TENAGA MANUSIA MURNI

4 Maret 2011

Banyak Perguruan Beladiri tenaga dalam yang hampir 100 % katanya menggunakan bio-elektrik murni dengan menampilkan bermacam-macam keistimewaan sendiri-sendiri. Ada yang menawarkan untuk orang-orang sakit biar sakitnya hilang/sembuh, tapi dengan syarat yang sakit harus ikut/masuk ke dalam perguruan tersebut atau latihannya.

Apalagi yang sakit mengidap penyakit yang berat, yang konon katanya hampir semua penyakit tersembuhkan dengan melalui angket yang dibuat oleh “panitianya sendiri”, itu yang sembuh; tapi berapa yang gagal dan berapa banyak yang meninggal atau mati pada waktu latihan, itu yang tidak disebutkan. Ada juga yang menawarkan kesaktian, dibakar api tidak mempan, disiram air keras no problem, ditabrak kendaraan senyum-senyum saja, malah ada yang ditembak/dibedil pakai peluru mesiu tidak apa-apa (meleset). Ada juga yang menawarkan dapat memo-tong-motong besi cor yang disusun 4 (empat) atau lebih; ada juga pernafasan murni, yang sekarang baru dipelajari dan disempurnakan yang dipergunakan untuk menghilang. Asal jangan habis ngutang terus ngilang (bisa dilaporkan polisi).

Dengan mendasarkan pada beberapa realita di atas, kita berupaya membuka mata kepada khalayak apa dan bagaimana bio-elektrik murni dan tak murni itu, sehingga jangan sampai orang awam tertipu oleh suatu perguruan beladiri, apalagi sampai-sampai beladiri tersebut ingkar dari agama, Na’udzubillah mindzalik !

Bio-elektrik/listrik hidup/gelombang listrik adalah listrik/gelombang dinamis (hidup/bio) yang cara kerjanya tidak memakai media/alat tertentu, karena listrik/gelombang ini hanya mempunyai satu pusat perintah kerja yaitu otak. Dinamakan bio-elektrik berarti dia termasuk salah satu bagian dari dimensi 4, dimana dalam dimensi ini tanpa batas ruang dan batas waktu. Sama halnya dengan gelombang infra-merah, ultra-violet, gelombang TV, gelombang radio, gelombang sinar (alpha), (beta) dan (gamma), dll.

Gelombang infra-merah dan ultra-violet terbesar dihasilkan dari sinar matahari, gelombang TV, Radio, radar, dll dihasilkan dengan perangkat elektronik. Sinar , dan dapat dihasilkan dari pemecahan bermacam-macam atom yang ada di dunia.

Yang termasuk di dalam bio-elektrik ini ini ada 2 (dua) jenis; dimana diantaranya pasti sempat membingungkan khalayak ramai yang memang mencari tahu dan ingin mempelajari tentang apa arti tenaga dalam. Kedua jenis bio-elektrik tersebut :

1. Bio-Elektrik Murni

Maksud bio-elektrik murni disini adalah bio-elektrik yang dihasilkan dari latihan gerakan-gerakan tertentu dan timbul dari manusia itu sendiri.

Bio-elektrik ini kalau dilatih sendiri, untuk mencapai berpijarnya listrik di seluruh tubuh (simpul-simpul listrik yang di dalam tubuh manusia ada 52 simpul listrik) memakan waktu 40-50 tahun.

Kenapa manusia dapat mempunyai bio-elektrik, hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Manusia itu mempunyai ion posisif dan negatif di dalam tubuhnya.
2. Dalam tubuh manusia banyak terdapat atom-atom yang juga terdapat di alam semesta.
3. Manusia adalah makhluk berakal budi sebagai khalifah Allah sehingga dapat menciptakan listrik, gelombang, radar, TV, laser, dsb.
4. Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna oleh Allah sehingga jin dan khadam itu sebenarnya ada di bawah level manusia, juga makhluk-makhluk lain seperti binatang, tumbuhtumbuhan dan juga benda mati seperti batu, besi, dll.
2. Bio-Elektrik Tidak Murni

Bio-elektrik tidak murni adalah bio-elektrik yang dihasilkan bukan dari tubuh manusia, tetapi memakai media lain yang terdapat di dunia ini. Hal mana yang kita kenal dengan jin dan khadam, dimana jenis bio-elektrik ini dapat dilatih sendiri dengan cepat, minimal 1 (satu) hari dapat mempunyai bio-elektrik jenis ini.

Bio-elektrik tak murni dari manusia, adalah bio-elektrik yang timbul/dihasilkan bukan dari diri manusia itu sendiri, disini kita sebutkan misalnya dari jin (penunggu pohon, batu, makam, gunung, dll) dan khadam (penjaga ayat suci).

Mengapa jin dan khadam itu termasuk bio-elektrik ? Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Sejak dulu (sewaktu kita kecil), kita telah tahu ada cerita dari orang tua kita, sebagai contoh adalah sebagai berikut.

Ada suatu tempat yang angker. Orang tua kita biasanya pesan kepada kita, “Hati-hati kalau kamu lewat sana. Jangan macam-macam nanti kamu celaka/sakit/kemasukan”, dan biasanya kalau kita pas lewat tempat tersebut secara tidak sadar badan kita seperti merinding, orang sering mengatakan “merinding bulu romaku”. Seperti halnya juga bila kita menggosok-gosokkan penggaris ke rambut kita sendiri, kemudian kita dekatkan pada bulu di lengan kita dan kita akan merasakan bahwa bulu lengan kita berdiri dan terasa di situ ada aliran listrik.

Hal ini merupakan salah satu sisi bahwa pada tempat tersebut terdapat listrik yang tidak tampak. Hal mana apabila ada orang pintar yang dapat melihat dimensi 4 (dimensi tanpa batas ruang dan waktu) atau kita sebut orang tersebut mempunyai mata batin/sukmo sejati, dia kalau jujur dan bijaksana akan mengatakan bahwa ditempat tersebut ada makhluknya (makhluk tidak tampak/jin/khadam) !, dimana mereka juga termasuk bio-elektrik (karena mereka juga hidup).
Dari kedua pernyataan tersebut di atas, kita sebenarnya sudah dapat mengetahui perbedaan-perbedaan antara keduanya. Kemudian bagaimanakah cara mengaktifkan keduanya ? Kok keduanya bisa muncul di dalam kancah ilmu pertenaga-dalaman yang akhir-akhir ini menjamur di negara kita ini ?

Dalam hal ini kami menyuguhkan beberapa hipotesa dan analisa dari hasil yang telah dilaksanakan/dipraktekkan dan juga dilihat oleh para orang pintar dari beberapa golongan keagamaan yang ada di Yogyakarta, hal mana mereka semuanya mempunyai apa yang dinamakan mata batin/sukma sejati yang dapat menembus ruang dan waktu. Hal ini kami lakukan dengan maksud agar orang awam jangan sampai tertipu oleh perguruan-perguruan tenaga dalam yang menampilkan sosok bio-elektrik yang murni. Dan juga penilaian umum agar obyektif, dimana di antara keduanya (bio-elektrik murni dan tidak murni) ada keuntungan dan kerugiannya.

Namun sebelumnya akan kami beberkan/ceritakan dari mana bio-elektrik tersebut muncul.

Bio-Elektrik Murni

Bio-elektrik ini dapat dilakukan dengan sebelumnya melatih beladiri fisik dengan proporsi yang maksimal (kalau silat sampai takaran pendekar), kemudian untuk mendapatkan bio-elektrik murni :

1. Melatih nafas dengan konsentrasi tinggi dengan tidak boleh mmejamkan mata. Karena dengan memejamkan mata, konsentrasi akan menurun dan dapat menyebabkan pikiran kosong sehingga akan membuka jalan masuknya makhluk lain atau jin.

2. Melatih jurus. Dimana jurus tersebut gunanya untuk mengaktifkan ke-52 simpul syaraf bio-elektrik.

3. Dengan metode “karena aksi maka ada reaksi”. Aksi, dari murid yang menyimpan nafas, kemudian bio-elektrik pelatih yang di depan yang bio-elektriknya lebih padat dari bio-elektrik murid, akan beraksi membalikkan bio-elektrik murid itu sendiri, sehingga mengakibatkan terjadinya benturan dua gelombang yang menjadikan bio-elektrik sang murid bertambah padat atau tinggi intensitasnya (panjang gelombang lebih pendek, amplitudonya lebih besar).

4. Ada pembimbing yang mengetahui bio-elektrik murni dengan benar dan jujur (tidak menipu). Karena ada guru beladiri yang tidak tahu/tidak dapat melihat bio-elektrik murni atau tidak murni, tetapi asal bilang, bahwa punya dia adalah bio-elektrik murni (tidak mempunyai referentor lain).
5. Tidak diisi atau disyarati.

6. Tidak menyimpang dari ajaran agama.

Bio-Elektrik Tidak Murni (Dari Jin)

Disini akan kita terangkan masuknya jin ke dalam tubuh manusia, baik itu disengaja oleh manusia itu sendiri atau tidak disengaja.

1. Berpuasa berturut-turut, 3 hari, 21 hari, 40 hari dengan terakhir “ngebleng” dan membaca mantera/aji-aji yang dipergunakan untuk ilmu yang sakti.

2. Kungkum (berendam) di kali/tempuran, karena menginginkan sesuatu (ingin bertemu dengan Sunan Kalijaga almarhum, misalnya).
3. Memasang susuk atau memasukkan emas, intan, besi, dll.
4. Air putih/kembang yang dimanterai dan diminumkan.
5. Membawa rajah atau tulisan Arab atau tulisan lain.
6. Meditasi/semedi/mengosongkan pikiran.
7. Ilmu turunan (eyangnya mempunyai ilmu dan kemudian diturunkan kepada anak/ cucu yang dia sukai/sama wataknya dan penurunan ilmu tersebut terkadang tanpa diketahui sang anak/cucunya).
8. Latihan dengan gerak dan jurus tiap hari sebanyak sekian kali (yang disuruh oleh gurunya), dan kadang-kadang ditutup dengan puasa atau khataman/ syukuran dengan menyembelih semacam kurban (ayam misalnya) dan dibacakan manteranya. Sebagai catatan :

Mantera adalah memanggil jin yang berguna untuk sesuatu yang kita inginkan (kebal misalnya).

Meditasi/semedi/menyatukan diri dengan alam. Sebenarnya manusia itu adalah makhluk yang tinggi derajatnya di hadapan Allah, tapi dengan menyatukan diri dengan alam maka derajat kita akan turun, sehingga levelnya sudah di bawah manusia yang normal sebagai makhluk yang diciptakan paling tinggi derajatnya. yang akhirnya dapat menyebabkan pikiran menjadi kosong.

Mengosongkan pikiran. Dengan adanya pengosongan pikiran akan membuka tabir pembatas dimensi-3 (manusia) dan dimensi-4 (jin), sehingga banyak makhluk lain (jin) yang masuk ke dalam tubuh manusia, seperti kata orang tua “jangan sering melamun (pikiran kosong) nanti kemasukan jin”. Dan itu betul !!

Keuntungan dan Kerugian dari Bio-Elektrik Murni dan Tidak Murni

Keuntungan dari bio-elektrik tidak murni.

1.Sakti. Orang Jawa bilang “ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, tinatah mendat jinoro menter”. Artinya tidak apa-apa walaupun dibacok dengan senjata tajam dan pukulan benda keras.
Dibakar api tidak apa-apa, disiram minyak mendidih tidak apa-apa, disiram air keras tidak apa-apa, memecah besi cor sampai 9 (sembilan) susunan, ditabrak mobil tidak apa-apa, ditembak dengan peluru bermesiu tidak apa-apa, dan lain-lain.

2.Dapat membuat orang lupa dan mengikuti kehendak kita (pelet, sirep, hipnotis, dll).

3.Dapat memasukkan emas, intan, besi, dll ke dalam tubuh manusia (susuk/santet).

Susuk : dipergunakan untuk memenuhi keinginan yang dipasang susuk, entah itu pengasihan, biar kelihatan cakep atau biar berwibawa/ditakuti.
Santet : dipergunakan untuk merusak sang korban yang diinginkan.

