun windu, empu tetiga wau, sinangkalan : Rasa warna suci (446)

Windu anggitanipun Resi Walmiki:

Windu Adi

Windu Sancaya

Windu Kunthara

Windu Sangara

Windu Kawanda

Windu Wahana

Windu Sangkaya

Windu Pranila

Windu Tirta

Windu Antara

Windu Manggada

Windu Murka

Windu anggitanipun Resi Wisakarma :

 

Windu Kawanda

Windu Wahana

Windu Sangkara

Windu Pranila

Windu Tirta

Windu Tirta

Windu Manggada

Windu Murka

 

Windu anggitanipun Resi Wasusarma

Windu Kararti

Windu Kara

Windu Setra

Windu Karta

Windu Praniti

Windu Pranila

 

Kanjeng Nabi Muhammad S.a.w punika inggih karsa anenulad, amastani adamel dinten utawi wulan taun, panganggitipun nalika yuswa 33 taun, taksih jumeneng wonten ing Mekkah, sareng yuswa 40 taun pindhah dhumateng nagari ing Madinah ing warsa Je jumeneng wonten nagari ing Madinah 25 taun seda, lajeng kasarekaken kadhaton ing Madinah.Amangsuli cariyos panganggitipun ing dinten wulan taun, sinangkalan : Tata pandhita gati (575)

 

Dinten 7 :

Ahad

Isnain

Salasa

Arbaa

Khamis

Jum’at

Sabtu

Taun 8 :

Wawu

Jimakhir

Alip

Ehe

Jimawal

Je

Dal

Be

Wulan 12 :

Sura

Sapar

Mulud

Rabi’ulawal

Rabi’ulakhir

Jumadilawal

Jumadilakhir

Rajab

Sa’ban

Ramadhan

Syawal

Dzulka’idah

Besar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.