4. Keuntungan-keuntungan lain yang banyak.
Keuntungan bio-elektrik murni.

Oleh karena yang dipergunakan adalah gelombang, maka gelombang tersebut ada panjang gelombang dan amplitudonya (frekuensi). Oleh karena sinar … (gamma) di dalam dunia kedokteran (medis) saja sudah dapat digunakan untuk bermacam-macam hal khususnya pengobatan, apalagi bio-elektrik murni yang mempunyai panjang gelombang lebih pendek dari panjang gelombang sinar (gamma) dan aplitudonya lebih besar dari amplitudo gelombang sinar (gamma), sehingga penggunaan di dalam pengobatan bio-elektrik ini lebih bermanfaat dari pada pengobatan dengan menggunakan gelombang sinar (gamma) yang dihasilkan oleh atom-atom tertentu. Ini telah kita buktikan dengan memberikan pengobatan kepada umum.

Penyakit-penyakit yang telah berhasil diatasi : kanker, tumor, kencing manis (gula), sirosis (pengerasan hati), jantung koroner atau kebocoran klep, pemecahan batu ginjal dan lain-lain. Semua pengobatan dilakukan dengan menggunakan gelombang-gelombang yang kita punyai, tidak disuruh minum air putih, air kembang yang diisi, tidak ditembak dengan jurus (yang biasa dipergunakan oleh perguruan tenaga dalam), dll yang tidak dapat dinalar oleh akal.

Keuntungan lain :

1. Sehat.

2. Menurunkan emosi.

Kerugian bio-elektrik tidak murni (pakai jin)

1. Sering sakit-sakitan, entah nyeri di tangan, nyeri di dada, nyeri di ulu hati, sakit jantung, ginjal, asma atau organ-organ lain atau pusing yang tidak hilang-hilang. Dimana penyakit-penyakit tersebut sudah dicek ke beberapa dokter tetapi tidak ada kemajuannya (dokter tidak mengetahui penyebab-nya). Sakit tersebut disebabkan oleh jin yang ada di dalam tubuh orang itu berontak, karena tidak pernah/jarang dilatih atau diaktifkan lagi.

2. Seseorang yang pingin masuk perguruan tenaga dalam karena sakit parah (jantung, ginjal, kanker, misalnya), bukan tambah sembuh melainkan dapat mengakibatkan tambah parah atau bahkan tidak tertolong lagi, Na’udzubillah mindzalik. Karena jin yang ada di dalam tubuh orang tersebut tidak dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Analoginya seperti halnya seorang tukang ledeng (jin) disuruh membuat gedung lantai lima (penyakit) , – …ya otomatis tukang ledeng (jin) tersebut berdiam diri dan bingung. …Lha wong bukan profesinya.

3. Gila, ini karena tidak kuat menuntut ilmu. Hal ini disebabkan hipokampus dan kelenjar hipofisa (yang mengatur seluruh fungsi organ tubuh) dari orang tersebut sudah luka, lecet atau gosong, sehingga keseimbangan fungsi tubuh tidak terkontrol dan mengakibatkan jin yang ada di dalam tubuh orang tersebut akan menggunakan kesempatan untuk menguasai orang tersebut —> gila !!

4. Dapat menjadikan orang yang mentalnya tidak kuat menjadi sombong (karena kesaktiannya).
Kerugian bio-elektrik murni.

1. “Tidak sakti”.

2. Setelah latihan capek.

Dengan artikel ini, masyarakat umum agar mengetahui betul beladiri mana yang akan mereka cari, jangan sampai tertipu oleh beladiri yang mengaku bahwa perguruannya menggunakan bio-elektrik murni, padahal mereka tidak dapat membuktikan dengan nyata atau mereka tidak mempunyai “referentor” dari perguruan lain atau orang lain yang dapat membuktikan adanya bio-elektrik murni atau tidak murni, justru terkadang malah ditutupi kelemahannya.

Semoga dengan adanya tulisan ini, khalayak dapat memilih yang sakti atau yang tidak sakti tapi aman dan yang dapat dinalar oleh akal sehat sebagaimana kita mempunyai otak untuk berpikir. Apalagi kalau kita yang mempunyai disiplin ilmu yang mengutamakan berpikir secara sehat dan normal, sehingga fikiran kita tidak terganggu oleh adanya makhluk lain yang ada di dalam tubuh kita dan yang penting kalau bisa tidak menyimpang dari ajaran agama.

ILMU MAKDUM SARPIN

4 Maret 2011

ILMU MAKDUM SARPIN, dari beberapa yg saya ketahui, banyak juga mengajarkan ilmu spt ini, walaupun beda amalannya.

Pada kesempatan ini, saya ijasahkan amalan yg saya dapat dari perguruan Silat Sin Lam Ba tempat saya belajar (dari huruf hijaiyah yg dimaknakan Sa’adah Latifah dan Barokah. Ada juga dimaknakan Sin=Saudara, Lam= Lahir dan Ba= Bathin, sehingga amalan ini masuk di dalam sedulur papat kalimo pancer (ILMU MAKDUM SARPIN).
Amalan ini tdk perlu tawassul, hanya harus dibaca setelah sholat fardhu 1X secara istiqomah. Manfaatnya tidak dpt saya uraikan di sini karena Allah ta’ala lebih mengetahui kebutuhan kita. Hanya selama ini saya tidak merasa mengalami apa yg namanya gagal. Segala hajat yg kita inginkan lebih banyak Allah ta’ala kabulkan. Saya pernah menceritakan pengalaman saya ini kepada Masharis Semarang ketika di Yogya, sampai saya menangis karena mengingat anugerah Allah ta’ala kepada saya. Inilah amalannya:

1. PENGAKTIFAN MAKDUM SARPIN
Ada beberapa cara pengaktifannya, antara lain: Untuk yg belum ada wadah spiritualnya saya sarankan untuk mewiridkan selama 3 hari pada tengah malam setelah sholat tahajut, surah Al-Qur’an di bawah ini:
Al-Fatehah 1 X
Bismillahirrahmanirrahiim 200 X
Al-Ikhlas 200 X
Al-Falaq 100 X
Annas 100 X
Bismillahirrahmanirrahiim
Yaa Allah Yaa Hayyu Yaa Qoyyum Yaa Adzim Yaa Robbal `Alamin
Subhana abaisil warisi ya robbi inni maghlubun fantashirni
Bismillahirrahmanirrahiim…
Kun kata Allah, Fayakun kata Muhammad, Robbukum kata Jibroil
Ya Jibroil Ya Mikail Ya Isrofil Ya Izroil
Yaiku Sang Ratu Kepyok Sang Ratu Herang putih
Kadulur bathin ka anak bathin kanu opat lima pancer
Ya Allah aku mohon diantar kedulur bathinku ke anak bathinku
yang hidup dalam satu hari satu malam
Wahai dulur bathinku anak bathinku , bantulah aku………….
berkat la ilaha illallah Muhammadur rasulullah
aku tahu asalmu 204 sambungan. Hu Allah…
Lakunya: Diwiridkan selama 3 hari dimulai dari hari kelahiran Anda, kalau tidak tahu dimulai hari Rabu. Selama wirid tengah malam lakukan sholat taubat dan sholat hajat khusus, dilanjutkan silsilah (tawasul):
1. Ila hadrotin nabiyil mustafa muhammadin saw.
2. Wa ila hadroti khulafatur rosyidin sayidina Abi Bakrin wa Umaro wa Usman wa Ali radyallahu.
3. Summ ila hadroti jamiil malaikati muqorrobin wa qoribiyun sayidina Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil as.
4. Wa ila hadroti nabi Adam as.
5. Wa ila hadroti sultonil aulyai sayidina syeh Abdul Qodir Jailani ra.
6. Wa ila ruuhi Syech Abdul Karim Banten, Haji Odo, Abah Toha bin Sieng, mbah Nasir, Syech
Marzuki, Syech Embah Mafudz, Abah H. Amilin.
7. Wa ila ruuhi Abi…… wa Umi…… (sebut nama bapak dan nama ibu)
8. Wa ila ruhi Sedulur bathin Papat Kalimo Pancer
9. Wa ila hadroti man ajazani wa syehihi wa masyayihihi.
– Dan membaca amalannya sebanyak 41X. Selama wirid setelah selesai sholat fardhu dibaca 7X.
– Setelah selesai wirid setelah selesai shalat fardhu amalannya dibaca 1X secara istiqomah, tanpa tawasul.
Catatan: Pada hari ke-3 dulu saya menyediakan air putih, susu, masing-masing 1 gelas, pisang Ambon dan Roti marry (biscuit). Sermua ini hanya perlambang pada waktu kita masih bayi oleh ibu diberi makanan seperti itu. Sekarang tata cara spt ini dipakai pada saat tawassulan sesudah pembangkit-an tenaga dalam ke-7.
Jika diamalkan dgn ikhlas di ruangan gelap dan mata terpejam, akan terlihat kilatan-kilatan seperti wajah kita kena lampu blitz dan kita melihat secara bergantian warna-warna merah, kuning, hijau, hitam dan putih….

Setelah pengamalan tersebut di atas selesai, dilanjutakan mengamalkan amalan di bawah ini:

2. ASMA SERAT MAKDUM SARPIN
BISSMILLAHAHIRRAHMAANIR RAHIIM ….2X
BISSMILLAHAHI LAA ILLAAHA ILLALLAH ANTA
LAA ILLAAHA ILLALLAH ANTA
LAA ILLAAHA ILLALLAH INI UHRO
LAA ILLAAHA ILLALLAH AMANA BILLAHI
LAA ILLAAHA ILLALLAH AMANATAN MIN INDILLAHI
LAA ILLAAHA ILLALLAHU MUHAMMADUN RASUULULLAAH SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
ALLAHUMA YA JIBRILLU, WA MIKA ILLU, WA ISROFILLU, WA IJROILLU
KOLLU HAIRIL MIN SULTONI WASRIF ANNA SYIRRUHU
KAF, HA, YA, AIN, SHOD
HA, MIM, AIN, SIN, KHOF
YA ALLAH AIN, SIN, KHOF
YA MUHAMMAD AIN, SIN KHOF
YA MUSTAFA AIN, SIN KHOF
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM BIRROHMATIKA YA ‘ARHAMAR ROHIMIN
Diamalkan secara istiqomah setiap ba’da sholat fardhu dibaca 1X.
di tambahkan Yaa Allah Yaa Hayyu Yaa Qoyyum Yaa Adzim Yaa Robbal `Alamin 7X dgn tahan napas di titik Hatsa (tiga jari di bawah pusar di belakang Kundalini).
Untuk aplikasinya, jika akan menggunakan ucapkan Bissmillahirohmanirrahiim 1X dan kedutkan atau kejangkan perut bagian bawah sambil mengucap Allahu Akbar 1X.

Selanjutnya agar sedulur bathin kita dapat selalu berkerja sama dengan kita, kita harus sering menghubungi mereka, yaitu dengan kafiat sbb:

3. AMALAN MENGKONTAK SUDULUR BATHIN KITA
1. Setiap sehabis sholat fardhu, dibaca 15 kali.
Bismillahirohmannirrahiim.
Allahumma sholli wassalim wabarik ‘ala sayyidina Muhammadinin nuriddati wassiris
saari fi saa-iril asmaa-i ……….. wwassifati wa ‘ala alihi washobihi wassalim.
N.B: (……..) adalah Al-Fateha tanpa bismillah, langsung alhamdulillah….
2. Wahai dulur bathinku anak bathinku , bantulah aku untuk………….
Catatan: Amalan di atas sangat luar biasa, karena fatehah merupakan manajemen ikhtiar dzahir dan bathin kita, maka disarankan jika ada hajat khusus yg sifatnya mendadak bacalah Fatehah 313X dgn doa fatehah power 1X.
Selain itu akan lebih baik kalau secara istiqomah ditambahkan amalan yang Insya Allah akan membawa kita kepada potensi diri yg luar biasa, karena amalan ini memeiliki energy melebih RDR yg ada yaitu:

Ilmu Qulhu Empat Malaikat, yg PENGAFTIFANNYA adalah:

QULHU WALLAHU AHAD NASROM MINNALLAHI WABIHAQQI YA JIBRIL,
ALLAHU SAMAD WAFATHU QARIBU MUJIBU BIHAQQI YA MIKAEL,
LAM YALID WALAM YULAD WABASIRIL MUKMININA BIHAQQI YA IZRAIL,
WALAM YAQUL LAHU BIHAQQI YA ISRAFIL KUFUAN AHAD,
FALLAHU KHAIRU HAFIZAN WAHUWA RAHMANIRRAHIIM.
Lakunya: (YA ALLAH) …. tarik napas ditahan di titik Hatsa, dalam hati baca (HAQ ALLAH 3X), dengan lidah dinaikan ke langit-langit, sambil niat di dlm hati apa yg kita butuh kan. Jika sdh tidak kuat, kemudian napas dikeluarkan lewat hidung menyebut (HU) ………
Dilanjutkan dengan mengirim Fatehah kepada DZAT kita yaitu:
Alfatehah ila ruh badan saya, bibarokati minassurota alfatehah….
Innalillahi wainnalillahi rojiun 11x.
Alfatehah ila nafsi badan saya, bibarokati minassurota alfatehah…
Astaghfirulloh hal adzim 11x.
Alfatehah ila aqli badan saya, bibarokati minassurota alfatehah….
Subhanalloh 11x.
Alfatehah ila nur badan saya, bibarokati minassurota alfatehah….
Laailahaillalloh 11x.
Alfatehah ila jasad badan saya, bibarokati minassurota alfatehah….
Lahaula walaa kuwwata illah billah 11x
Diamalkan setiap ba’da sholat fardhu.

Demikian sebagian ilmu Makdum Sarpin yang Insya Allah jika kita mengamalkan secara istiqomah dan ikhlas mengharap ridho Allah ta’ala, Insya Allah kita akan memperoleh keselamatan dunia dan akherat. Karena amalan-amalan tsb di atas tidak ada tujuan mengambil ilmu kesaktian ataupun kejadugan, seperti halnya kita mendzikirkan ASR maupun RDR. Tetapi sawab dari amalan2 tersebut, Allah ta’ala sendirilah yang maha tahu apa yang kita butuhkan. Sehingga saya tidak berani menuliskannya di sini. Dengan mengamalkan amalan2 tsb di atas, Insya Allah ini merupakan terminal tearkhir Anda setelah malang-melintang mencari ilmu bathin ataupun ilmu hikmah, karena semua yg Anda cari ada di sini. Amalan-amalan tsb saya ajarkan di PPS Sin Lam Ba perwakilan Cikarang, dgn melatih kedutan diperut disertai gerak jurus dasar 5 langkah yaitu:

1. Ya Allah (jurus 1- dorong)
2. Ya Hayyu (jurus 2 – tolak/jeblag)
3. Ya Qoyyuum (jurus 3 – buka)
4. Ya Adzhiim (jurus 4 – tarik dan buang)
5. Ya Robbal `aalamiin (jurus 5 – angkat)

Sebagai penghormatan saya, saya postingkan foto Abah Toha bin Sieng (almarhum) sebagai guru dari perguruan Sin lam Ba dan Al-Hikmah, dan perguruan lainnya yg ilmunya dari beliau. Hal ini saya lakukan mengingat beberapa sedulur KWA banyak yg pernah memposting ilmu yg di ajarkan oleh beliau. Beliau adalah opsir polisi jaman Belanda yg desersi karena menuntut ilmu kanuragan di Banten dan di pesantren Rengas Dengklok, Karawang pimpinan H. Oddo bin Syech Abdul Karim Al Bantani, pimpinan tareqot Qodariyyah wa Naqsabandiyah yg terkenal di Banten.

Mohon maaf jika tidak berkenan. Wassalam.

JALJALUUT ASH SHUGHROO

4 Maret 2011

Dari Imam Agung dan Hakim yang termasyhur Abul ‘Abbas Achmad ‘Ali Al Bauni (wafat tahun 622 H)

 

BISMILLAAHIR ROCHMAANIR ROCHIIM

1. Bada’tu bibismillaahi ruuchi bihihtadat,

Kuawali dengan menyebut Asma Alloh,dengan demikian arwah saya memperoleh petunjuk

Ilaa kasyfi asroori bibaathinihinthowat ¤

Kepada tersingkapnya rahasia-rahasia yang terkandung didalamnya (Asma Alloh) yang terlempit (tersembunyi/tersimpan)

 

2. Washollaitu fits tsaanii ‘alaa khoiri kholqihi,

Yang kedua Sholawat atas sebaik-sebaik ciptaanNya

Muchammadin man zaachadh dholaalata walgholat ¤

Muchammad seorang yang menghapus kesesatan dan kesalahan (kotoran hati)

 

3. Wa achyii ilaahil qolba mimba’di mautihi,

Yaa Tuhanku hidupkanlah hati dan setelah matinya

Bidzikrika yaa qoyyumu chaqqon taqowwamat ¤

Dengan dzikirMu (mengingatMu) wahai Dzat yang Maha Tegak yang sebenar-sebenarnya (nyata-nyata) tegak

 

4. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,

Dan tambahkanlah keyaqinanku tetap dan teguh kepadaMu

Wathohhir bihi qolbii minarrijsi walgholat ¤

Dan bersihkanlah dengannya (dengan dzikir kepadaMu) hatiku dari kotoran dan kesalahan (kotoran hati)

 

5.Wa ashmim wa abkim tsumma a’mi ‘aduwwanaa,

Dan jadikan tuli, bisu serta butakan musuh kami

Wa akhrushumu yaa dzal jalaali bichausamat ¤

Dan sekali lagi bisukanlah mereka itu, wahai Tuhan Dzat yang Pencabut nyawa

 

6.Naruddu bikal a’daa’a minkulli wijhatin,

Dengan Asma Mu tolaklah para musuh dari segala penjuru

Wa bil ismi tarmiihiim minal bu’di bisysyatat ¤

Dengan Asma ini Engkau melempar mereka dari kejauhan dengan bercerai berai.

 

7. Sa altuka bil ismil mu’azdzdomi qodrohu,

Aku memohon dengan Asma yang dihormati (diagungkan) kebesarannya

Biaajin ahuujin jalla jalyuutu jaljalat ¤

Dengan nama Alloh Yang Maha Esa,indah ciptaanNya, Yang Maha Kuasa

 

8. Fakun yaa ilaahi kaasyifadhdhurri walbalaa,

Maka adalah Alloh wahai Tuhanku Yang menghilangkan mudhorot (celaka) dan balak

Bihayyin jalaa hammii bihallin bihalhalat ¤

Dengan Dzat Yang Mencukupi jelaslah cita-citaku dengan Dzat Yang Mengasihi dan Dzat Yang Maha Memperlonggar

 

9. Wazidnii yaqiinan tsaabitambika waatsiqoo,

Dan tambahkanlah keyakinanku dengan tetap dan teguh besertaMu

Bichaqqika yaa chaqqol umuuri tayassarot ¤

Dengan kebenaran Mu wahai Dzat Yang Maha Benar segala urusan menjadi mudah

 

10. Washobba ‘alaa qolbii sya aabiiba rochmatin,

Dan semoga Alloh menuangkan (melimpahkan) pada hatiku curahan rochmat

Bichikmati maulaanal chakimi fa achkamat ¤

Dengan hikmah Tuhan kami Yang Maha Bijaksana sehingga menjadi kukuh

 

11. Achaathot binal anwaaru minkulli jaanibin,

Cahaya-cahaya meliputi kami dari segala penjuru

Wahaibaatu maulaanal ‘azdiimi binaa ‘alat ¤

Tetapi Kewibawaan Alloh Yang Maha Agung lebih tinggi bagi kami

 

12. Fasubchaanakallohumma yaa khoiro baari’in,

Maka Maha Suci Alloh wahai Dzat Yang Bebas

Wayaa khoiro khollaaqin wayaa khoiro mamba’ats ¤

Dan wahai Dzat Yang sebaik-baik Pencipta dan wahai Dzat Yang sebaik-sebaik yang mengembalikan

 

13. ‘Afuwwun ghofuurur roochimun mutafadhdhilun,

Pemaaf, Pengampun, Penyayang, Pemberi karunia

Kariimun chaliimun dzuu ‘thooyaa takaatsarot ¤

Mulia, Penyantun, empunya pemberian menjadi banyak

 

14. Rochiimun warochmaanun bichaqqika sayyidi,

Penyayang, Pengasih demi haqMu wahai Tuanku

Sa altuka ghufroonadz dzunuubi idzaa badat ¤

Aku memohon pengampunan dosa-dosa jika mulai (nyata)

ALHAMDU LILLAAHI ROBBIL ‘ALAMIIN

PANTAI PARANGKUSUMO, KANJENG RATU KIDUL DAN PANEMBAHAN SENOPATI

4 Maret 2011

AKHIR KEJAYAAN PAJANG…
Tahun 1584. Sesaat setelah Ki Ageng Pemanahan meninggal, Ki Juru Martani menghadap Sultan Hadiwijaya, untuk memilih siapa di antara enam putra pemanahan yang akan diangkat sebagai penerus kerajaan Mataram yang baru saja dikembangkan saat babad alas mentaok. Ki Ageng Pemanahan adalah keturunan Majapahit dari garis ayah dan keturunan Nabi Muhammad dari garis ibu. Sementara Ki Juru Martani adalah ipar dan penasehatnya.

Sultan Hadiwijaya kemudian memilih Danang Sutawijaya, putra sulung Pemanahan dan diberi gelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo. Sementara Ki Juru Mertani diserahi tugas untuk menjadi penasehat Mataram dengan gelar Adipati Mandaraka. Keduanya diizinkan untuk tidak usah sowan ke Pajang selama satu tahun agar dapat konsentrasi membangun Mataram. “Kalau sudah setahun, datanglah kemari jangan terlambat,” titah Sultan Hadiwijaya.

Setelah diangkat tersebut, itu berarti Sutawijaya yang sudah bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo alias Panembahan Senopati adalah Raja Pertama Mataram. Setahun lamanya, Panembahan Senopati menata sedikit demi sedikit kerajaan baru tersebut sehingga tiba saatnya dia sowan ke Pajang (eks Demak) sebagai tanda “ngabekti”nya Mataram ke Pajang. Namun, karena alasan khusus Sang Panembahan Senopati enggan sowan ke Pajang. Sultan Hadiwijaya pun mulai curiga dan mengirim utusan terpercaya Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta untuk mencermati perkembangan Mataram.

Meskipun sebagai utusan Raja, dua Ngabehi ini tetap andap asor dan turun dari kuda lebih dulu ketika menemui Panembahan Senopati yang tetap duduk di punggung kuda. Kalau dilihat dari segi etika, hal ini tentu tidak pantas dan menunjukkan sikap merendahkan bahkan menantang tidak hanya utusan itu tetapi juga yang mengutus. Dengan sopan, utusan Pajang menyampaikan amanat Sultan Hadiwijaya bahwa Panembahan Senopati segera sowan menghadap ke Pajang, tidak mengadakan jamuan pesta dan tidak berambut gondrong.

Tetap duduk di punggung kuda, Panembahan Senopati menjawab, “Sampaikan kepada Kanjeng Sultan, saya tidak akan menghentikan pesta karena saya masih suka, saya disuruh cukur lha wong ini rambut-rambut saya sendiri. Saya diisurun menghadap ke Pajang ya mau saja asalkan Sultan menghentikan kesukaannya mengambil isteri para abdinya,.”

Dua utusan Pajang itu pun pulang dan melaporkan sebagai berikut bahwa Panembahan Senopati segera menghadap dan baik-baik saja. Soal Mataram sedang membangun tembok mengelilingi kerajaan dan sikap serta ucapan menantang Raja Pajang tidak mereka laporkan.

Semuanya mengalir apa adanya sesuai dengan jalan dan kehendak sejarah…

PANEMBAHAN SENOPATI: SOSOK WASIS-WASKITA
Panembahan Senopati adalah sosok yang pandai menyerap energi kekuasaan dan kekuatan alam semesta demi membangun kerajaan Mataram. Mulai dari membina hubungan dengan penguasa Kedu dan Bagelen di sisi barat Mataram. Termasuk membangun kesatrian yang berhasil memiliki 1000 tentara pilih tanding dalam olah perang. Melihat gelagat egoisme Panembahan Senopati yang berlebihan ini, Ki Juru Martani menegur dan memberikan nasehat:

“Ada tiga kesalahan yang kamu buat ngger… Kamu memusuhi Raja Pajang Kanjeng Sultan yang tak lain orang tua dan gurumu. Saya malu karena kita yang ada di kerajaan Mataram sepertinya tidak tahu membalas budi baiknya. Bukankah kita telah diberi tanah dan wilayah untuk kita tempati dan kita bangun ini? Saya minta ngger, sekarang mintalah kepada Allah dengan teguh agar nanti bila Kanjeng Sultan sudah wafat, kamu bisa menggantikan keratonnya. Tapi sekarang jangan sekali-kali memusuhi beliau. Justeru sebaliknya, balaslah kebaikannya agar batinnya rela nanti kamu yang menggantikan kedudukannya sebagai raja”

Panembahan Senopati kemudian memenuhi petunjuk Ki Juru Mertani. Ia kemudian berangkat ke Lipura untuk bertapa. Di sebuah tempat sepi, dia melihat sebuah batu hitam mengkilat yang cucuk untuk dipakai meditasi. Batu indah ini dikenal sebagai “Sela Gilang” dan di batu ini pula Panembahan mendapatkan WAHYU KERATON, yaitu sebuah wisik gaib yang jelas dan terang berbunyi: “KAMU AKAN MENJADI RAJA MATARAM SEJATI MENGALAHKAN PAJANG DAN KERAJAAN-KERAJAAN LAIN, BEGITU JUGA DENGAN ANAK CUCUMU. TETAPI CICITMU KELAK JUGA AKAN MENJADI AKHIR KERAJAAN MATARAM….”

Selesai bertapa, Panembahan Senopati menghadap Ki Juru Mertani dan Ki Juru mengatakan bahwa pekerjaan besar baru dimulai sekarang. Pekerjaan besar yang dimaksud Ki Juru adalah mencari dukungan kekuatan adikodrati dari alam gaib. Panembahan Senopati diminta pergi ke pantai segara kidul (laut selatan) dan Ki Juru sendiri pergi ke gunung Merapi.

Di mata seorang Ki Juru yang waskita ini, dua tempat ini dikuasai oleh sosok penguasa di alamnya masing-masing. Penguasa samudra yaitu Kanjeng Ratu Kidul dan penguasa gunung berapi yaitu Kyai Sapu Jagad dan kadang juga muncul sosok bernama Kanjeng Ratu sekar Kedhaton. Selain itu masih ada dua penguasa gaib lagi yang perlu untuk diminta bantuan agar kerajaan Mataram ini bisa kuat yaitu Kanjeng Sunan Lawu di timur kerajaan, dan Sang Hyang Pramoni dan di barat yang menguasai hutan Krendhawahana.

MEDITASI DI PANTAI PARANGKUSUMO
Sejak dulu, pantai Parangkusumo cukup dikenal kalangan mistikus. Pantai yang terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis yang kini ditandai dengan Bangunan Cepuri ini konon merupakan titik dimana pintu gerbang Kerajaan Gaib Segara Kidul berada. Bila anda melakukan meditasi di pinggir pantai menghadap ke laut maka di kejauhan akan tampak Pintu Gerbang Kerajaan Segara Kidul terbuat bahan berwarna emas dengan tinggi menjulang puluhan meter dari lautan. Jadi bentangan pantai dari barat ke timur adalah alun-alun Kerajaan Segara Kidul tersebut. Sebuah penampakan yang indah yang bisa dinikmati oleh para pejalan spiritual.

Tiba di pantai Parangkusumo, panembahan Senopati segera berjalan di bebatuan karang di pantai. Di sebuah batu kecil dan menonjol, dia duduk dan melakukan meditasi. Menyatukan semua pancaindera ke satu titik dan menata batin untuk berdoa agar Tuhan Semesta Alam berkenan memberikan bantuan.

Tuhan tentu saja punya puluhan, ratusan, jutaan, milyaran cara untuk membantu orang yang ingin ditolong-NYA. Salah satu cara itu adalah mengutus Kanjeng Ratu Kidul untuk menemui Panembahan Senopati. Sebagaimana hukum alam yang berlaku, bantuan dan pertolongan Tuhan ini pastilah ada kisah dan cerita uniknya.

Panembahan Senopati yang memang dikenal sakti ini memulai untuk bertapa. Laut selatan yang semula bergelombang alamiah tiba-tiba menampakkan keanehannya. Ombak laut bergulung-gulung semakin membesar. Dinginnya air laut selatan sedikit demi sedikit berubah menjadi panas hingga mendidih. Penghuni lautan pastilah terganggu. Ikan-ikan serta binatang laut lainnya banyak yang mati akibat panasnya energi spiritual yang terpancar dari batin Panembahan. Setiap Panembahan masuk ke lebih dalam wilayah “NING” atau keheningan dan satu kulit batin terkelupas maka satu kulit itu menjadi energi panas yang membakar alam sekitar. Proses yang alamiah terjadi itu hampir sama persis saat seseorang melakukan matek aji atau matek hizib dan mantra yang mengeluarkan hawa panas ke lingkungan sekitarnya.

Para prajurit dan punggawa kerajaan Segara Kidul kuwalahan membendung energi panas yang terpancar dari tubuh Panembahan Senopati. Segala kesaktian dan kekebalan ratusan ribuan makhluk halus ini tawar dan membuat tubuh mereka melemas. Cukup berbahaya bila tidak dilakukan pencegahan karena jagad lelembut dan jagad fisik laut selatan semakin banyak yang tewas. Di saat yang genting itu, muncullah Kanjeng Ratu Kidul.

Ternyata begitu melihat penyebabnya semua ini adalah Panembahan Senopati yang sedang “manekung” atau “maneges”, Kanjeng Ratu kemudian membangunkan kesadaran Panembahan Senopati. Setelah berdialog, lahirlah sebuah konsensus atau perjanjian gaib antar dua makhluk di dua dimensi yang berbeda ini. Perjanjian gaib itu berbunyi: KANJENG RATU KIDUL AKAN MENDUKUNG PENUH KEJAYAAN DAN KEMAKMURAN ANAK KETURUNAN PENGUASA MATARAM BILA MEREKA SELALU SETIA DENGAN PERNIKAHAN MEREKA.

Jadi dengan perjanjian tersebut, maka Para Raja Mataram sejak Panembahan Senopati hingga saat ini harus menikah dengan Kanjeng Ratu Kidul dan setia dengan perjanjian ini. Pernikahan ini juga secara filosofis bisa diartikan sebagai kewajiban Raja-Raja Mataram untuk wajib nguri-uri atau memelihara adat istiadat dan budaya Jawa karena ini sudah merupakan perjanjian. Bila perjanjian ini dilanggar, maka Kanjeng Ratu Kidul berpesan dirinya tidak akan menjamin lagi keamanan dan kesejahteraan kerajaan Mataram. Sebab secara alamiah tanah Mataram memang terkenal tanah yang sesungguhnya menyimpan potensi bencana. Bencana gempa bumi akibat pergeseran-pergeseran lempeng bumi dan bencana gunung berapi.

Setelah selesai bertemu dan mengadakan perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul maka Panembahan Senopati menyelesaikan meditasinya. Momentum selesainya meditasi sang Panembahan ini adalah datangnya Sunan Kalijaga yang mengijazahkan pusaka Kyai Tunggul Wulung untuk dimiliki Raja-Raja Mataram secara turun temurun. Sunan Kalijaga akhirnya berpesan kepada Panembahan Senopati jangan terlalu mengandalkan kesaktiannya. Tidak lupa berdoa dan ikhlas menyerahkan hasil usahanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

BENDE KI BICAK DATANGKAN KANJENG RATU KIDUL
Bala bantuan pasukan gaib Kanjeng Ratu Kidul itu dalam sejarah benar-benar terbukti. Suatu ketika Kerajaan Pajang berkekuatan 10.000 orang yang dipimpin langsung Kanjeng Sultan Hadiwijaya menggempur kerajaan Mataram berkekuatan 1000 orang dipimpin Panembahan Senopati. Di wilayah Prambanan, kedua pasukan ini bertemu dan terjadilah peperangan yang berat sebelah.

Menyadari kekuatan pasukan Mataram yang kecil, Juru Martani mendapat wisik agar menabuh bende Ki Bicak. Bende ini peninggalan Ki Ageng Sela. (Bende ini pun ada sejarahnya. Konon sewaktu menanggap wayang dengan dalang Ki Bicak, Ki Ageng Sela jatuh hati pada isteri sang dalang. Ki Ageng kemudian membunuh Ki Bicak dan mengambil usteri serta gamelan termasuk bende. Menurut Sunan Kalijaga, bende itu nanti akan menjadi pusaka Keraton Mataram dan bila bende itu dibunyikan maka bunyinya menggelegar memenuhi angkasa dan penabuh akan menang perang.)

Suara Bende yang ditabuh menggelegar ini pula yang kemudian terdengar oleh Kanjeng Ratu Kidul. Itu tanda bahwa Mataram butuh bantuan sehingga Kanjeng Ratu beserta puluhan ribu bala bantuannya datang menyerang pasukan Pajang. Sementara penguasa gunung Merapi yaitu Kyai Sapu Jagad membuka kunci kawah gunung tersebut. Gunung Merapi meletus di tengah kegelapan, hujan lebat, banjir dan gempa bumi. Bala bantuan gaib yang berpadu dengan kekuatan alam yang hebat itulah yang membuat pasukan pajang berkekuatan lebih besar itu morat marit. Sultan Hadiwijaya sosok yang sakti mandraguna —yang mudanya disebut Jaka Tingkir dan punya guru sakti yaitu Ki Ageng Sela—ini pun harus terjatuh dari gajah tunggangannya dan harus melarikan diri dalam keadaan terluka yang parah.

Panembahan Senopati terus mengejar dengan 40 orang pasukan khususnya hingga masuk ke wilayah Pajang. Tahu kekuatan Panembahan yang tidak seberapa itu, pasukan Pajang yang dipimpin Benawa, anak Sultan Hadiwijaya segera siap melakukan penghadangan dan penumpasan. Namun Benawa diwejang sang ayah agar tidak membunuh Panembahan Senopati

“Jangan berani terhadap kakangmu (panembahan senopati), karena kalau aku sudah wafat maka kakangmu itu yang menjadi penggantiku. Rukun dan berbaktilah padanya” ujar Sultan Hadiwijaya yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1587 atau tiga tahun setelah ayah Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan wafat.

Memang sudah menjadi takdir bahwa Sultan Hadiwijaya wafat pada tahun itu. Namun konon salah satu lantaran sebabnya adalah berikut ini. Ki Juru Taman, seorang raja Jin abdi Panembahan Senopati menawarkan jasa untuk membunuh Sultan Hadiwijaya. Mendengar tawaran itu, Panembahan Senopati berkata: “Saya tidak punya niat seperti itu, tapi jika engkau ingin membunuhnya maka terserah dan saya tidak memberi perintah padamu tapi juga tidak melarangmu!”

Tahu dan tanggap sasmita narendra apa yang diinginkan sang Panembahan, Raja Jin Ki Juru Taman segera melakukan aksi membunuh Sultan Hadiwijaya dengan kesaktiannya. Jenazahnya dimakamkan oleh masyarakat di Makam Kota Gede, yang berjajar dengan Makam Nyai Ageng Enis, ibu Ki Ageng Pemanahan dan Pangeran Jayaprana— leluhur Raja-Raja Surakarta dan Yogyakarta.

HENING CARA JAWA DAN ILMU KASUNYATAN

4 Maret 2011

Agar jangan keliru atau salah terima, apabila ada anggapan bahwa semedi ini menghilangkan rahsanya hidup atau nyawa ( hidupnya ) keluar dari badan wadag. Penerimaan seperti itu, pada mulanya berasal dari cerita perjalanan Sri Kresna di Dwarawati, atau sang Arjuna ketika angraga-sukma. Agar diperhatikan, bahwa cerita seperti itu tetap hanya sebagai persemuan atau perlambang (symbol, bukan hal atau cerita yang sebenarnya). Adapun uraian mengenai lelaku semedi sebagai berikut. Istilah semedi sama dengan sarasa, yaitu rasa-tunggal, maligini rasa (berbaur berjalannya rasa), rasa jati, rasa ketika belum mengerti. Adapun matangnya perilaku atau pengolahan (makarti) rasa disebabkan dari pengelolaan atau pengajaran, ataupun pengalaman-pengalaman yang terterima atau tersandang pada kehidupan keseharian. Olah rasa itulah yang disebut pikir, muncul akibat kekuatan pengelolaan, pengajaran atau pengalaman tadi. Pikir lalu memiliki anggapan baik dan jelek, kemudian memunculkan tata-cara, penampilan dan sebagainya yang kemudian menjadi kebiasaan (pakulinan /adat ). Apapun anggapan baik-buruk, yang sudah menjadi tata cara disebabkan telah menjadi kebiasaan itu, kalau buruk, ya betul-betul buruk, dan kalau baik, ya memang baik sesungguhnya. Dan itu semua belum tentu, karena semua itu hanyalah kebiasaan anggapan. Adapun anggapan (penganggep), belum pasti, tetap hanya menempati kebiasaan tata cara (adat), jadi ya bukan kesejatian dan bukan kenyataan (real).

Apa yang dimaksudkan semedi disini, tidak ada lain kecuali hanya untuk mengetahui kesejatian dan kasunyatan. Adapun sarananya tidak ada lagi kecuali hanya mengetahui atau menyilahkan anggapan dari perilaku rasa, yang disebut hilang-musnahnya papan dan tulis. Ya disitu itu tempat beradanya rasa-jati yang nyata, yang pasti, yang melihat tanpa ditunjukan (weruh tanpa tuduh). Adapun terlaksananya harus mengendalikan segala sesuatunya ( hawa nafsu dan amarah ), disertai dengan membatasi dan mengendalikan perilaku (perbuatan anggota badan). Pengendalian anggota tadi, yang lebih tepat adalah dengan tidur terlentang, disertai dengan sidhakep (tangan dilipat didada seperti takbiratul ihram, atau seperti orang meninggal) atau tangan lurus kebawah, telapak tangan kiri kanan menempel pada paha kiri kanan, kaki lurus, telapak kaki yang kanan menumpang pada tapak kaki kiri. Maka hal itu kemduian disebut dengan sidhakep suku(saluku) tunggal. Ataupun juga dengan mengendalikan gerakan mata, yaitu yang disebut meleng. Lelaku seperti itu dilakukan bagi yang kuasa mengendalikan gerak-bisik cipta (gagasan, ide, olah pikir), serta mengikuti arus aliran rahsa, adapun pancer-nya (arah pusat) penglihatan diarahkan dengan memandang pucuk hidung, keluar dari antara kedua mata, yaitu di papasu, adapun penglihatannya dilakukan harus dengan memejamkan kedua mata.

Selanjutnya adalah menata keluar masuknya napas, seperti berikut, Napas ditarik dari arah pusar, digiring naik melebihi pucuk tenggorokan hingga sampai di suhunan (ubun-ubun), kemudian ditahan beberapa saat. Proses penggiringan atau pengaliran napas tapi ibarat memiliki rasa mengangkat apapun, adapun kesungguhannya seperti yang kita angkat, itu adalah mengalirnya rasa yang kita pepet dari penggiringan nafas tadi. Kalau sudah terasa berat penyanggaan ( penahanan) napas, kemudian diturunkan secara pelan-pelan. Lelaku seperti itu yang disebut sastra-cetha. Maksudnya sastra adalah tajamnya pengetahuan, cetha adalah mantapnya suara dipita suara (cethak), yaitu cethak (diujung dalam dari lidah) mulut kita. Maka disebut demikian, ketika kita melaksanakan proses penggiringan napas melebihi dada kemudian naik lagi melebihi cethak hingga sampai ubun-ubun. Kalau napas kita tidak dikendalikan, jadi kalau hanya menurutkan jalannya napas sendiri, tentu tidak bisa sampai di ubun-ubun, sebab kalau sudah sampai tenggorokan langsung turun lagi.

Apalagi yang disebut daiwan ( dawan ), yang memiliki maksud : mengendalikan keluar masuknya napas yang panjang lagipula disertai dengan sareh (kesadaran penuh dan utuh), serta mengucapkan mantra yang diucapkan dalam batin, yaitu ucapan “hu” disertai dengan masuknya napas, yaitu penarikan napas dari pusar naik sampai ubun-ubun. Kemudian “Ya” disertai dengan keluarnya nafas, yaitu turunnya nafas dari ubun-ubun sampai pada pusar; naik turunnnya nafas tadi melebihi dada dan cethak (pita suara). Adapun hal itu disebut sastra – cetha. Karena ketika mengucapkan dua mantra sastra: “hu-ya”, keluarnya suara hanya dibatin saja, juga kelihatan dari kekuatan cethak (tenggorokan). (Ucapan dan bunyi mantra atau dua penyebutan ; “hu-ya” pada wirid Naksyabandiyah berubah menjadi ucapan; “hu-Allah”, penyebutannya juga disertai dengan perjalanan nafas. Adapun wiridan Syatariyah, penyebutan tadi berbunyi; [ la illaha illa Allah], tetapi tanpa pengendalian perjalanan nafas.)

Untuk masuk keluarnya nafas seperti tersebut diatas, satu angkatan hanya mampu mengulangi tiga kali ulang, walau demikian, karena nafas kita sudah tidak sampai kuat melakukan lagi, karena sudah berat rasanya ( menggeh-menggeh / ngos-ngosan ). Adapun kalau sudah sareh (sadar-normal), ya bisa dilaksanakan lagi, demikian seterusnya sampai merambah semampunya, karena semakin kuat tahan lama, semakin lebih baik. Adapun setiap satu angkatan lelaku tadi disebut tripandurat, maksudnya tri = tiga, pandu = Suci, rat = Jagat = Badan = Tempat. Maksudnya adalah tiga kali nafas kita dapat menghampiri jagat besar Yang Maha Suci bertempat didalam suhunan ( yang dimintai ). Yaitulah yang dibahasakan dengan pawirong kawulo Gusti, maksudnya kalau nafas kita pas naik, kita berketempatan Gusti, dan ketika turun, kembali menjadi kawula. Tentang masalah ini, para pembaca hendaklah jangan salah terima! Adapun maksud disebutnya kawula-Gusti, itu bukanlah nafas kita, akan tetapi daya ( kekuatan ) cipta kita. Jadi olah semedi itu, pokoknya kita harus menerapkan secara konsisten, membiasakan selalu melaksanakan keluar-masuk dan naik-turunnya nafas, disertai dengan mengheningkan penglihatan, sebab pengliahatan itu terjadi dari rahsa.

SUSILA BUDHI DHARMA

4 Maret 2011

Salah satu aliran kepercayaan asli Indonesia bernafaskan Kejawen Islam ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jauh sebelum era globalisasi dan pasar bebas, SUSILA BUDHI DHARMA telah tersebar di 80 negara dengan anggota 20 ribu orang.

subuh

Nama Indonesia sebenarnya tidak jelek di dunia internasional. Negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja dan kini sedang sedih karena berbagai aksi radikalisme, anarkisme dan nasionalisme yang memudar ini, sebenarnya menyimpan kekuatan spiritual yang justeru diakui di dunia internasional. Kekuatan spiritual ini bisa jadi cara olah batin untuk mengubah dunia. Salah satu bukti statemen itu adalah diterimanya salah satu aliran kebatinan Jawa (Kejawen) di dunia internasional sejak puluhan tahun yang lalu.

Subud didirikan oleh almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo. Bapak (panggilan akrabnya di kalangan Subud) menerima latihan secara spontan (dalam khasanah internal Kebatinan dikatakan telah menerima WAHYU. Sebutan ini dari kacamata Agama Islam dinilai agak kurang PAS karena yang menerima wahyu hanya para nabi. Lebih tepatnya menerima ilham) pada tahun 1925, saat berumur 24 tahun. Subuh bercerita saat dia menerima wahyu: “Saat itu Bapak (Subuh menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Bapak bukan “saya” atau “Kami” seperti kebanyakan orang) bekerja di kantor melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tahu-tahu semua itu berhenti, berakhir. Akal tidak bekerja lagi. Kemudian Bapak menerima seperti yang akan Saudara terima di dalam latihan. Bapak tidak mencari ilmu, karena tidak mempunyai guru atau pengajar. Bapak hanya sekadar menerima, dan itu disebut Mukjizat Allah, Anugerah Tuhan. Itu hanya diberikan kepada orang kalau orang itu tidak mencarinya, sepi ing pamrih. Kalau seseorang menyerah dan pasrah dalam menerima Anugerah Tuhan, maka Tuhan akan memberi Anugerah-Nya…”

Inilah awal sejarah Subud yaitu ketika almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan. Kontak ini disusul dengan masa tiga tahun yang ditandai gejolak luar biasa di dalam jiwanya. Pada akhir masa itu, doanya terkabul dengan diperolehnya petunjuk bahwa karunia yang telah diterima beliau tidak hanya untuk dirinya sendiri dan dapat dibagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat. Hanya disyaratkan bahwa anggota tidak boleh dicari-cari. Delapan tahun kemudian sejak diterimanya wahyu pertama tersebut, pada tahun 1933 Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai LATIHAN KEJIWAAN. Subud sebagai organisasi kemudian dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta. Pada tanggal 23 Juni 1987, Muhammad Subuh dipanggil Sang Khalik di Jakarta dalam usia 86 tahun.

Muhammad Subuh dikenal para pengikutnya sebagai orang yang winasis, sakti dan waskita. Salah satu hal yang penting sebagai tonggak yang membesarkan organisasi ke dunia Internasional yang dipimpin Subuh ini adalah peristiwa sembuhnya Eva Bartok, artis Inggris setelah sakit bertahun tahun. Secara pribadi Subuh dikenal pula bertangan dingin dan mampu mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan memasrahkan segala penyakit ke Tuhan. Apa komentar Subuh saat bisa menyembuhkan Eva Bartok? “Itu bukan Bapak yang menolong atau menyembuhkannya. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti kepada Tuhan Allah, dan dia sembuh. Eva menjadi sehat, dan segala-galanya berakhir dengan baik. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti. Kesehatan seseorang adalah perkara antara orang itu dan Tuhan Allah. Orang lain tidak dapat turut campur tangan…”

Bagi pengagumnya, figur Subuh tak hanya pribadi yang mempesona auranya, tapi lebih-lebih pesona spiritualnya. Maklum, Subuh bisa di-artikan sebagai Subud, nama kondang di peta spiritualitas. Subud adalah sejenis latihan spiritual yang diperoleh Subuh melalui sebuah pengalaman gaib pada 1925. Jalan spiritual itu kemudian disebut latihan kejiwaan Subud, kependekan dari Susila Budhi Dharma. Inti latihan kejiwaan itu berupa pasrah kepada Tuhan.

Manusia, menurut Subud, memiliki akses langsung dan cara yang unik untuk berhubungan dengan Tuhan. Subud, menurut Suryadi Haryono, penasihat Yayasan Susila Dharma Indonesia, bukan agama, ajaran, atau sejenis meditasi. Sebagian kalangan muslim memandang Subud, seperti aliran kebatinan umumnya, mengabaikan syariat. Benarkah? “Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya. Justru melalui proses pembersihan diri ala Subud, orang semakin mengamalkan ajaran agama,” kata Suryadi.

Idries Shah (1926-1996), penulis tasawuf kelahiran India, pernah menyatakan bahwa Subud adalah bentuk popularisasi dari tasawuf dan latihan kejiwaan. Subud tak ubahnya olah batin cara sufi. Muhammad Subuh memang pernah berguru kepada Kiai Abdurrahman, guru tarekat Naqsabandiyah di Kota Semarang. Namun, Subuh menolak penilaian keterkaitan antara Subud dan tasawuf. Dalam otobiografinya, Subuh menyatakan bahwa latihan kejiwaan tak diperoleh dari manusia. Sebagai organisasi, Subud berdiri secara

resmi pada 1947 di Kota Yogya. Pada 1957, markas Subud berpindah ke kawasan Cilandak, Jakarta. Pengikut Subud hingga 1950-an masih terbatas di Pulau Jawa. Pada 1995, jumlah mereka secara nasional sekitar 15 ribu orang, demikian menurut esai ilmiah Robert J. Kyle dari Jurusan Arkeologi dan Antropologi Universitas Nasional Australia. Mereka tak hanya datang dari berbagai kelas sosial, tapi juga dari penganut agama resmi di Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Buddha, dan Hindu.

Sejak 1957, ratusan orang di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia mulai masuk Subud. Penyebaran ini berkat artikel-artikel di koran dan jurnal Eropa tulisan Husein Rofe, ahli bahasa asal Inggris yang pernah berguru kepada Subuh. Juga buku-buku lain. Kini jumlah anggota Subud diperkirakan 20 ribu orang, yang tersebar di 80 negara. Mereka membentuk organisasi nasional di negara masing-masing dan secara internasional mendirikan World Subud Association. Lalu, ada juga organisasi Susila Dharma Internasional, yaitu lembaga swadaya masyarakat yang berafiliasi pada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengikut Subud ber-organisasi di bawah Yayasan Susila Dharma Indonesia. Dan kini pelatih spiritual tertingginya adalah Siti Rahayu Wiryohudoyo, anak tertua Subuh.

Subud adalah bagian dari pertumbuhan mistisisme atau sebut saja gerakan kebatinan di Jawa pasca kemerdekaan. Mereka yang terdaftar di meja birokrasi pemerintah pada 1970-an berjumlah 350 kelompok. Nama kelompok itu antara lain Sumarah, Sapta Darma, dan Pangestu. Hanya Subud yang mendunia. Fenomena itu, menurut studi Robert J. Kyle, adalah bagian dari pencarian identitas budaya menghadapi gemuruh modernitas yang mulai menyentuh Indonesia. Ada berbagai pandangan dari beberapa pengamat, misalnya Koentjaraningrat, tentang faktor kemunculan gerakan kebatinan di Jawa. Ada yang memandang gerakan itu sebagai pelarian psikologis masyarakat dalam menghadapi kerasnya kondisi sosial ekonomi, pe-perangan, kerawanan sosial, dan cepatnya perubahan sosial. Pengamat lain berpendapat itu merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap kurangnya toleransi dan kecenderungan ritualistik dari kaum beragama. Kegagalan agama-agama untuk menjadi sumber moralitas juga dituding sebagai biang keladi. “Semua pandangan itu ada benarnya,” kata Robert dalam esai ilmiahnya. Apa pun latar sosiologis kelahirannya, kehadiran Subud terbukti memenuhi dahaga spiritual zaman, terutama di Barat.

***

SUBUD merupakan singkatan SUSILA BUDHI DHARMA. SUSILA menunjukkan sifat insan yang memiliki tabiat manusia yang sempurna sesuai dengan kodrat Tuhan. BUDHI berarti bahwa di dalam diri manusia terdapat suatu daya luhur yang dapat membimbingnya bila ia mampu menginsyafi kehadiran daya tersebut. DHARMA melambangkan penyerahan manusia kepada Kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa. Latihan kejiwaan Subud adalah praktek rohani yang merupakan inti eksistensi Persaudaraan Subud. Dalam latihan kejiwaan Subud, si pelatih menyerah sepenuhnya kepada, membuka rasa dirinya kepada, dan mengalami kontak langsung dengan Kekuasaan Tuhan. Selama latihan berlangsung, si pelatih hanya mengikuti apa saja yang timbul dalam rasa dirinya dari saat ke saat. Pengalaman ini bersifat sangat pribadi, sehingga masing-masing pelatih akan mengalami hal-hal yang berbeda-beda. Karena apa yang diterima dalam latihan kejiwaan Subud bersifat sangat khas dan dalam, maka pengalaman-pengalaman para pelatih tidak mungkin digambarkan secara memuaskan dengan kata-kata. Dijelaskan bahwa tujuan utama latihan kejiwaan Subud adalah memberdayakan kita, dengan menyerah kepada Kekuasaan Tuhan serta mengikuti petunjuk-Nya, agar lambat laun dapat mencapai keadaan kodrati kita yang sebenarnya sebagai manusia sempurna, atau insan kamil. Siapa saja boleh masuk persaudaraan Subud asalkan calon anggota sudah mencapai umur 17 tahun, telah menjalankan masa percobaan selama tiga bulan guna mengerti asas dan tujuan Subud, dan tidak ada halangan apa-apa, maka barang siapa akan diterima sebagai anggota Subud.

Subud bukanlah organisasi atau sekte yang eksklusif, karena menerima anggota dari segala macam agama, maupun mereka yang belum beragama. Oleh karena esensi Subud adalah kebaktian kepada Tuhan Yang Mahakuasa, maka tidak ada alasan untuk terjadinya konflik dengan agama yang diyakini. Malah sebaliknya, banyak anggota Subud yang mengaku setelah mengikuti latihan kejiwaan mulai menghayati agamanya sendiri dan menghormati agama-agama orang lain. Latihan kejiwaan Subud dimulai dengan PEMBUKAAN. Selama beberapa bulan setelah dibuka, seseorang yang baru menjadi anggota dianjurkan melakukan latihan dua kali seminggu selama setengah jam. Bila sudah cukup terbiasa menerima latihan, dia akan dibenarkan berlatih tiga kali seminggu.

Latihan kejiwaan Subud dapat dilakukan baik dalam kelompok maupun sendirian. Bila keadaan memungkinkan, idealnya ialah berlatih dua kali seminggu dalam grup dan sekali seminggu seorang diri. Kini, di berbagai komunitas di seluruh dunia terdapat sebanyak 385 grup Subud. Komite-komite setempat mengusahakan sarana latihan. Di sebagian besar negeri tempat Subud berakar ada organisasi nasional yang mengadakan kongres berkala agar para anggota dapat baik bersilatulrahmi maupun berbakti bersama kepada Tuhan Yang Mahaesa. Semua organisasi nasional mengambil bagian dalam Asosiasi Subud Sedunia (World Subud Association, WSA) dan memilih direktur dan pejabatnya. WSA mensponsori kongres internasional yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali. Pada tahun 1997 kongres tersebut akan diadakan di kota Spokane, Washington, Amerika Serikat. Kongres-kongres sebelumnya diadakan di Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Dalam salah satu transkrip ceramahnya kepada para calon anggota Subud di Singapura, pada 16 April 1960 Muhammad Subuh mengatakan bahwa Subud bukanlah agama baru, juga bukan sebagian agama yang sudah ada, apalagi suatu ilmu. Subud hanya merupakan lambang cara hidup manusia sempurna. Susila Budhi Dharma oleh sebab itu merupakan lambang tindak-tanduk manusia di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan dan terjadi karena memang demikianlah Kehendak Tuhan atas diri kita. Itu amat cocok dengan kitab bahwa Tuhan selalu dekat pada manusia, atau bahwa manusia sangat dekat pada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia, dan bahwa manusia dapat menerima apa saja yang diberi oleh Tuhan. Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? “Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu. Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat pada Tuhan..” kata Muhmmad Subuh.

Menurut Subuh, Tuhan memerintah tanpa perkakas atau bahan, sedangkan manusia, kalau mau membuat suatu barang, membutuhkan, misalnya, meja, kayu, paku, martil, dan alat-alat lainnya. Untuk bisa membuat bom atom, manusia membutuhkan alat-alat yang lebih banyak lagi untuk mengubah bahan baku menjadi bom atom. Tetapi semua itu tadi tidak diperlukan Tuhan. Tuhan Allah mencipta tanpa perkakas dan bahan. Di sini terang sekali bahwa untuk dapat mengerti Kehendak Tuhan tidak ada jalan lain buat manusia kecuali betul-betul menyerah, karena hati dan akal pikirannya tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan. “Itulah yang kita lakukan dalam latihan kejiwaan. Kita hanya menyerah saja tanpa menggunakan akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena tugas kita ialah hanya sekadar menerima jatah yang Tuhan catukan kepada kita. Demikianlah dapat dimengerti bahwa Subud itu hanya merupakan lambang kehidupan manusia yang wajib menurut Kehendak Tuhan melulu serta melaksanakan Perintah-Nya di dunia, dan demikian pula di akhirat.” Ujar Subuh.

Itulah karenanya maka dalam mengikuti latihan kejiwaan Subud kita tidak mempunyai ajaran, tidak ada yang perlu kita pelajari, karena yang dihendaki tidak lain kecuali sungguh-sungguh menyerah. Siapa saja yang mengatakan bahwa ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Tidak ada yang perlu kita lakukan kecuali menerima apa yang diberi-Nya, atau apa yang menjadi Kehendak Tuhan atas diri kita. Itulah sabda sejati para nabi, “Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dan menuntun dirimu.”

Di dalam latihan kejiwaan kita tidak mempunyai kemauan satu pun. Menurut Subuh, kita tidak mempunyai permohonan satu pun. Kita hanya sekadar menerima apa saja yang Tuhan berikan. Tidak patut kalau kita meniru atau mencontoh orang lain. Kita masing-masing harus menemukan dan menempuh jalan sendiri ke Tuhan. Biasanya, kalau berguru, seorang murid banyak diajari untuk melakukan persis apa yang dilakukan oleh gurunya, agar ia dapat menggayuh apa yang telah tercapai oleh sang guru. Sebenarnya itu keliru, sebab jangankan di antara guru dan murid-muridnya, di antara saudara kandung saja sudah banyak perbedaannya. Dengan demikian tentunya kita dapat mengerti bahwa jalan yang cocok untuk seorang guru dalam hal menemukan Tuhan, belum tentu cocok untuk murid-muridnya. Subuh menjelaskan kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan. Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, “Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim.

Itu, kata Subuh, mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuntunan Tuhan dan hanya akan melakukan apa yang dititahkan-Nya. Saudara tidak akan tergesa-gesa bertindak dan baru setelah itu ingat Tuhan, sehingga menyesal, merasa kecewa dengan apa yang telah Saudara lakukan. Kalau sebelum kita mulai bekerja Tuhan Allah selalu ada di dalam kesadaran kita, maka segala apa yang kita kerjakan nanti akan benar. “Itu juga mengandung arti bahwa kita tidak boleh bertindak tanpa Tuntunan Tuhan, karena jika Tuhan Allah kita lupakan, kita tidak akan mendapat Pertolongan-Nya kalau ternyata tindakan kita salah. Kekuasaan yang kita saksikan, hanya untuk meyakinkan bahwa Kekuasaan Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di dalam kita, tidak ada hanya di dalam diri kita, melainkan juga ada di dalam tiap-tiap ciptaan. Itulah sebabnya, maka di dalam latihan kejiwaan kita tidak akan merugikan agama kita masing-masing. Apa yang kita alami dan lakukan akan berasal dari Kehendak Tuhan, dan kita hanya membuka apa yang sudah ada di dalam kita

TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN

4 Maret 2011

“Ingsun tojalining Dzat Kang Maha Suci, Kang murba amasesa, Kang kuwasa Angandika Kun Fayakun mandi sakucapingsun, dadi saksiptaningsun, katurutan sakarsaningsun, kasembadan saksedyaningsun karana saka Kodratingsun. Ingsun Dzating manungsa sejati, saiki eling besuk ya eling. Saningmaya araning Muhamad , Sirkumaya araningsun, Sir Dzat dadi sak sirku, yaiku sejatining manungsa, urip tan kena ing pati,langgeng tan keno owah gingsir ing kahanan jati, ing donya tumeka jagad langgeng. Ingsun mertobat lan nalangsa marang Dzat ingsun dewe, regede badaningsun, gorohe atiningsun, laline uripingsun, salahe panggaweningsun, ing salawas lawase dosaningsun kabeh sampurna saka kodratingsun.”

“Ilmu iku kalakone kanthi laku”: ilmu itu terlaksana karena dilakukan di dalam perbuatan yang nyata. Dalam konteks khasanah falsafah Jawa, kata “ngelmu” menunjuk pada ajaran hidup menuju kesempurnaan diri pribadi. Ajaran itu teori dan teori tidak akan membawa manfaat apa-apa bila tidak dipkraktekkan dalam hidup sehari-hari.

Di dalam sebuah ajaran ada perintah dan larangannya. Tujuan perintah larangan adalah untuk mendisiplinkan diri agar diri yang sebelumnya “liar” menjadi “jinak”, diri yang sebelumnya memperturutkan keinginan “diri”/ego/keakuan menjadi diri yang bisa menurut dengan diri-Nya/Ego-Nya.

Kenapa diri ini harus manut dengan keinginan atau kehendak-Nya? Ada sebuah analogi yang gampang dicerna. Misalnya, sebuah mobil BMW diciptakan dan diproduksi oleh pabrik BMW di Jerman. Pabrik sudah mengeluarkan petunjuk penggunaan, aturan perintah dan larangan.

Pabrik tidak asl bikin petunjuk penggunaan. Sang insinyurnya sudah memiliki prediksi agar mesin dan bodi mobil itu awet, maka oli harus dignti saat mobil sudah mencapai sekian kilometer. Insinyur juga memiliki prediksi bahwa usia efektif mobil tersebut sekian tahun. Hingga mencapai batas usia tertentu, maka mobil akan digolongkan istimewa dan menjadi barang antik.

Begitu pula manusia. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan Sang Insinyur Manusia ini sudah mengeluarkan buku panduan lengkap, tata cara hidup dan berkelakuan agar dipedomani sebagai arahan hidup mulai o tahun hingga semilyar tahun mendatang.

Beda dengan benda yang “ada”nya begitu sederhana. “Adanya” manusia ini sungguh luar biasa. Manusia diberikan kebijaksanaan untuk menentukan masa depannya sendiri sebelum dia dilahirkan di dunia. Manusia diberi kekuasaan-Nya untuk merancang sendiri dia nantinya akan jadi apa, akan kemana, apa tujuan hidupnya. Ya, karena Tuhan Maha Pemurah, maka manusia dijinkan menjadi insinyur yang bebas merancang dirinya sendiri.

Ruh yang merupakan “manusia sejati” dan “sejatinya manusia” itu, sebelum ada di dunia telah merancang dirinya sendiri dengan menulis di buku kitabnya masing-masing. Tuhan hanya memberikan kata “ACC” dan membubuhkan “stempel” saja. Tuhan pun menekankan bahwa yang berlaku nanti di bumi adalah hukum sebab akibat. Hukum karma, sunatullah atau disebut juga dengan hukum alam.

Jadi, salah bila dikatakan bahwa adanya sial, bencana, bahaya, ketidaksuksesan hidup itu karena Tuhan. Tuhan tidak cawe-cawe sama sekali. Itu murni urusan manusia yang tidak paham dan malah mungkin melanggar pantangan hukum sebab akibat.

Keberhasilan dan kesuksesan adalah akibat dari sebuah sebab. Sebab keberhasilan/kesuksesan adalah kerja keras. Untuk bekerja keras butuh motivasi kerja yang tinggi dan niat yang teguh. Tubuh/Raga yang rajin bergerak mencari rezeki yang halal, asalnya adalah jiwa/batin yang tenang, nyaman dan bahagia.

Kembali ke tema awal. Apa saja tata cara ngelmu sangkan paran? Di dalam khasanah Kejawen, dalam buku “Cipta Brata Manunggal” karangan Ki Brotokesawa disebutkan laku yang perlu dijalani:

1. Sabar, tawakal, tekun, dan nrimo

2. Jaga kebersihan lahir batin

3. Olah raga

4. Olah nafas

5. Berpakaian yang pantas dan bersih.

7. Olah cipta, banyak membaca dan menggali ilmu pengetahuan

8. Bekerja rajin

9. Sore hari belajar untuk tambahan pengetahuan

10. Makan teratur dan higienis.

11. Minum air putih dingin pagi, siang, malam

13. Istirahat selama 6 atau 8 jam sehari semalam.

14. Perasaan dan pikiran terarah.

16. Tidak terlalu banyak bicara. Tidak bicara kotor dan berbicara seperlunya. Bila akan tidur hendaklah instropeksi diri sambil berdoa sebagaimana yang tertera di kalimat pembuka.

Dalam buku “Cipta Brata Manunggal” juga dipaparkan proses tingkat-tingkat manembah/sembah kepada Gusti. Berikut tingkatan itu:

A. SEMBAH RAGA yaitu tapaning badan jasad kita. Tubuh, jasad bergerak atas perintah batin. Batin diperintah oleh dua unsur, baik (nur Ilhiah) dan buruk (nar Iblis). Agar tubuh disiplin, terarah dan terkendali maka perlu dilatih. Tingkatnya adalah syariat. Tubuh tetap melakukan disiplin ibadah.

B. SEMBAHING CIPTA, di Islam dinamai Tarekat, sembahnya hati yang luhur. Untuk mencapai hati luhur perlu kesadaran nalar (logika). Diperlukan olah nalar yang bagus sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Tujuan sembah cipta adalah  mengerti akan “kasunyatan”. Ilmu pengetahuan harus dikuasai agar memiliki perbandingan baik dan buruk. Kebijaksanaan akan lahir bila kita mampu menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Memahami Ilmu Ketuhanan diperlukan syarat berupa cipta yang bersih dari hawa nafsu dan olah nalar yang mumpuni. Ilmu Ketuhanan adalah ilmu yang “sangat halus” yang bisa ditangkap dengan kegigihan memperhalus batin dan mentaati prinsip-prinsip berpikir yang lurus.

Tujuan dari sembah cipta itu mengendalikan dua macam sifat: angkara( yang menimbulkan watak adigang, adigung, adiguna, kumingsun dsb.) dan watak keinginan mengusai akan kepunyaan orang lain (kemelikan-jw). Cipta yang bersih yaitu kalau sudah bisa mengendalikan angkara murka, Tandanya bila cipta sudah “manembah”, yaitu waspada terhadap bisikan jiwa.

Jadi sembah itu intinya melatih cara kerja cipta, dengan cara Tata, Titi, Ngati ati, Telaten, dan Atul. Atul adalah pembiasaan diri agar mendarah daging menjadi kebiasaan dan watak yang akhirnya terbiasa mengetahui sejatinya penglihatan (sejatine tingal) yaitu Pramana, bisa dikatakan sampai kepada jalan sejati, yaitu penglihatan pramana (tingal pramana).

Tanda sudah sempurna sembah cipta adalah berda di dalam kondisi kejiwaan sepi dari pamrih apapun.  Seperti tidak ingat apapun itu pertanda sudah sampai batas, yaitu batas antara tipuan dan kenyataan (kacidran lan kasunyatan – jw), jadi sudah ganti jaman, dari jaman tipuan menjadi jaman kenyataan.

Rasa badan ketiga (saka penggorohan maring kasunyatan Rasaning badan tetelu), wadag astral dan mental tadi seketika tidak bekerja. Disitulah lupa, tetapi masih dikuati oleh kesadaran jiwa (elinging jiwa), dan waktu itu menjadi eneng, ening, dan eling.  Artinya eneng: diamnya raga, Ening : heningnya cipta, Eling: ingatnya budi rasa yang sejati.

C. SEMBAH JIWA. di Islam dinamai Hakekat. Kalau sudah bisa melaksanakan sembah cipta baru bisa melaksanakan sembah jiwa. Artinya: rasakan dengan menggunakan rasa “kasukman” yang bisa ditemui dalam eneng, ening dan eling tadi. Tandanya adalah semua sembah, panembah batin yang tulus tidak tercampuri oleh rasa lahir sama sekali.

Bila sudah melihat cahaya yang terang tanpa bisa dibayangkan tetapi tidak silau, pertanda telah sampai kepada kekuasaan “kasunyatan”(kesejatian), yang juga disebut Nur Muhamad, yaitu tiada lain Cahaya Pramana sendiri, karena dinamai pramana karena cahayanya yang saling bertautan dengan rasa sejati dan budi, disitu rasa jati dan budi akan berkuasa(jumeneng), sudah sampai kepada kebijaksanaan. Artinya kebijaksanaan merasa sampai mengerti yang melakukan semadi tadi, saling berkaitan tak terpisahkan dengan cahaya yang terang benderang yang tidak bisa dibayangkan.

D. SEMBAH RASA, di Islam dinamai Makrifat. Sembah rasa itu adalah mengalami Rasa Sejati. Inilah rasa manusia yang paling halus, tempat semua rasa dan perasaan dan bisa merasakan perlunya menjadi manusia  yang berbudi luhur dan menyadari bahwa dia adalah pribadi yang merupakan Wakil-Nya. Bahkan pada tahap akhir pemahaman makrifat, dia akan “menjadi” Tuhan itu sendiri (Gusti amor ing Kawulo). Rasa hidup adalah rasa Tuhan, rasa Ada, ya diri pribadi, bersatu tanpa batas dengan rasa semua ciptaan Nya. Tanda bila sudah mencapai kasunyatan, sudah hilang ilah-ilah yang lain hingga sampai mencapai TAUHID MURNI.

MENGENAL 7 CAKRA UTAMA KUNDALINI

4 Maret 2011

Mungkin ada yang bertanya atau belum mengerti apa itu
7 cakra utama kundalini mulai dari cakra dasar sampai ke cakra mahkota
Untuk itu saya minta ijin untuk menjelaskannya sebatas kemampuan saya , nanti kalau ada yang kurang monggo di pun tambahi.

Chakra berfungsi sebagai pintu keluar masuknya energi
eterik dari berbagai lapis tubuh. Apabila sebuah chakra tidak
berfungsi dengan baik, maka energi kotor tidak dapat dipompa keluar
dan energi bersih tidak dapat ditarik masuk. Dengan demikian organ-
organ tubuh di sekitarnya akan mendapat gangguan. Walaupun pada
tubuh terdapat banyak chakra-chakra, tetapi perhatian harus ditujukan
kepada ke 7 chakra utama, chakra lain akan membuka dengan sendirinya.

Ke 7 chakra utama sebagai berikut :

• Chakra Dasar terletak di ujung tulang ekor ke 3, dimana chakra ini
adalah pusat vitalitas, keinginan untuk hidup dan tubuh fisik.
Warna “cahaya berwarna merah”

• Chakra Sex yang dikenal juga sebagai pusat tubuh emosi, dimana
semua perasaan diproses.
Warna “cahaya berwarna oranye”

• Chakra Pusat diasosiasikan dengan “tubuh mental”, yang
mengontrol seluruh pikiran pendapat dan penilaian.
Warna “cahaya berwarna kuning”
.
• Chakra Jantung sebagai chakra keempat dikenal sebagai pusat
tubuh intuisi, dimana chakra jantung ini adalah pusat dari cinta
kasih, kasih sayang seluruh perasaan yang positif dan halus.
Warna “Cahaya hijau muda atau merah muda. Hijau
muda berfungsi untuk pengobatan, merah muda untuk cinta kasih
dapat digunakan secara bergantian.

• Chakra Tenggorokan sebagai chakra ke-lima,
merupakan pusat
“tubuh atma” yang terletak di tenggorokan di lokasi pita suara,
cahaya yang dipergunakan berwarna “biru laut

• Chakra mata Ketiga (Chakra Ajna) sebagai chakra ke-enam
yang biasa juga disebut “chakra antara kening”, dimana
merupakan pusat “tubuh cahaya atau tubuh monad”.
cahaya berwarna “Lembayung Muda”

• Chakra Mahkota sebagai chakra utama ke-tujuh terletak di puncak
kepala, pada tahun sebelum tahun 1970 jarang disebut karena
sukar sekali dibuka. Dengan terbukanya “Chakra Mahkota Alam
Semesta” antara tahun 1970 maka imbasnya “chakra mahkota”
dapat dibuka dengan sama mudahnya dengan chakra utama yang
lain. Warna “Cahaya Putih” yang terang

Itu yang bisa saya sampaikan mudah-mudahan bisa bermanfaat
Amin

TUNGGAL RASA KAWULA GUSTI

4 Maret 2011

UNSUR PEMBENTUK DIRI MANUSIA

Sajatine Ingsun Dat kang amurba amisesa,
kang kuwasa anitahake sawiji-wiji,
dadi padha sanalika,
sampurna saka ing kodrating-Sun,
ing kono wus kanyatahan Pratandhaning apngaling-Sun,
minangka bubukaning iradating-Sun,
kang dhingin Ingsun anitahake kayu,
aran sajaratul yakin,
tumuwuh ing sajroning ngalam
ngadam-makdum ajali abadi,
nuli cahya aran Nur Muhammad,
nuli kaca aran miratul kayai,
nuli nyawa aran roh ilapi,
nuli dammar aran kandil,
nuli sosotya aran darrah,
nuli dhinding jalal aran kijab,
kang minangka warananing kalarating-Sun

(Sesungguhnya Aku Dzat yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa,
yang berkuasa menciptakan sesuatu, terjadi dalam seketika,
sempurna lantaran kodratku, sebagai pertanda perbuatan-Ku,
merupakan kenyataan kehendak-Ku, Mula-mula Aku menciptakan
hayyu bernama sajaratul yakin, tumbuh dalam alam makdum yang azali abadi, setelah itu cahaya bernama Nur Muhammad, kemudian kaca bernama miratul kayai, selanjutnya nyawa bernama roh idlafi, lampu bernama kandil, lalu permata bernama dharrah, kemudian dinding jalal bernama hijab, yang menjadi penutup kehadirat-Ku.)

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita tersebut, termuat urutan kejadian Dzat dan Sifat dan Af’al (perbuatan) Tuhan. Yang dimaksud dengan AKU atau INGSUN dalam serat itu tidak lain adalah diri Dzat yang Mutlak. AKU sang Diri Sejati itu mulanya “tersembunyi” atau dumunung di Nukat Ghaib. Nukat artinya Wiji sedangkan Ghaib artinya samar. AKU atau INGSUN kemudian berniat menyatakan diri sebagai PENCIPTA SEGALA SESUATU.

“Niat Ingsun….” begitu doa orang Jawa biasa diucapkan adalah meniru apa yang disampaikan Tuhan untuk memulai proses-proses penciptaan. Akhirnya dimulailah ketujuh pangkat penjelmaan Dzat (tujuh martabat) yang disimbolisasikan ke dalam khasanah Jawa dengan Pohon Dunia, Cahaya, Cermin, Wajawa (roh Idhafi), Dian (kandil), permata (dharrah), dinding jalal (penjelmaan insan kamil).

Keberadaan Dzat Tuhan itu ibarat CERMIN YANG AMAT JERNIH atau KACAWIRANGI. Yaitu DIRI yang diliputi kekosongan yang berisi TYAS CIPTA HENING. Cermin itu tidak ada bandingannya, tidak punya rupa, warna, kosong tidak ada apa-apanya. Namun adalah kesalahan bahwa kekosongan Dzat Tuhan adalah TIDAK ADA, sebab CERMIN itu TETAP ADA.

Ki Soedjonoredjo penulis buku Wewadining Rasa mengatakan kesalahan anggapan bahwa TUHAN ITU TIDAK ADA, sebagai berikut: Mbok menawa ana sawenehing manungso kang kliru ora percaya marang anane kang murbeng alam. Dadi ananing dhirine lan anane kang gumelar gumandhul karang kabeh, kaanggep gumandul marang suwung kang mangkono iku umpamakna nganggep suwung marang warna rupaning kaca benggela, satemah kaca benggala dipadhakake karo kothongan kang pancen suwung babar pisan. Apa iku bener?”

Wujud cermin sejati atau kacawirangi adalah “wangwung”, tidak ada apa-apa. Pantas bila orang lalu menganggapnya tidak ada sebab cermin itu terlihat begitu jernih, seperti tidak adanya rupa apapun. Tapi cermin itu tetap ada. CERMIN SEJATI ITU SATU TAPI TIDAK TERHINGGA JENIS DAN BILANGANNYA.

Orang yang hubungan MIKROKOSMOS dan MAKROKOSMOS nya masih kacau cenderung menganggap cermin itu tidak ada. Padahal, Hakikat Cermin adalah daya tunggal getar kodrat yang harmonis. Semua yang tunggal daya juga tunggal rasa. Misalnya daya tunggal yang disebut pengelihatan, itu tidak sama dengan dengan pendengaran. Daya tunggal-daya tunggal yang tiada batas jenis dan bilangannya itu dibingkai oleh keadaan sejati.

Di dalam buku Dewa Ruci (Yasadipura) terdapat inti ajaran mengenai “cermin” tersebut di atas sebagai berikut: “Badan njaba wujud kita iki, badan njero mungguwing jroing kaca, ananging dudu pangilon, pangilon jroning kalbu yeku wujud kita pribadi, cumithak jro panyipta, ngeremken pandudu, luwih gedhe barkahira, lamun janma wus gambuh ing badan batin, sasat srisa bathara”

Kisah Dewaruci ini adalah inti Sangkan Paraning Dumadi, sekaligus sebagai pengungkapan ajaran Kawulo Gusti sampai kepada jarak yang sedekat-dekatnya yang dikenal sebagai PAMORING KAWULO GUSTI atau JUMBUHING KAWULO GUSTI. Ajaran tentang sangkan paraning dumadi yang dilaksanakan sebagai pedoman hidup praktis sehari-hari, sebagaimana yang terungkap dalam buku Jati Murti itu merupakan ajaran yang mudah dipahami. Sisi praktisnya terungkap dalam pernyataan yang sering disampaikan oleh Ki Damardjati Supadjar:

“Ora perlu kabotan tresna marang daden-daden, tresnaa marang sing dadi. Nanging aja gething marang daden-daden, sebab ing kono ana sing dadi”

Pernyataan ini, kata Ki Damardjati, menjelaskan hubungan antara KEJADIAN dan YANG MENJADIKAN, atau YANG DIRASA dengan YANG MERASA. Yang menghubungkan keduanya adalah RASA. Alam semesta ini adalah yang dirasakan, bukan rasa atau yang merasakan. Yang digunakan untuk merasa ialah rasa bukan yang dirasakan atau yang merasakan. Jadi, kenyataan sejati itu bukan yang dirasakan atau bukan yang dipergunakan untuk merasa, melainkan yang merasa. Yang dirasa disebut MAKROKOSMOS, yang dipakai merasa disebut MIKROKOSMOS. Yang merasa disebut KENYATAAN SEJATI.

Di dalam hubungan ini, ada tiga kemungkinan pengalaman yaitu LUPA, INGAT dan INGATAN SEMPURNA. Lupa = larut ke yang dirasakan, tidak memperhatikan rasanya, apalagi yang merasa. Ingat = waspada tentang rasa, tidak larut ke yang dirasakan. Ingatan sempurna = waspada terhadap yang merasa, tidak larut ke rasanya apalagi yang dirasakan.

Dalam filsafat ketuhanan Jawa, hubungan Manusia dan Tuhan (Kawulo-Gusti) memiliki makna sangat mendalam. Manusia harus merasakan benar-benar bahwa dirinya adalah hamba-Nya atau KUMAWULA yang artinya dirinya merupakan cermin yang sejati, sehingga Tuhan dan bayangan-Nya sungguh-sungguh tidak terhalang oleh kotoran sedikitpun. Hal ini ditandai oleh koreksi terus menerus atas diri “aku” manusia sehingga mencapai kualitas PRAMANA.

Diungkapkan oleh Ki Damardjati, ketika rasa perasaan belum jernih, adalah rasa perasaan itu yang dianggap PRIBADI oleh si rasa perasaan. Artinya si rasa perasaan mengaku aku supaya dianggap: AKU. Jadi rasa perasaan manusia itu ternyata memang tidak bisa melihat yang meliputinya. Jadi dalam perbuatan MERASA, bahkan menghalang halangi. Karenanya, dapatnya manusia melihat terhadap yang meliputinya, tidak ada jalan lain kecuali TIDAK dengan MERASA, yaitu RASA PERASAAN KEMBALI KEPADA YANG MELIPUTI (Pribadi/Rasa Sejati). Apabila sudah tidak terhalang daya rasa perasaan, maka hanya PRIBADI yang ADA, disitulah baru mengetahui terhadapi DIA, yaitu yang MEMILIKI RASA PERASAAN, bukan RASA PERASAAN YANG DIPUNYAI.

Sultan Agung menerangkan perbedaan antara Kawulo Gusti dengan perantaraan 16 terminologi yang memperjelas hubungan antara Gusti (YANG DISEMBAH) dan Kawulo (YANG MENYEMBAH) sebagai berikut: Dzat-sifat, Rasa-pangrasa, Cipta-ripta, Yang disembah-yang menyembah, Kodrat-iradat, Qadim-baru, Sastra-gendhing, Yang Bercermin-bayangannya, Suara-gema, Lautan-ikan, Pradangga-gendhingnya, Papan Tulis-tulisannya, Manikmaya-Hyang Guru, Dalang-wayang, Busur-anak panah, Wisnu-kresna.

Dalam konteks pencapaian pribadi manusia tertinggi atau “pamungkasing dumadi” atau “sampurnaning patrap” adalah LULUHING DIRI PRIBADI, LULUHING RAOS AKU. Itulah pamungkasing dumadi, di situ lenyap tabir kenyataan yang sebenarnya.

Manusia yang sempurna dengan demikian adalah manusia yang luluhnya “aku” yang “diengkaukan” (krodomongso) digantikan dengan “aku” yang tidak mungkin diengkaukan (dudu kowe).

Hubungan antara Kawulo-Gusti ini, akan ditutup dengan pernyataan Ranggawarsita: “Sakamantyan denira angudi, widadaning ingkang saniskara, karana tan kena mleset, surasaning kang ngelmu, nora kena madayeng jangji, jangjine mung sapisan, purihen den kumpul, gusti kalawan kawula, supadine dinadak bisa umanjing, satu munggwing rimbagan” (Upaya untuk mencapai pemahaman haruslah terus menerus sepanjang hidup, agar tercapai keselamatan lahir-batin, yaitu KESESUAIAN HUKUM TUHAN, sebagai suatu janji, bahwa MANUSIA ITU WUJUD PERTEMUAN KAWULA GUSTI, artinya WAKIL TUHAN, sedemikian rupa seperti cincin permata).

Sebagai Wakil Tuhan di alam semesta, manusia telah diberi berbagai perangkat lunak sehingga dia bisa berhubungan secara langsung dan berkomunikasi dengan Tuhan sebagai GURU PALING SEJATI MANUSIA. Dalam Wirid Hidayat Jati dipaparkan ada tujuh unsur pokok penyusun diri manusia itu:

1. Hayyu (hidup) = disebut ATMA, terletak di luar DZAT
2. Nur (cahaya) = disebut PRANAWA terletak di luar Hayyu
3. Sir (Rahsa) = disebut PRAMANA terletak di luar Nur
4. Roh (Nyawa) = disebut Suksma, terletak diluar Rahsa
5. Nafs (Angkara) = letaknya di luar suksma
6. Akal (budi) =letaknya diluar nafsu
7. Jasad (badan) = letaknya di luar budi.

Keterangan: Ada keterpaduan antara unsur di atas yaitu:
• Suksma wahya = patemoning jasad lan napas
• Suksma dyatmika = patemoning napas lan budi
• Suksma lana = patemoning budi lan napsu
• Suksma mulya = patemoning napsu lan nyawa
• Suksma sajati =patemoning nyawa lan rahsa
• Suksma wasesa = patemoning rahsa lan cahya
• Suksma kawekas = patemoning cahya lan urip

Penutup:
Terdapat kesulitan memahami hakekat hubungan antara Kawulo-Gusti dalam jagad filsafat ketuhanan Jawa bila kita hanya membaca dengan kemampuan akal budi. Dalam ajaran Jawa, kita diajari untuk melakukan praktik mistik dengan kepercayaan yang benar-benar penuh sehingga terwujud harmoni dan kesatuan dengan tujuan kosmos. Ini akan membuahkan kondisi-kondisi fisik dan metafisik yang bermanfaat bagi kita semua. Tuhan bersemayam di unsur terdalam pada diri manusia sehingga “Kenalilah diri sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”

WIRID SASAHIDAN

4 Maret 2011

Dengan memohon ampunan pada-NYA dan memohon ridho_NYA semata maka kami buka kepada sedulurku semua yang ingin mengamalkan yaitu wirid sasahidan, wirid merasakan “manunggaling kawulo lan gusti”.

Ini jenis amalan SIRR/wirid yang diucapkan dalam hati. Setelah bersaksi dalam batin yang ucapannya di bawah ini maka lanjutkan dengan langkah selanjutnya yaitu ZIKIR RAHSA, yaitu untuk merasakan MATI DALAM HIDUP (MATI SAJRONING URIP) dan HIDUP DALAM MATI (URIP SAJRONING LAMPUS). Sehingga tercapai kesatuan hati, pikiran dan rasa hidup untuk menghubungkan antara kehendak kita dengan KUN FAYAKUN-nya….

(1) SAKSI BATIN,
Baca sebagai berikut…
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM….
“INGSUN ANEKSENI ING DATINGSUN DHEWE
SATUHUNE ORA ANA PANGERAN AMUNG INGSUN
LAN NAKSENI SATUHUNE MUHAMMAD IKU UTUSANINGSUN
IYA SEJATINE KAN ARAN ALLAH IKU BADANINGSUN
RASUL IKU RAHSANINGSUN
MUHAMMAD IKU CAHYANINGSUN
IYA INGSUN KANG URIP TAN KENA ING PATI
IYA INGSUN KANG ELING TAN KENA LALI
IYA INGSUN KANG LANGGENG ORA KENA OWAH GINGSIR ING KAHANAN JATI
IYA INGSUN KANG WASKITHA ORA KASMARAN ING SAWIJI WIJI
IYA INGSUN KANG AMURBA AMISESA, KANG KAWASA WICAKSANA ORA KUKURANGAN ING PANGERTI, BYAR…
SAMPURNA PADHANG TERAWANGAN
ORA KRASA APA-APA
ORA ANA KATON APA-APA
MUNG INGSUN KANG NGLIMPUTI ING ALAM KABEH
KALAWAN KODRATINGSUN”

( 2) . Lanjutkan dengan langkah berikut ini satukan pancaindera, katupkan kedua bibir, mata terpejam arahkan ke ujung hidung. Satukan denyut jantung dan atur nafas. Masuk dan keluarkan nafas dengan pelan jangan sampai tergesa-gesa. Rasakan masuknya nafas sambil ucapkan di batin HUUU… hentikan nafas dan tahan sejenak. Biarkan nafas keluar dan rasakan alirannya sambil batin berucap YAAA….. lakukan sebelum matahari terbit 15-30 menit setiap hari.

HUU dan YAA adl isbat al yaqin, yaitu kepastian bhw Allah SWT itu SATU dan MANUNGGAL dalam KEMAHAESAANNYA


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.